putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Menyembuhkan

judi

Cara Menyembuhkan Trauma untuk Kesehatan Mental yang Lebih baik

Halo, Perseners! Kali ini kita akan membahas topik yang sering dianggap tabu, tapi penting untuk kita pahami bersama: trauma. Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, mengenal dan memahami trauma menjadi kunci untuk mengatasi berbagai tantangan hidup.

Trauma adalah respons emosional terhadap peristiwa yang mengerikan, seperti kecelakaan, pemerkosaan, atau bencana alam. Pengalaman traumatis ini bisa meninggalkan efek jangka panjang pada kesehatan mental, emosional, dan fisik seseorang.

Trauma bisa timbul dari kejadian atau serangkaian peristiwa yang mengganggu emosional atau mengancam jiwa, termasuk pengalaman seperti pelecehan fisik, seksual, dan emosional, pengabaian masa kecil, hidup bersama anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental atau penyalahgunaan zat, pemisahan tiba-tiba dari orang terkasih, kemiskinan, atau paparan rasisme, diskriminasi, dan penindasan.

Beberapa reaksi umum terhadap trauma meliputi: Syok dan penolakan segera setelah peristiwa, Emosi yang tak terduga, kilas balik, dan hubungan yang tegang, Gejala fisik seperti sakit kepala atau mual, PTSD: Gangguan Pasca-Trauma.

Beberapa orang mungkin mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD), yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan pengobatan untuk trauma sering melibatkan terapi kognitif-perilaku (CBT), terapi psikodinamik, terapi sensorimotor, pemrosesan dan desensitisasi gerakan mata (EMDR), dan pengobatan farmakologis.

Perawatan yang peka terhadap trauma, yang sensitif terhadap gejala trauma sebagai strategi mengatasi, juga bermanfaat bagi pasien. Faktor pelindung, seperti hubungan yang mendukung dengan anggota keluarga, guru, atau orang lain di komunitas, dapat membantu melindungi lo dari efek trauma.

Mengapa kita membahas ini? Karena dengan memahami trauma, kita bisa lebih peka terhadap pengalaman orang lain dan diri kita sendiri. Ini bukan hanya tentang “mengatasi” tapi tentang memahami, memberikan dukungan, dan mencari jalan keluar bersama.

Penyebab Luka pada Pengalaman Traumatis

Perseners, Pengalaman traumatis dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan situasi. Ini termasuk kecelakaan, kekerasan atau pelecehan berkepanjangan, bencana alam, penyakit serius, atau hidup dalam lingkungan yang tidak stabil atau tidak aman. Trauma juga bisa terjadi karena melihat orang lain terluka, seperti dalam pekerjaan yang sering terpapar dengan kejadian traumatis.

Reaksi Tubuh terhadap Trauma

Ketika mengalami trauma, tubuh kita bereaksi dengan cara tertentu. Reaksi ini dikenal sebagai respons ‘fight or flight’, yang menyebabkan gejala fisik seperti peningkatan tekanan darah, detak jantung yang lebih cepat, keringat yang meningkat, dan penurunan aktivitas lambung. Reaksi ini adalah mekanisme bertahan hidup yang otomatis dan kita tidak memiliki kontrol atasnya.

Dampak Jangka Panjang dari Trauma

Jika perasaan ini terus berlanjut setelah trauma berakhir, ini bisa berubah menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan depresi. Trauma juga dapat membuat kita lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental lainnya dan dapat menyebabkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam menjaga hubungan dan pekerjaan.

Mendapatkan dukungan dan waktu untuk pulih dari peristiwa traumatis sangat penting untuk kembali meraih kesejahteraan emosional dan mental. Anak-anak dan remaja mungkin juga mengalami reaksi yang ekstrem terhadap peristiwa traumatis, tetapi gejala mereka mungkin berbeda dari orang dewasa.

Cara Menyembuhkan Luka Akibat Trauma

Perseners! Setelah memahami tantangan dalam menghadapi trauma, mari kita bahas strategi penyembuhan dari luka akibat trauma.

