putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Mengelola

judi

Cara Mengelola Stres Akibat Tekanan Kerja

Halo Perseners! Kali ini, gue mau ngajak lo semua untuk membongkar salah satu misteri dunia kerja yang sering terabaikan: tekanan kerja. Banyak yang mengira tekanan kerja itu biasa aja, tapi sebenarnya, dampaknya bisa luar biasa besar loh, bahkan sampai menyebabkan stres!

Di zaman yang serba cepat dan penuh persaingan ini, kita semua kayaknya udah terbiasa dengan istilah “banyak kerjaan”. Tapi, pernah nggak sih lo berhenti sejenak dan tanya, “Ini semua buat apa?” Nah, di sinilah pentingnya kita ngerti tentang tekanan kerja dan bagaimana cara mengatasinya.

Menurut WHO, tekanan kerja bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk beban kerja yang berlebihan, perubahan dalam organisasi, praktik manajemen yang buruk, isi pekerjaan dan tuntutannya, lingkungan kerja fisik, dan hubungan di tempat kerja​​. Semua faktor ini, ketika tidak ditangani dengan baik, bisa berujung pada stres kerja yang serius.

Tekanan di tempat kerja itu sebenarnya nggak bisa dihindari, karena itu bagian dari tuntutan lingkungan kerja zaman sekarang. Tapi, tekanan yang dirasakan sebagai sesuatu yang dapat diterima oleh perkerja bahkan bisa menjaga agar tetap waspada, termotivasi, dan mampu bekerja serta belajar, tergantung pada sumber daya yang tersedia dan karakteristik pribadi mereka​​. Namun, ketika tekanan itu menjadi berlebihan atau tidak bisa dikelola lagi, itu yang jadi masalah.

Salah satu hal yang perlu kita sadari adalah pentingnya mengidentifikasi sumber stres di tempat kerja untuk mengambil langkah-langkah dalam mengatasinya. Tidak hanya pekerja, tapi juga perusahaan dan atasan perlu berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan dan memberikan dukungan bagi karyawan yang mengalami stres​​.

Ada beberapa penyebab utama stres di tempat kerja, termasuk beban kerja yang berat, perubahan dalam organisasi, praktik manajemen yang buruk, dan lingkungan kerja fisik​​. Ini semua bisa bikin kita merasa seperti berada di bawah tekanan berat tanpa henti. Dan, ini nggak cuma tentang kerja keras, tapi juga tentang bagaimana kita mengelola tekanan tersebut agar nggak berdampak buruk pada kesehatan mental kita.

Penting buat kita semua mengerti bahwa tekanan kerja itu nggak hanya tentang beban kerja fisik, tapi juga tentang bagaimana kita mengelola pikiran dan emosi kita dalam menghadapi tekanan tersebut. Di bagian selanjutnya, kita akan bahas lebih dalam tentang bagaimana tekanan kerja ini bisa mempengaruhi kesehatan mental kita, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya.

Bagaimana Tekanan Kerja Mempengaruhi Kesehatan Mental?

Penting untuk kita tahu apa dampak tekanan kerja terhadap kesehatan mental. Gak bisa dipungkiri, tekanan kerja itu punya pengaruh yang besar terhadap kesehatan mental kita.

1. Stres yang Meningkat

Stres kerja adalah masalah umum yang bisa disebabkan oleh faktor seperti beban kerja yang berat, jam kerja panjang, dan tenggat waktu yang tidak realistis​​. Ketika tekanan kerja menjadi berlebihan atau tidak bisa dikelola, ini bisa berujung pada stres yang merusak kesehatan dan kinerja kerja karyawan​​.

2. Gangguan Mood

Stres kronis bisa berkontribusi pada gejala depresi dan kecemasan​​​​. Cortisol yang berlebihan saat stres bisa meningkatkan agitasi, kemarahan, iritabilitas, gangguan konsentrasi, dan meningkatkan kemungkinan mengalami gejala depresi dan kecemasan​​.

3. Gangguan Tidur

Stres kerja juga bisa menyebabkan gangguan tidur, yang bisa semakin memperburuk masalah kesehatan mental​​.

4. Hubungan yang Terganggu

Tekanan kerja bisa menyebabkan konflik dengan rekan kerja dan atasan, yang berdampak negatif pada hubungan interpersonal​​.

5. Penurunan Harga Diri dan Stabilitas Emosional

Stres yang berlebihan bisa mempengaruhi harga diri dan stabilitas emosional, yang berujung pada penurunan kesejahteraan mental secara keseluruhan​​.

6. Risiko Gangguan Kesehatan Mental Meningkat

Stres kerja bisa memicu timbulnya gangguan kesehatan mental, terutama pada yang sudah memiliki predisposisi terhadap kondisi tersebut​​.

Untuk mengurangi efek negatif tekanan kerja terhadap kesehatan mental, sangat penting untuk menerapkan strategi manajemen stres yang efektif. Ini termasuk mengatur batasan, mencari dukungan dari rekan kerja atau profesional kesehatan mental, dan mempromosikan lingkungan kerja yang sehat​​​​. Para pemberi kerja juga harus menangani stres kerja dengan menyediakan sumber daya dan dukungan yang tepat, memastikan praktik yang adil dan tidak diskriminatif, serta membina suasana kerja yang positif​​​​.

Tantangan dalam Mengatasi Stres Akibat Tekanan Kerja

Perseners! Setelah kita membahas tentang dampak tekanan kerja terhadap kesehatan mental, sekarang saatnya kita menggali lebih dalam tentang tantangan-tantangan dalam mengatasi stres akibat tekanan kerja.

1. Beban Kerja yang Tinggi dan Tekanan untuk Berprestasi

Salah satu tantangan terbesar dalam mengatasi stres kerja adalah beban kerja yang berat, tenggat waktu yang ketat, dan tekanan untuk memenuhi harapan yang semakin tinggi tanpa kenaikan kepuasan kerja yang sepadan​​. Ini bisa menciptakan stres yang signifikan dan mempengaruhi kinerja kerja kita.

2. Ketakutan Akan Ketidakamanan Pekerjaan

Ketakutan akan PHK atau pengurangan staf bisa menciptakan rasa tidak aman dan stres yang konstan​​. Rasa tidak aman ini bisa membuat kita selalu berada dalam keadaan waspada yang berlebihan.