  1. Mencari Dukungan: Penting untuk mencari dukungan dari teman, keluarga, atau grup pendukung. Berbicara tentang perasaan dan pengalaman lo dengan orang lain dapat memberikan kenyamanan dan validasi.
  2. Mengembangkan Strategi Penanggulangan yang Positif: Melibatkan diri dalam strategi penanggulangan positif seperti mindfulness, olahraga, dan teknik relaksasi dapat membantu mengelola emosi dan mengurangi stres.
  3. Mengatur Diri: Mengidentifikasi cara untuk mengatur diri sendiri dan menenangkan diri, bahkan ketika sendirian, sangat penting dalam mengelola kegelisahan yang terkait dengan trauma.
  4. Merawat Kesehatan Fisik: Merawat kesehatan fisik, seperti mendapatkan cukup tidur, makan diet sehat, dan menghindari alkohol dan obat-obatan, dapat membantu mengatasi trauma dan gejalanya dengan lebih baik.
  5. Keselamatan Emosional: Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk diri sendiri penting dalam mengatasi trauma. Ini bisa melibatkan menetapkan batasan, mencari tempat aman, dan terlibat dalam aktivitas yang memberikan kenyamanan dan kegembiraan.
  6. Pengobatan Profesional: Bagi lo dengan gejala stres pasca-trauma, mencari pengobatan dari profesional kesehatan mental penting. Terapi dapat membantu lo memproses traumanya dan mengembangkan strategi penanggulangan yang sehat.

Mengatasi trauma memerlukan kombinasi dari perawatan diri, dukungan sosial, dan pengobatan profesional. Penting bagi lo untuk bersabar dan baik kepada diri sendiri saat mereka menavigasi tantangan penyembuhan dari trauma.

Manfaat Sembuh dari Trauma

Trauma seringkali dianggap sebagai pengalaman negatif yang membawa dampak buruk. Namun, melalui proses penyembuhan, trauma dapat membuka pintu menuju berbagai manfaat positif yang signifikan.

  1. Pertumbuhan Pasca-Trauma: Seseorang yang berhasil mengatasi trauma seringkali mengalami apa yang disebut pertumbuhan pasca-trauma. Ini mencakup perubahan positif seperti pembentukan hubungan yang lebih kuat dengan orang lain, kesadaran yang lebih besar akan kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidup, peningkatan kekuatan pribadi, dan pertumbuhan spiritual. Pertumbuhan ini seringkali membawa kepada perubahan yang berarti dalam cara seseorang memandang dunia dan diri mereka sendiri.
  2. Peningkatan Kesehatan Mental: Proses penyembuhan trauma membantu lo mengatasi peristiwa traumatis dan mengurangi risiko PTSD. Hal ini memungkinkan seseorang untuk lebih mengendalikan emosi mereka dan menghadapi tantangan hidup dengan cara yang lebih sehat dan produktif. Menjadi lebih sadar akan emosi dan cara mengatasinya merupakan langkah penting dalam perbaikan kesehatan mental secara keseluruhan.
  3. Pemahaman Diri: Proses penyembuhan trauma membantu seseorang dalam menjelajahi dan memahami diri mereka sendiri pada level yang lebih dalam. Ini termasuk mengakui dan menerima pengalaman traumatis yang dialami. Proses ini seringkali membuka pintu untuk pemahaman diri yang lebih baik, mendorong lo untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi.
  4. Meningkatnya Daya Spiritual: Banyak yang menemukan bahwa pemulihan dari trauma juga membawa peningkatan dalam aspek spiritual mereka. Ini bisa berupa koneksi yang lebih dalam dengan keyakinan atau nilai-nilai pribadi, atau penemuan arti yang lebih dalam dalam kehidupan.
  5. Mengurangi Risiko Masalah Kesehatan: Penyembuhan trauma juga bisa memiliki manfaat fisik, seperti mengurangi risiko masalah kesehatan yang berkaitan dengan stres dan tekanan emosional, termasuk masalah kulit dan gangguan psikosomatik lainnya.
  6. Meningkatnya Resiliensi: Salah satu manfaat terbesar dari penyembuhan trauma adalah pengembangan resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan untuk pulih dari kesulitan, dan melalui proses pemulihan, seseorang dapat belajar bagaimana menghadapi tantangan dengan cara yang lebih efektif dan adaptif.

Kesimpulan

Perseners! Kita telah mengeksplorasi berbagai aspek penyembuhan dari trauma, mulai dari pengenalan manfaatnya, hingga strategi dan langkah-langkah pemulihan. Penting untuk mengingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan unik dalam menghadapi dan menyembuhkan luka trauma.