3. Kurangnya Kontrol

Merasa tidak berdaya untuk mempengaruhi keputusan yang memengaruhi pekerjaan kita atau memiliki sedikit suara dalam cara kerja dilakukan bisa menjadi sumber stres​​. Rasa tidak memiliki kontrol ini bisa meningkatkan perasaan frustasi dan stres.

4. Keseimbangan Kerja-Hidup yang Buruk

Menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi dan keluarga bisa menjadi tantangan besar yang menyebabkan stres meningkat​​.

5. Sumber Daya dan Dukungan yang Terbatas

Kurangnya sumber daya, pelatihan yang tidak memadai, dan dukungan yang tidak cukup dari atasan atau rekan kerja bisa menyumbang pada stres kerja​​.

Bagaimana Cara Mengatasi Stres Akibat Tekanan Kerja?

Perseners! Penting untuk kita tahu cara bagaimana cara mengatasi stres akibat tekanan kerja untuk menjaga kesehatan mental kita.

1. Buat Ritual Sebelum Kerja

Mulailah hari dengan rutinitas yang menenangkan, seperti meditasi, latihan pernapasan dalam, atau hobi yang menyenangkan​​. Ini bisa membantu lo mempersiapkan diri secara mental sebelum menghadapi tekanan kerja.

2. Tetapkan Harapan yang Jelas

Tetapkan tujuan yang realistis untuk setiap hari dan prioritaskan tugas berdasarkan urgensi dan pentingnya​​. Dengan memiliki ekspektasi yang lebih jelas, lo bisa menghindari rasa tergesa-gesa yang bisa menyebabkan stres.

3. Hindari atau Kurangi Konflik dengan Rekan Kerja

Selesaikan masalah dan keluhan dengan segera, dan usahakan untuk meningkatkan komunikasi dengan rekan kerja​​. Konflik yang tidak diselesaikan dengan baik bisa menjadi sumber stres yang signifikan.

4. Tetap Terorganisir

Rencanakan kegiatan di depan dan jaga agar tempat kerja tetap terorganisir untuk mengurangi kemungkinan stres mendadak​​.

5. Beristirahat

Istirahat secara teratur selama hari bisa membantu menyegarkan pikiran dan menjaga produktivitas​​. Jadi, jangan terlalu keras pada diri sendiri.

6. Praktikkan Teknik Relaksasi

Lakukan aktivitas seperti latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif, atau meditasi mindfulness untuk meredakan stres​​.

7. Cari Dukungan dari Rekan Kerja atau Profesional

Bicarakan kekhawatiran stres lo dengan atasan, rekan kerja, atau profesional kesehatan mental, dan mintalah panduan mereka​​. Terkadang, berbicara dengan seseorang yang dapat memberikan pandangan dari luar bisa sangat membantu.

8. Menghilangkan Stigma terhadap Stres Akibat Kerja

Buka-bukaan mengenali stres sebagai masalah yang nyata dan dorong lingkungan di tempat kerja agar karyawan memiliki lebih banyak kata dalam hal tugas mereka dan prospek promosi​​. Menghilangkan stigma ini bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik di tempat kerja.

9. Pertimbangkan Pergantian Karier

Jika stres akibat kerja tetap berlanjut meskipun lo sudah mencoba berbagai cara, mungkin saatnya untuk menjelajahi peluang pekerjaan lain atau mencari nasihat dari seorang konselor karier atau psikolog​​.

Ingat, mengelola stres akibat kerja adalah tanggung jawab bersama antara lo dan pemberi kerja. Dengan menerapkan strategi-strategi ini dan menjaga komunikasi terbuka dengan atasan lo, lo bisa menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mengurangi dampak tekanan kerja terhadap kesehatan mental lo

Kesimpulan

Perseners! kita membahas dan memahami tentang tekanan kerja dan bagaimana mengelolanya. Namun, ingatlah bahwa ada saat-saat ketika stres di tempat kerja atau dalam kehidupan kita secara umum bisa terasa sangat berat. Dan itu adalah hal yang wajar.

Tidak ada yang perlu merasa sendirian dalam menghadapi stres atau masalah kesehatan mental. Kesehatan mental kita sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita. Jika kamu merasa cemas, tertekan, atau bahkan bingung tentang bagaimana mengatasi stres, jangan ragu untuk mencari bantuan.

Konseling adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk mengatasi stres, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya. Ini adalah tempat di mana kamu dapat berbicara dengan seorang profesional yang akan mendengarkanmu dengan penuh pengertian dan memberikan dukungan serta panduan yang kamu butuhkan.

Kami menawarkan layanan konseling yang dapat membantu kamu mengatasi stres, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya. Kamu tidak perlu merasa malu atau takut untuk mencari bantuan.

Yuk, klik di sini untuk mendaftar. Ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini. Ada dukungan di luar sana, dan kita semua bisa belajar bagaimana mengatasi stres dan menjaga kesehatan mental kita. Teruslah berjuang, belajar, dan tumbuh. Kita semua bisa mencapai kesejahteraan mental dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan bahagia. #HidupSeutuhnya.

Referensi:

  1. McEwan, B. (2007). Stress, stressors, stress response, and coping. In Kessler, D. (ed.), Stress and health. New York: Springer.
  2. Selye, H. (1996). Stress in our lives: The concept, the phenomenon, and the management of stress. Journal of Social Issues.
  3. Sapolsky, I. (1994). The biology of stress: New perspectives. Nature.
  4. American Psychological Association. (2009). Stress at work: The employee’s perspective. Washington, DC: Author.
  5. Burton, J. L., & Greenglass, L. (1999). Managing stress at work: A guide to coping with stress for employees and managers.
  6. Yerkes, R. A., & Dienst, P. J. (2000). Stress, stressors, and coping mechanisms. In Kessler, D. (ed.), Stress and health. New York: Springer.
  7. Zapot, S. (2004). Stress management: A guide to techniques for coping. London: Routledge.
Read More
judi

Strategi Mengelola Stres dan Trauma Karyawan melalui Dukungan HR

Di era yang serba cepat dan penuh tekanan ini, pemahaman mendalam tentang trauma dan stres di tempat kerja menjadi sangat penting. Sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (HR), kita memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah ini. Mari kita bahas lebih lanjut.