Memahami manfaat penyembuhan dari trauma membuka jendela pemahaman tentang pentingnya menghadapi dan mengatasi pengalaman traumatis. Proses ini tidak hanya membantu kita pulih dari dampak negatif trauma tetapi juga membawa pertumbuhan dan pengembangan diri yang positif.

Sekarang, saatnya untuk mengambil langkah konkret. Jika lo merasa perlu mendapatkan bantuan lebih lanjut dalam proses penyembuhan trauma, Kami menyediakan layanan konseling yang dapat diakses dengan mudah. Yuk, klik di sini untuk mendaftar dan mendapatkan dukungan yang lo butuhkan.

Ingat, meminta bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Dengan dukungan yang tepat, kamu bisa menemukan jalanmu kembali ke kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih baik. Jangan ragu untuk mengambil langkah ini dalam perjalanan penyembuhan lo.

Referensi:

  1. Herman, J. L. (1997). Trauma and Recovery. New York: Basic Books.
  2. van der Kolk, B. A. (2014). The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. New York: Penguin Books.
  3. Courtois, C. A., & Ford, J. D. (Eds.). (2013). Treating Complex Traumatic Stress Disorders: An Evidence-Based Guide. New York: Guilford Press.
  4. Najavits, L. M. (2014). Seeking Safety: A Treatment Manual for PTSD and Substance Abuse. New York: Guilford Press.
  5. Briere, J. N., & Scott, C. (2015). Principles of Trauma Therapy: A Guide to Symptoms, Evaluation, and Treatment. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
  6. Follette, V. M., & Pistorello, J. (Eds.). (2016). Finding Life Beyond Trauma: Using Acceptance and Commitment Therapy to Heal from Post-Traumatic Stress.
  7. Schiraldi, G. R. (2016). The Post-Traumatic Stress Disorder Sourcebook: A Guide to Healing, Recovery, and Growth. New York: McGraw-Hill Education.
  8. van der Kolk, B. A., Stone, L., West, J., Rhodes, A., Emerson, D., Suvak, M., & Spinazzola, J. (2014). Yoga as an Adjunctive Treatment for Posttraumatic Stress Disorder.
  9. Resick, P. A., Monson, C. M., & Chard, K. M. (2016). Cognitive Processing Therapy for PTSD: A Comprehensive Manual. New York: Guilford Press.
  10. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). Washington, DC: Author.
Read More
judi

Cara Menyembuhkan Luka Batin

self healing
self-healing

Halo, aku Rebecca, penulis di Satu Persen.

“Kamu nggak boleh sedih, banyak loh orang yang nggak seberuntung kamu”

“Jangan grogi gitu dong, percaya diri kunci keberhasilan lho”

Kedua pernyataan di atas mungkin sering kamu dengar, baik dari teman atau bahkan diri sendiri, ketika perasaanmu sedang buruk. Kamu diminta untuk selalu berpikiran positif—harus selalu mampu melihat sisi baik dalam segala hal.

Niatnya mungkin baik, supaya kamu dapat lepas dari segala emosi negatif dengan melihat aspek-aspek yang perlu disyukuri dalam hidupmu.

Namun, entah mengapa, kamu justru merasa lebih sedih dan tertekan mendengarnya. Mengapa ya demikian? Sebenarnya, apa sih hal yang benar-benar mampu membuatmu merasa lebih baik?

Self-healing adalah kunci merasa lebih baik

Ternyata, menyembuhkan perasaaan yang kurang menyenangkan itu sumbernya tetap dari diri sendiri, lho. Artinya, apapun pengaruh di luar dirimu yang diberikan terhadapmu untuk membuatmu merasa lebih baik, pandanganmulah yang menentukan apakah pengaruh itu berhasil atau tidak.

Bagaimana caramu melihat suatu masalah dan perasaanmu saat menghadapi masalah itu adalah aspek yang berperan penting untuk memulihkan kondisimu. Oleh karena itu, self healing sebenarnya adalah kunci untuk pemulihan diri.

Kemudian, otak kita juga memiliki mekanisme untuk mengatasi emosi negatif. Jika kamu sering mendengar quotes “Waktu dapat menyembuhkan luka”, sebenarnya penyembuhnya bukan waktu, melainkan kamu sendiri.

Lho, kok bisa? Yap, dengan tindakanmu melupakan dan berdamai dengan itu seiring berjalannya waktu. Melalui tindakan demikian, otak kita membantu kita lepas dari perasaan-perasaan buruk dan lekat dengan perasaan-perasaan baik yang bermakna untuk kita.