Trauma di tempat kerja tidak hanya terbatas pada profesi berisiko tinggi seperti militer atau pemadam kebakaran. Menurut penelitian terkini, trauma dapat menimpa karyawan di berbagai industri karena berbagai alasan, termasuk kekerasan di tempat kerja, pelecehan seksual, rasisme, diskriminasi, atau budaya kerja yang toksik. Pandemi COVID-19 telah memperparah situasi ini, meningkatkan risiko gangguan stres pasca-trauma (PTS) hingga 83% lebih tinggi dari level pra-pandemi, terutama di kalangan pekerja kesehatan.

Trauma dan stres di tempat kerja dapat memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk, seperti absenisme, penurunan kinerja, penghindaran tugas, konflik antar karyawan, kecelakaan, atau hilangnya motivasi. Gejala lainnya termasuk kecemasan, ketakutan, kemarahan, tingkat kerjasama yang rendah, atau pelupa. Semua ini tidak hanya mempengaruhi kesejahteraan karyawan tetapi juga berdampak pada kinerja organisasi secara keseluruhan.

Sebagai HR, kita memiliki beberapa strategi untuk mengatasi trauma dan stres di tempat kerja:

1. Mengidentifikasi dan Menjangkau: Belajar mengenali tanda-tanda trauma dan stres serta menjangkau karyawan yang mungkin mengalami kesulitan. Ini bisa dilakukan dengan rutin menanyakan kabar mereka dan mendiskusikan kesehatan mental mereka.

2. Menyediakan Sumber Daya: Menyediakan sumber daya seperti layanan konseling, program bantuan karyawan, dan sumber daya kesehatan mental. Sumber daya ini dapat membantu karyawan mengelola stres dan mengatasi situasi sulit.

3. Menciptakan Budaya Kerja yang Mendukung: Bekerja untuk menciptakan budaya kerja yang mendukung, yang menghargai kesejahteraan karyawan, mempromosikan keseimbangan kerja-hidup, mendorong komunikasi terbuka, dan menyediakan peluang untuk pengembangan profesional.

4. Menawarkan Pengaturan Kerja Fleksibel: Menawarkan pengaturan kerja fleksibel seperti telekomuting, jadwal fleksibel, dan pembagian pekerjaan. Pengaturan ini dapat membantu karyawan mengelola stres mereka dengan memungkinkan mereka untuk lebih baik menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan pribadi.

5. Melatih Manajer: Melatih manajer untuk mengenali tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan dan memberi mereka alat untuk mendukung anggota tim mereka. Ini bisa termasuk pelatihan tentang cara melakukan percakapan yang sulit, cara memberikan umpan balik, dan cara mengelola beban kerja.

Dengan mengambil langkah-langkah ini, HR dapat membantu karyawan yang mengalami trauma dan stres merasa didukung dan dihargai di tempat kerja, yang dapat menyebabkan peningkatan kesejahteraan dan kepuasan kerja.

Identifikasi Dini dan Intervensi

Dalam konteks pekerjaan, identifikasi dini dan intervensi terhadap stres dan trauma sangat penting. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu dalam mengatasi masalah saat ini, tetapi juga mencegah dampak jangka panjang pada kesehatan mental dan produktivitas karyawan. Berikut adalah beberapa aspek penting dari identifikasi dini dan intervensi:

1. Konsep dan Kebutuhan Identifikasi Dini: Identifikasi dini dalam konteks pekerjaan melibatkan kemampuan HR dan manajer untuk mengenali tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan. Ini termasuk memahami pentingnya intervensi dini dan bagaimana hal ini dapat mencegah masalah yang lebih serius di masa depan. Seperti dalam konteks pendidikan anak, di mana identifikasi dini membantu dalam mengatasi keterlambatan perkembangan, dalam lingkungan kerja, hal ini membantu dalam mencegah penurunan kinerja dan kesejahteraan karyawan.

2. Skreening dan Penilaian: Sama seperti penilaian pada anak-anak untuk menentukan kebutuhan layanan intervensi dini, dalam lingkungan kerja, HR perlu melakukan skreening dan penilaian terhadap karyawan yang mungkin mengalami stres atau trauma. Ini bisa melalui survei kesehatan mental, wawancara, atau alat penilaian lainnya.

3. Peran HR, Komunitas, dan Profesional: Dalam konteks pekerjaan, HR, manajemen, dan rekan kerja memainkan peran penting dalam intervensi dini. Mereka harus terlibat aktif dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan dukungan yang diperlukan. Ini mirip dengan peran orang tua dan komunitas dalam mendukung anak-anak dengan keterlambatan perkembangan.

4. Pentingnya Intervensi Dini: Intervensi dini di tempat kerja dapat membantu karyawan memperbaiki keterampilan mereka dalam mengelola stres dan trauma. Ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu tetapi juga produktivitas dan keharmonisan di tempat kerja.

5. Model Intervensi Dini: Sama seperti dalam pendidikan anak, di mana intervensi dini dapat dilakukan di rumah atau di pusat, dalam konteks pekerjaan, intervensi bisa dilakukan secara individual, melalui sesi kelompok, atau bahkan secara digital. Pilihan model tergantung pada kebutuhan spesifik karyawan dan sumber daya yang tersedia di organisasi.

Dengan memahami pentingnya identifikasi dini dan intervensi, HR dan manajemen dapat bekerja sama untuk menyediakan dukungan dan sumber daya yang diperlukan bagi karyawan yang mengalami stres dan trauma, memastikan masa depan yang lebih baik bagi mereka dan organisasi.

Untuk memastikan kelancaran transisi ke bagian selanjutnya, penting untuk mengakui bahwa setelah identifikasi dan intervensi awal, langkah berikutnya adalah menciptakan budaya tempat kerja yang mendukung karyawan yang mengalami trauma. Ini akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya tentang Menciptakan Budaya Tempat Kerja yang Berbasis Trauma.