Dalam menanggapi pengalaman yang kurang mengenakkan, otak kita secara otomatis kerap mencari alasan untuk membuatnya seakan keputusan yang tepat. Bahkan, otak kita juga kerap menambahkan bumbu-bumbu di ingatan kita sehingga ingatan-ingatan kita terkenang makin baik.

Makanya, kadang nostalgia masa lalu itu terasa sangat manis, bahkan jauh lebih manis dari saat kita benar-benar merasakannya saat itu. Intinya, sebenarnya kita sendiri sudah punya “alat” untuk mengatasi hal tersebut, lho.

Baca juga: Toxic Positivity: Niatnya Baik, Malah Bikin Buruk

Namun, Mengapa Rasanya Sulit?

Kuncinya hanya satu: Kamu harus sadar bahwa mekanisme ini butuh proses. Kita tidak akan merasa lebih baik dengan memaksa diri kita menjadi baik saat itu juga.

Kata-kata seperti yang disampaikan dalam ilustrasi di atas justru tidak akan membantu kita menerimanya dengan baik, tetapi justru membuat kita menyangkal situasi yang ada.

“Aku nggak boleh sedih, aku harus bersyukur. Perasaan sedihku itu salah” justru tidak akan membuatmu berhasil bersyukur saat itu juga, malah akan membuatmu makin tertekan dan tenggelam dalam kesedihan.

Kamu tertekan karena merasa helpless— tidak mampu melakukan yang seharusnya kamu kerjakan. Kamu sedih karena kamu tidak dapat memenuhi standar yang seharusnya bisa kamu lakukan.

Itu membuatmu merasa lemah dan payah. Situasi ini akan membuatmu jauh tidak baik.

Lalu kamu bertanya, bukankah memang yang diharapkan adalah agar aku tidak sedih ya? Mengapa cara itu salah?

Yap, benar. Kita mengharapkan suatu saat emosi negatif akan berganti positif. Namun, kamu harus tahu, bahwa emosi negatif itu pasti ada—malah merupakan emosi yang wajar sebagai tanggapan dari suatu kejadian. Mau sekuat apapun kamu memaksanya untuk hilang dari dirimu, emosi negatif juga adalah respons dari tubuhmu akibat suatu impuls dan hal ini sangat biasa terjadi.

Baca juga: Pikiran Negatif Merusak Hidup Positif

Justru, ketika kamu memaksanya hilang, kamu mengambil posisi melawan respons alami yang tidak dapat dihilangkan dan bahkan melawan dirimu sendiri.

Kenyataan ini membuatmu semakin tertekan dan semakin sedih. Perasaan helpless, lemah, payah, dan perasaan lainnya justru akan membuatmu merasa semakin buruk.

#36 – Manajemen Emosi – Satu Persen Podcast

Tapi, Dunia Ini Tidak untuk Orang Lemah Sepertiku?

Pertanyaan ini sering sekali muncul karena kita punya konsep diri ideal yang sangat rinci dan terdengar hebat—kadang malah terdengar tidak manusiawi. Kamu merasa harus terdengar hebat, kuat, dan optimis dalam keadaan apapun karena itu yang dicirikan dalam diri orang hebat.

Karena kamu berpikiran seperti ini, kamu menghambat dirimu untuk mengekspresikan apa yang benar-benar kamu rasakan secara bebas. Kamu berusaha senang meskipun sebenarnya kamu tidak senang dan kamu takut mengungkapkan itu kepada orang lain.

Hal ini, dinyatakan dalam Dr. Max Hammer dalam bukunya Psychological Healing Through Creative Self-Understanding and Self-Transformation, memicu rasa hampa dan ketidakpuasan dalam hidup. Alhasil, rasa sedihmu justru bertambah.

Baca juga: Mengatasi Rasa Hampa dan Kosong

Lalu, Bagaimana Cara Melakukan Self Healing?

Menurut professor psikologi klinis, Max Hammer, PhD,  ada beberapa hal nih yang bisa kamu lakukan untuk memaksimalkan kemampuan self-healing-mu agar merasa lebih baik. Berikut tiga cara yang bisa kamu lakukan:

1. Jujurlah kepada diri sendiri

Kamu sekarang tahu bahwa emosi negatif adalah suatu hal yang juga bagian dari hidupmu dan manusia lainnya. Jadi, jujurlah kepada diri sendiri ketika kamu merasakannya.