Menciptakan Budaya Tempat Kerja yang Harmonis

Pemahaman tentang dampak trauma pada karyawan dan penerapan strategi untuk mendukung kesejahteraan dan pertumbuhan mereka. Berikut adalah beberapa langkah kunci untuk menciptakan budaya tempat kerja yang harmonis dan bebas dari trauma:

1. Memahami Dampak Trauma: Penting untuk mengakui bahwa trauma dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan, produktivitas, dan kepuasan kerja karyawan. HR dan manajemen harus menyadari berbagai jenis trauma yang mungkin dihadapi karyawan, seperti ketidakpastian pekerjaan, beban kerja berat, atau paparan situasi yang menekan.

2. Mendorong Komunikasi Terbuka: Dorong komunikasi yang jujur dan transparan di antara karyawan, memungkinkan mereka untuk mendiskusikan pengalaman dan perasaan mereka dalam lingkungan yang aman. Ini menciptakan ruang di mana karyawan merasa didengar dan dihargai.

3. Mempromosikan Keamanan dan Kepercayaan: Pastikan bahwa ruang kerja aman untuk kesehatan mental dan fisik karyawan dengan mematuhi protokol dan standar keselamatan dasar. Bangun kepercayaan dengan transparan tentang keputusan perusahaan dan memelihara lingkungan saling menghormati dan bermartabat untuk semua rekan kerja.

4. Menyediakan Sumber Daya dan Dukungan: Tawarkan sumber daya seperti pelatihan, webinar, dan modul untuk membantu pemimpin dan rekan kerja memahami risiko yang terkait dengan PTSD, mengenali tanda dan gejala PTSD pada staf, dan memberikan dukungan bagi karyawan yang menghadapi trauma.

5. Mendorong Dukungan Sesama: Ciptakan lingkungan di mana karyawan merasa nyaman mendiskusikan pengalaman mereka dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi trauma.

6. Bekerjasama dan Saling Menguntungkan: Izinkan orang-orang dalam dan di luar posisi kekuasaan dalam perusahaan untuk berpartisipasi dalam menciptakan kebijakan dan praktik yang berbasis trauma, mendorong rasa kolaborasi dan kesetaraan.

7. Fokus pada Pencegahan dan Pengobatan: Terapkan strategi untuk mencegah dan mengobati trauma di tempat kerja, seperti teknik kesadaran, pernapasan, dan grounding.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, organisasi dapat menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma yang mendukung karyawan dalam menghadapi trauma dan mempromosikan kesejahteraan dan produktivitas secara keseluruhan.

Monitoring dan Peningkatan Berkelanjutan

Monitoring dan peningkatan berkelanjutan adalah kunci untuk pertumbuhan dan kesuksesan organisasi. Berikut adalah ringkasan informasi dari sumber yang disediakan:

1. Monitoring dan Evaluasi untuk Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring dan Evaluasi (M&E) adalah proses peningkatan organisasi yang melibatkan penelitian, perencanaan, alokasi sumber daya, dan pengembangan berkelanjutan. Ini menetapkan tujuan yang berorientasi masa depan untuk meningkatkan output manajemen dan bertujuan untuk menentukan efisiensi program, membuat perbandingan terhadap pencapaian untuk memodifikasi layanan agar lebih efektif.

2. Monitoring Proses untuk Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring proses mengukur kinerja proses secara real-time, memungkinkan manajemen proaktif terhadap proses dan peningkatan berkelanjutan. Ini memungkinkan untuk menangkap pengukuran real-time dari proses, membandingkannya dengan data dari model proses, dan memberikan umpan balik untuk meningkatkan proses dan eksekusi proyek.

3. Monitoring Berkelanjutan dan Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring berkelanjutan membantu program lebih baik dalam mengatasi tujuan dan sasaran, melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses perencanaan program. Ini penting untuk memastikan bahwa program melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan dan sasarannya.

4. Praktik Terbaik untuk Monitoring dan Peningkatan Berkelanjutan: Mengumpulkan data operasional, mensurvei orang tua dan siswa untuk umpan balik, dan menggunakan penilaian kualitas program adalah beberapa praktik terbaik untuk peningkatan berkelanjutan. PRISM (Program Report for Improvement and System Measurement) berfungsi sebagai tulang punggung untuk pertemuan komunitas pembelajaran sepanjang tahun, membantu pemimpin mengidentifikasi kekuatan dan mempertimbangkan peningkatan.

Monitoring dan peningkatan berkelanjutan melibatkan penilaian berkelanjutan, umpan balik, dan penyesuaian untuk meningkatkan kinerja organisasi dan mencapai tujuan. Proses ini sangat penting untuk mengidentifikasi kekuatan, mengatasi kelemahan, dan mempromosikan pertumbuhan dalam organisasi.

Kesimpulan

Pertama, pemahaman mendalam tentang trauma dan stres di tempat kerja adalah fondasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung. HR dan manajemen harus proaktif dalam mengidentifikasi tanda-tanda stres dan trauma serta menyediakan sumber daya yang tepat untuk membantu karyawan mengatasinya.

Kedua, identifikasi dini dan intervensi merupakan langkah penting dalam mencegah masalah kesehatan mental yang lebih serius. Melalui pendekatan yang empati dan mendukung, HR dapat memainkan peran kunci dalam membantu karyawan mengatasi tantangan mereka.

Ketiga, menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan tetapi juga produktivitas dan kepuasan kerja. Ini melibatkan membangun komunikasi terbuka, mempromosikan keamanan dan kepercayaan, serta menyediakan sumber daya dan dukungan yang diperlukan.

Keempat, monitoring dan peningkatan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan bahwa inisiatif dan strategi yang diterapkan efektif dan relevan dengan kebutuhan karyawan. Melalui evaluasi dan umpan balik berkelanjutan, organisasi dapat terus berkembang dan menyesuaikan pendekatannya untuk mendukung karyawan.

Sebagai penutup, penting bagi setiap organisasi untuk mengakui dan mengatasi dampak stres dan trauma di tempat kerja. HR memegang peran penting dalam perjalanan ini, tidak hanya sebagai pengelola sumber daya manusia tetapi juga sebagai pendukung kesejahteraan karyawan. Dengan pendekatan yang tepat, organisasi dapat mengubah trauma menjadi transformasi, menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan harmonis.