Kamu tidak perlu menutupi perasaanmu karena embel-embel “seharusnya kan” yang ada di sekitarmu—atau bahkan dalam dirimu sendiri. Apapun yang kamu rasakan, coba untuk menerima perasaan itu.

2. Maknai terhadap yang kamu rasakan

Apa pun yang terjadi dalam hidup ini sering berada di luar kontrol kita. Namun, ada satu hal yang bisa kita kendalikan, yaitu cara kita memandangnya. Segala kesedihan yang kita rasakan dapat kita jadikan pelajaran berharga dengan memandangnya sebagai tahap untuk menjadikan kita lebih baik.

Setelah kamu jujur dengan perasaanmu sendiri, kamu dapat melakukan stop and think, diam sejenak dan berpikir sejenak, tentang apa yang kamu rasakan dan apa yang menurutmu memicu perasaan itu.

Misalnya, ketika kamu marah, kamu dapat mencari penyebab amarahmu itu. Apakah itu karena kamu merasa dikucilkan? Apakah itu karena kamu lelah dengan situasi yang telah terjadi setelah bertubi-tubi?

Lalu, apakah yang dapat kamu pelajari dari tindakan marahmu itu? Apakah kamu rasa marah membuatmu berhasil menyatakan apa yang ada di dalam benakmu dengan baik? Atau, justru itu tidak berhasil menyampaikan pesan yang kau maksud?

Pemahaman bahwa segala yang terjadi punya maksud dan tujuan dapat membuatmu merasa lebih baik. Mencari makna bukanlah hal yang mudah, kamu sangat boleh berbagi cerita dengan teman yang kamu percaya atau berkonsultasi dengan psikolog untuk membantumu lebih baik dalam melakukannya.

Baca juga: Cara Mengontrol Emosi

3. Lepaskan kesedihan masa lalu

Setelah kamu menemukan makna dari kesedihanmu itu, barulah kamu dapat move on dengan baik. Ingat, jangan berusaha melepaskan kesedihan sebelum memulai dua tahapan di atas. Itu namanya bukan melepaskan kesedihan, tetapi melarikan diri.

Mencari kegiatan yang memuaskan dirimu secara sementara tanpa benar-benar berdamai dengan keadaanmu memang rasanya menenangkan, tetapi ketenangan itu tidak akan berlangsung lama.

Akibatnya, kamu justru akan ketergantungan dengan pelarianmu itu setiap kali teringat perasaaan burukmu. Jadi, pastikan kamu sudah benar-benar berdamai sebelum melepaskan, ya!

Nah, sekarang kamu sudah tahu bahwa menyembuhkan perasaan negatif itu datangnya dari diri sendiri. Meskipun demikian, untuk dapat melakukan pemaknaan dengan baik, kamu juga dapat meminta bantuan teman atau psikolog dengan mengikuti Konseling di Satu Persen untuk membantumu melihat persoalan dengan lebih baik.

Kamu bisa mengetahui kondisi kesehatan mentalmu belakangan ini dengan mencoba Tes Sehat Mental. Selain itu, kamu juga bisa ikutan layanan kelas online dari Satu Persen. Di sini kamu akan mendapatkan akses video yang bisa kamu tonton kapanpun dan di manapun! Caranya gimana? Cek aja gambar di bawah ini!

Kelas-online-berdamai-dengan-diri-sendiri

Untuk membantumu move on dengan baik, kamu bisa membaca artikel Satu Persen tentang move on. Kamu juga dapat belajar lebih lanjut tentang bagaimana menghargai diri sendiri dengan nonton video di bawah ini.

Mengatasi emosi negatif memang sulit, tetapi semoga artikel ini bisa membantu kamu menjadi lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya!

self-healing

Referensi:

Hammer, D. J., & Butler, D. C. (2014). 1. In D. Hammer (Author), Psychological Healing Through Creative Self-Understanding and Self-Transformation (pp. 1-46). Houston, Texas: Publish on Demand Global LLC.

Selective Memory – Why Do We Remember Some Things And Not Others? (2018, April 16). Retrieved July 26, 2020, from https://exploringyourmind.com/selective-memory-why-do-we-remember-some-things-and-not-others https://exploringyourmind.com/selective-memory-why-do-we-remember-some-things-and-not-others/

Read More