Life Skills dengan senang hati mengundang organisasi/perusahaan Anda untuk mengikuti Speaking Engagement. Ini adalah kesempatan untuk mendalami topik kepemimpinan dan pengembangan organisasi lebih lanjut, serta untuk berinteraksi dengan para profesional dan pemimpin industri. Untuk informasi lebih lanjut dan untuk mendaftar, silakan kunjungi tautan berikut: satu.bio/satumitra-igls.

Dunia yang terus berubah, kemampuan untuk membangun dan memelihara kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan adalah kunci untuk keberhasilan organisasi. HR memiliki peran strategis dalam perjalanan ini, tidak hanya sebagai pelaksana tetapi juga sebagai pemimpin perubahan. Life Skills siap mendorong perubahan positif dalam dunia kepemimpinan Anda.

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID

Untuk Perusahaan, NGO dan Pemerintahan:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Referensi

University of Wisconsin-Madison. (2020, November 30). How to Cultivate Trauma-Informed Care in HR.

Center for Technology and Innovation in Pediatrics Practice. (2023, April 3). Toolkit: Trauma-Informed Workplaces. Retrieved from

Strategy People Culture. (2023, September 15). Understanding Workplace Trauma and How Leadership Can Help. Retrieved from

Workplace Options. (2023, June 4). Understanding Workplace Trauma and Work-Related PTSD. Retrieved from

Forbes. (2021, November 10). Trauma At The Workplace, What To Do About It. Retrieved

FAQ

Apa itu trauma di tempat kerja dan bagaimana dampaknya terhadap karyawan?

FAQ ini menjelaskan definisi trauma di lingkungan kerja dan efeknya pada kesejahteraan karyawan.

Bagaimana HR dapat mengidentifikasi tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan?

FAQ ini memberikan informasi tentang cara-cara HR dapat mendeteksi gejala stres dan trauma di antara karyawan.

Apa langkah-langkah yang dapat diambil HR untuk mendukung karyawan yang mengalami stres atau trauma?

FAQ ini menjelaskan strategi dan tindakan yang dapat dilakukan oleh HR untuk membantu karyawan.

Mengapa penting untuk menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma?

FAQ ini membahas pentingnya dan manfaat dari menciptakan lingkungan kerja yang mendukung karyawan yang mengalami trauma.

Apa peran manajer dalam mendukung karyawan yang mengalami trauma?

FAQ ini menjelaskan bagaimana manajer dapat berkontribusi dalam mendukung kesejahteraan mental karyawan.

Bagaimana cara mengimplementasikan program intervensi dini untuk trauma di tempat kerja?

FAQ ini memberikan panduan tentang cara mengembangkan dan menerapkan program intervensi dini untuk trauma.

Apa saja sumber daya yang dapat disediakan HR untuk membantu karyawan mengatasi stres dan trauma?

FAQ ini menjelaskan berbagai jenis sumber daya dan dukungan yang dapat ditawarkan oleh HR.

Bagaimana proses monitoring dan peningkatan berkelanjutan dapat diterapkan dalam konteks trauma di tempat kerja?

FAQ ini membahas tentang pentingnya dan cara pelaksanaan monitoring serta peningkatan berkelanjutan dalam mengelola trauma di tempat kerja.

Apa saja tantangan yang dihadapi HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja?

FAQ ini menjelaskan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi oleh HR dalam mengatasi isu-isu terkait stres dan trauma.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan inisiatif HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja?

FAQ ini memberikan wawasan tentang metode dan indikator untuk mengevaluasi efektivitas program HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja.

Read More
judi

Mengelola Waktu Lembur untuk Work Life Balance yang Lebih Baik

Di era yang serba cepat ini, manajemen waktu menjadi kunci utama dalam berbagai aspek kehidupan, terutama di tempat kerja. Saat lembur, pentingnya manajemen waktu menjadi semakin terasa. Mengapa demikian? Mari kita ulas lebih dalam.

Pertama, manajemen waktu yang baik dapat meningkatkan produktivitas. Saat lembur, waktu yang Anda miliki terbatas. Dengan mengatur waktu secara efisien, Anda dapat memprioritaskan tugas-tugas penting dan menyelesaikannya dengan lebih efektif. Ini berarti, tugas yang biasanya memakan waktu lama dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat, meningkatkan output kerja Anda secara signifikan.

Kedua, kualitas kerja juga terpengaruh oleh bagaimana Anda mengelola waktu. Dengan waktu yang terorganisir, Kita memiliki kesempatan untuk fokus pada detail dan kualitas pekerjaan. Ini berarti pekerjaan yang dihasilkan tidak hanya cepat selesai tetapi juga memiliki standar kualitas yang tinggi.

Ketiga, manajemen waktu yang baik dapat mengurangi stres. Stres sering kali muncul karena tekanan waktu dan tumpukan pekerjaan yang tampaknya tidak ada habisnya. Dengan mengatur waktu secara efektif, Anda dapat mengurangi rasa terburu-buru dan tekanan yang tidak perlu, sehingga mengurangi tingkat stres saat lembur.

Keempat, manajemen waktu memungkinkan kita untuk mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik. Dengan mengatur waktu kerja dan waktu istirahat secara seimbang, Anda dapat memastikan bahwa kehidupan pribadi dan profesional Anda tidak saling mengganggu. Ini penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik Anda.

Kelima, manajemen waktu yang baik juga berkontribusi pada peningkatan kepuasan kerja. Saat kita dapat menyelesaikan tugas dengan efisien dan efektif, ini menciptakan rasa pencapaian dan kepuasan. Anda merasa waktu yang dihabiskan untuk lembur menjadi lebih bermakna dan produktif.

Namun, apa yang terjadi jika manajemen waktu tidak diterapkan dengan baik saat lembur? Ini dapat berdampak negatif pada produktivitas. Tanpa manajemen waktu yang efektif, kita mungkin menghabiskan lebih banyak waktu untuk tugas yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat. Ini tidak hanya mengurangi efisiensi kerja Anda tetapi juga dapat menimbulkan kelelahan dan penurunan kualitas kerja.

Dalam bagian berikutnya, kita akan membahas lebih lanjut tentang Dampak Negatif Kurangnya Manajemen Waktu pada Produktivitas. Kita akan melihat bagaimana kurangnya manajemen waktu dapat menghambat kemampuan Anda untuk bekerja secara efektif dan efisien, serta dampaknya terhadap kinerja kerja secara keseluruhan.

Dampak Negatif Kurangnya Manajemen Waktu pada Produktivitas

Setelah memahami pentingnya manajemen waktu saat lembur, kita perlu menyadari dampak negatif yang muncul ketika manajemen waktu tidak diterapkan dengan baik. Kurangnya manajemen waktu tidak hanya berpengaruh pada individu, tetapi juga pada produktivitas keseluruhan perusahaan.

Penurunan Produktivitas: Kurangnya manajemen waktu sering kali menyebabkan penurunan produktivitas. Karyawan yang gagal mengatur waktu mereka dengan efisien cenderung kehilangan fokus dan motivasi. Hal ini mengakibatkan penurunan kinerja dan produktivitas, yang pada akhirnya berdampak negatif pada output keseluruhan perusahaan.

Kualitas Kerja yang Buruk: Manajemen waktu yang buruk juga berdampak pada kualitas kerja. Karyawan yang terburu-buru dalam menyelesaikan tugas mereka sering membuat kesalahan yang tidak perlu. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kualitas pekerjaan individu, tetapi juga citra dan standar perusahaan secara keseluruhan.

Alur Kerja yang Tidak Efisien: Kurangnya manajemen waktu dapat mengakibatkan alur kerja yang kacau dan tidak terorganisir. Ini mengarah pada inefisiensi dalam proses kerja, di mana tugas-tugas tidak diselesaikan dalam urutan yang paling logis atau efektif.

Reputasi Perusahaan yang Buruk: Kualitas kerja yang buruk dan produktivitas yang rendah dapat merusak reputasi perusahaan. Pelanggan yang kecewa dengan produk atau layanan yang tidak memenuhi standar dapat memberikan dampak jangka panjang pada citra perusahaan.

Stres pada Karyawan: Kurangnya manajemen waktu sering kali menyebabkan stres pada karyawan. Karyawan yang merasa terburu-buru dan tidak mampu mengatur waktu mereka dengan baik cenderung mengalami tekanan yang lebih besar, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik mereka.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perlu memberikan pelatihan dan pengembangan karyawan dalam manajemen waktu. Dengan dukungan dan sumber daya yang tepat, karyawan dapat belajar mengatur waktu mereka dengan lebih efektif, sehingga meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.

Dalam bagian berikutnya, kita akan membahas tentang Risiko Kesehatan Akibat Lembur Tanpa Manajemen Waktu yang Baik. Kita akan melihat bagaimana kurangnya manajemen waktu saat lembur tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga pada kesehatan fisik dan mental karyawan.

Risiko Kesehatan Akibat Lembur Tanpa Manajemen Waktu yang Baik

Kerja lembur telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan profesional banyak orang. Namun, tanpa manajemen waktu yang baik, lembur bisa membawa risiko kesehatan yang serius. Mari kita bahas dampaknya pada kesehatan fisik dan mental.

Dampak pada Kesehatan Fisik

Kelelahan Kronis: Bekerja lembur secara terus-menerus meningkatkan risiko kelelahan kronis. Kurangnya istirahat mempengaruhi siklus tidur dan pemulihan tubuh, menyebabkan penurunan energi dan konsentrasi.

Gangguan Tidur: Jam kerja yang panjang mengganggu pola tidur sehat. Ini bisa menyebabkan insomnia dan penurunan kualitas tidur, melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit serius.

Penurunan Kebugaran Fisik: Kurangnya waktu untuk berolahraga dan menjaga kebugaran fisik adalah dampak langsung dari bekerja lembur. Gaya hidup sedentari ini meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes.

Dampak pada Kesehatan Mental

Stres Berkepanjangan: Tekanan untuk memenuhi tenggat waktu dan tuntutan kerja yang tinggi dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan gangguan mental lainnya.

Kehilangan Keseimbangan Kehidupan: Menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja meninggalkan sedikit waktu untuk kegiatan sosial dan hobi. Ini berdampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan antarpribadi.

Kepuasan Kerja Menurun: Meskipun awalnya mungkin terlihat sebagai dedikasi, lembur yang berlebihan dapat mengurangi kepuasan kerja, menurunkan motivasi, dan menyebabkan kelelahan emosional.

Mengakui dan mengelola dampak buruk lembur pada kesehatan fisik dan mental adalah kunci. Langkah-langkah seperti mengatur batasan waktu kerja yang sehat, menetapkan prioritas, dan mencari waktu untuk beristirahat sangat penting. Komunikasi dengan atasan dan dukungan dari teman serta keluarga juga membantu.

Keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi adalah penting. Prioritaskan kesehatan dan kesejahteraan Anda, karena hanya dengan tubuh dan pikiran yang sehat, Anda dapat memberikan kontribusi maksimal dalam pekerjaan dan menikmati kehidupan yang memuaskan.

Pengaruh terhadap Keseimbangan Hidup-Kerja

Dalam dunia kerja yang serba cepat dan menuntut, keseimbangan hidup-kerja menjadi aspek penting yang seringkali terabaikan. Keseimbangan ini tidak hanya mempengaruhi kepuasan kerja, tetapi juga kesuksesan karier seseorang. Berdasarkan penelitian, keseimbangan waktu, keterlibatan, dan kepuasan dalam kehidupan kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini menunjukkan pentingnya mencari keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan untuk mencapai kesuksesan karier dan kepuasan kerja yang lebih baik.

Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan hidup-kerja adalah dengan mengatur jadwal kerja yang efektif. Ini berarti menetapkan batasan antara waktu kerja dan waktu pribadi. Misalnya, menetapkan jam kerja yang tetap dan menghindari pekerjaan di luar jam tersebut kecuali dalam keadaan darurat. Ini membantu dalam memastikan bahwa waktu luang dapat digunakan untuk kegiatan pribadi atau bersama keluarga, yang penting untuk menjaga keseimbangan hidup-kerja.

Mengurangi pengeluaran yang tidak perlu juga dapat membantu dalam mencapai keseimbangan hidup-kerja. Dengan mengelola keuangan dengan bijak, seseorang dapat mengurangi tekanan untuk bekerja lebih keras atau lebih lama untuk memenuhi kebutuhan finansial. Ini memungkinkan lebih banyak waktu untuk dihabiskan dengan keluarga atau untuk kegiatan pribadi, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas hidup.

Memprioritaskan waktu untuk kegiatan di luar pekerjaan juga penting dalam mencapai keseimbangan hidup-kerja. Ini bisa berupa hobi, olahraga, atau menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga dan teman. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memberikan relaksasi tetapi juga membantu dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental.

Mengembangkan keterampilan yang tepat juga penting dalam mencapai keseimbangan hidup-kerja. Keterampilan seperti manajemen waktu, komunikasi, dan kepemimpinan tidak hanya berguna dalam pekerjaan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan-keterampilan ini membantu seseorang dalam mengelola tugas-tugas dengan lebih efektif, memungkinkan lebih banyak waktu untuk kehidupan pribadi.

Keseimbangan hidup-kerja adalah aspek penting yang mempengaruhi kesuksesan karier dan kepuasan kerja. Dengan mengatur jadwal kerja yang efektif, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, memprioritaskan waktu untuk kegiatan di luar pekerjaan, dan mengembangkan keterampilan yang tepat, seseorang dapat mencapai keseimbangan yang diinginkan. Ini tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan.

Kesimpulan

Setelah memahami pentingnya manajemen waktu saat lembur, dampak negatif dari kurangnya manajemen waktu pada produktivitas, risiko kesehatan, dan pengaruhnya terhadap keseimbangan hidup-kerja, kita dapat melihat bahwa keseimbangan ini bukan hanya penting untuk kepuasan kerja, tetapi juga untuk kesehatan dan kebahagiaan kita secara keseluruhan.

Untuk membantu Karyawan Anda dalam mengelola tantangan ini, sangat disarankan untuk mengambil langkah proaktif. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan Psychotest & Assessment yang tersedia di Life Skills. Tes ini dirancang untuk memberikan wawasan lebih dalam tentang diri Karyawan, termasuk cara mengelola stres, memahami nilai pribadi, dan mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan,membantu mengenal diri sendiri lebih dalam. Ini penting untuk mengembangkan strategi manajemen waktu dan keseimbangan hidup-kerja yang efektif.

Psychotest & Assessment berguna mengidentifikasi area di mana Karyawan Anda unggul dan aspek yang perlu ditingkatkan. Pengetahuan ini sangat berguna dalam pengembangan karier dan kehidupan pribadi.

Gunakan kesempatan ini untuk belajar lebih banyak tentang kepribadian dan bagaimana dapat meningkatkan kualitas hidup dan kerja karyawan Anda. Berikan investasi terbaik kepada karyawan Anda.

Read More
judi

Cara Mengelola Stres yang Tepat

Coba deh yang baca artikel ini tunjuk tangan, siapa yang nggak pernah ngalamin stres, pasti gak ada kan. Yup hampir semua orang pasti tidak luput dari yang namanya stres, entah itu karena masalah besar atau bahkan masalah kecil pun kalau berlarut-larut gak selesai bisa bikin kita stres juga bukan. Apalagi di situasi pandemi seperti saat ini yang menganjurkan masyarakat untuk tinggal dirumah, sering memicu munculnya stres.

Stres sebenarnya adalah sesuatu yang wajar di kehidupan kita, stres adalah respon otak dan tubuh kita terhadap setiap perubahan. Tubuh bereaksi terhadap perubahan ini dengan tanggapan emosional, fisik, dan mental.

Stres juga berbahaya loh guys kalo dibiarin, bisa bikin kita nggak produktif dalam melakukan pekerjaan dan bisa juga bisa memicu gangguan mental dan kesehatan. Terus, biasanya apa nih yang kalian lakuin kalau kalian lagi stres banget, jalan-jalan, nonton, atau sekadar nongkrong di cafe. Kalau dengan ngelakuin kegiatan itu udah bisa bikin mood kalian bangkit lagi bagus dan lanjutkan.

Nah, kali ini Satu Persen bakalan bahas tentang mengelola stres dengan menerapkan manajemen stres sehingga harapannya bisa sedikit membantu kalian saat menghadapi stres.

Mengenal stress dan penyebabnya

Sebelum membahas manajemen stres ada baiknya kamu paham dulu sih tentang stres dan penyebabnya, supaya mendapat penanganan yang tepat. Stres sendiri merujuk pada persepsi psikologis tentang “tekanan” saat menghadapi masalah misalnya, dan respon tubuh terhadapnya.

Selain itu stres juga melibatkan banyak sistem dari metabolisme otot hingga memori. Persepsi ini nantinya memicu sistem respon otomatis, yang dikenal dengan respon ‘melawan-atau-lari’ yang diaktifkan oleh sinyal hormonal.

Stres biasanya bisa muncul karena adanya peristiwa yang memicu baik itu internal dan eksternal. Misalnya tiba-tiba dimarahi terus terancam kehilangan pekerjaan, pekerjaan menumpuk jadi bingung membagi waktu, bingung mikirin utang, dan sebagainya.

Peristiwa ini kemudian memicu aliran hormon, termasuk adrenalin dan kortisol, yang melonjak ke seluruh tubuh. Hormon ini berfungsi meningkatkan detak jantung dan sirkulasi darah untuk mendukung tindakan cepat, memobilisasi lemak dan gula untuk energi, memusatkan perhatian untuk melacak bahaya, mempersiapkan otot untuk bergerak, dan banyak lagi. Lalu memunculkan respon untuk menyelesaikan masalah.

Tanda-tanda kalau kamu sedang mengalami stres biasanya kamu insomnia, sakit perut, otot tegang, jantung berdegup kencang, susah berkonsentrasi, kelelahan.  Kalau kamu sudah mengalami tanda-tanda ini kamu bisa menerapkan manajemen stres untuk meredakannya, yang akan dibahas selanjutnya ya.

Kunci manajemen stres

Dilansir dari Psychology Today, Tchiki Davis, seorang psikolog, memberikan lima kunci cara untuk memanage stres di setiap tempatnya.

  1. Cari tau cara mengurangi stres di tempat kerja

Kalau stres-mu karena pekerjaan, coba deh pikirkan untuk ganti pekerjaan sesuai passionmu, negosiasi untuk ganti kelompok kerja/atasan jika ini memberatkanmu. Atau pertimbangkan untuk mengambil cuti panjang, liburan diakhir pekan. Membagi pekerjaan dengan rekan kamu untuk mengurangi beban kerja. Explore pilihan apa yang menurutmu nyaman.

2. Explore cara mengurangi stres di rumah

Berada di rumah juga gak jarang malah bikin stres loh guys, ini biasanya banyak terjadi di masa pandemi seperti saat ini. Saat wfh kamu dituntut untuk tetap bekerja untuk kantor dan mengerjakan pekerjaan rumah. Bagi sebagian orang yang tidak bisa mengatur waktu, jam istirahat mereka malah jadi korban, sehingga tidak jarang membuat stres.

Nah coba deh cari cara untuk mengatasi stres di rumah. Apakah itu dengan nonton film, berjalan-jalan keliling kompleks, olahraga, memasak makanan kesukaan, dll. Kamu juga bisa mengkomunikasikan dengan anggota keluargamu kalau ada pekerjaan kantor yang harus kamu selesaikan, sehingga meminta yang lain untuk melakukan pekerjaan rumah.

3. Explore cara mengurangi stres mental

Kalau kamu sudah mencoba untuk mencari tahu apa yang membuatmu stres, tapi tidak menemukan jawaban. Coba deh buat melihat secara jujur keyakinan, nilai, dan perspektif kamu tentang kehidupan. Cobalah untuk lebih kooperatif, penyayang, perhatian sama orang lain, ramah, baik hati, dan positif. Stres kita berkurang saat kita relatif terbuka dan fleksibel, daripada tegang. Dan stres kita pasti berkurang saat kita bahagia atau bersenang-senang bukan.

4. Lakukan pendekatan “sehat” untuk mengurangi stres

Biasanya orang cenderung lebih mudah melewati masa stres jika fisik-nya sehat, kamu bisa coba lakukan contoh-contoh berikut.

  • Makan makanan bergizi atau melakukan “diet mediterania” yang dikenal dengan diet sehat. Seperti banyak mengkonsumsi buah dan sayuran segar, minyak zaitun, biji-bijian, kacang-kacangan, polong-polongan, dan ikan. Kamu juga boleh menambahkan porsi kecil ayam, telur, keju, dan yogurt, serta hindari daging merah. Diet ini menganjurkan agar kita menghindari kelebihan gula, soda, makanan olahan, biji-bijian olahan, daging olahan, dan lemak trans.
  • Olahraga, olahraga ini baik untuk meningkatkan hormon serotonin yang membuat kita merasa bahagia, sehingga dapat membantu untuk menghilangkan stres. Lakukan olahraga ringan terlebih dahulu seperti berjalan kaki.
  • Tidur yang cukup, kita dianjurkan untuk tidur 7-8 jam setiap malam, tetapi akan bergantung menurut usia, jenis kelamin, intensitas aktivitas fisik, dan kebiasaan. Dengarkan tubuh kamu, jika sudah merasa lelah, tidurlah.
  • Beristirahatlah dari teknologi. Salah satu pemicu stres paling umum adalah melihat dunia digital. Pancaran layar hp atau laptop juga menimbulkan ketegangan mata dan sakit kepala.
  • Bersosialisasi. Terkadang kita terlalu banyak berselancar di dunia maya hingga lupa kalau kita hidup di dunia nyata. Jangan lupa untuk bertemu dengan temanmu di dunia nyata. Selain itu bersosialisasi juga efektif supaya kamu bisa menceritakan keluh kesahmu dan meminta saran mereka ketika kamu sedang ada masalah.

5. Pelajari teknik relaksasi untuk mengurangi stres

Beberapa teknik yang bisa kamu lakukan seperti:

  • Menarik napas dalam-dalam
  • Menyalakan musik yang menenangkan ketika bekerja dan bersantai, kalau aku merekomendasikan untuk mendengarkan musik klasik dari Mozart, Chopin, dan Beethoven.
  • Latihan meditasi, kamu bisa memulainya dengan menutup mata sambil menarik napas dalam-dalam. Hitung napas saat menghembuskan napas secara perlahan untuk membantu menenangkan pikiran yang gelisah.
  • Mandi air panas atau berendam di bak mandi air panas. Air panas memberikan sensasi menenangkan dan melemaskan otot.
  • Lakukan hal kreatif yang kamu sukai. Seperti membuat sketsa, menyanyi, menari, membuat perhiasan, berkebun, dll.

Nah kamu bisa coba praktekin langkah-langkah management stress yang udah Satu Persen berikan buat kamu. Tapi kalau kamu mengalami stres berkepanjangan, terus sudah mengganggu kehidupan sehari-harimu, lebih baik kamu mengkonsultasikannya.

Kamu bisa konsultasi di layanan mentoring Satu Persen  yang akan membantu kamu buat keluar dari stres berkepanjangan. Udah banyak juga loh yang sukses balik ke kehidupan normal mereka setelah ikut mentoring, yuk liat testimoni-nya di blog atau di instagram @satupersenofficial. Coba juga Tes Tingkat Stres gratis dari Satu Persen supaya kamu memiliki gambaran mengenai stres yang kamu alami.

Jangan lupa juga follow instagramnya buat dapat informasi menarik buat diskon mentoring yah 🙂 dan juga cek YouTube Channel Satu Persen buat liat video penting tentang kesehatan mental, pengembangan diri, karir, dan masih banyak lagi. Sekian dari aku, semoga artikel ini membantu 🙂

Referensi

Stoler, Diane Robert. (2020). Are You Stress Out? Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-resilient-brain/202006/are-you-stressed-out

David, Tchiki. (2020). How to Relieve, Manage,and Overcome Stress. Psychology Today. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/click-here-happiness/202001/how-relieve-manage-and-overcome-stress

Read More