putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Kita

judi

Alasan Kita Harus Beryukur

Hai, Perseners! Balik lagi bareng aku Nouvend.

Bersyukur

Kira-kira, kapan terakhir kamu bersyukur? Atau mungkin sesederhana, berterimakasih?

Kamu mungkin pernah ngebukain pintu buat orang di tempat umum, atau mengambil barang yang jatuh dari kantong orang di depanmu saat mengantri di minimarket. Mungkin juga kamu pernah membeli dagangan nenek di pinggir jalan, atau memberikan uang lima ribu rupiah kepada pengamen yang berkeliling dari warung ke warung.

“Terima kasih, ya!” dan beribu hal-hal lain dari alasan tersebut pasti hampir selalu berhasil membuat bibirmu tersenyum. Kamu merasakan sesuatu, apapun itu yang pasti kamu merasa lebih baik.

Lalu mungkin kamu pernah terlambat menghadiri rapat, atau sibuk mencari dompet yang hilang di kamar padahal abang gojek sudah menunggumu di depan rumah.

“Terima kasih sudah menunggu,” katamu. Little did you know, kalimat yang kamu lontarkan itu sudah mencairkan suasana.

Kapan Terakhir Kamu Bersyukur?

Bersyukur, kapan terakhir kali kamu melakukannya? Mungkin terkadang, kamu sudah “terbiasa” dengan kebaikan dan hal-hal positif dalam keseharianmu (tenang, kamu tidak sendiri) sehingga kamu sering kelupaan untuk bersyukur.

Tapi aku kan selalu bersyukur, cuma seringnya tidak aku tunjukkan saja, pikirmu. Well, aku juga akan mengatakan hal yang sama, sepertinya. Namun ternyata tindakan yang sering kita lewatkan ini, atau dalam bahasa inggris taken for granted, ternyata memiliki dampak yang positif baik bagi diri kita maupun orang-orang di sekitar kita.

Penasaran? Nah, dikesempatan kali ini aku bakal ngajak kalian semua untuk melihat berapa bersyukur ternyata bisa memberikanmu dampak yang (mungkin sebelumnya belum kamu ketahui). Tapi, sebelum kamu baca artikel ini aku mau ngucapin Terima Kasih karena udah setia buat mengikuti Satu Persen, so langsung aja…

Sebenernya, Apa sih Manfaat dari Bersyukur?

1. Bersyukur Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Kamu

Baik secara fisik maupun mental. Ya, kamu ngga salah baca. Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh dua Psikolog; yakni Dr. Robert A. Emmons dari University of California, Davis, dan Dr. Michael E. McCullough dari University of Miami; di mana mereka mengelompokkan partisipan penelitian mereka menjadi tiga kelompok.

Setiap minggu, kelompok pertama harus menuliskan hal-hal yang terjadi yang mereka syukuri selama seminggu, kelompok kedua harus menuliskan hal-hal yang membuat mereka jengkel dan kesal, dan kelompok ketiga menuliskan hal-hal yang terjadi dalam seminggu (tanpa penjelasan lebih lanjut tentang spesifik kejadian). Setelah 10 minggu, kelompok pertama menunjukkan optimisme dan merasakan hidup mereka menjadi lebih baik (Healthbeat, n.d).

Bersyukur membantu kita melepas perasaan negatif dengan cara memfokuskan diri terhadap hal baik yang ada, yang terjadi pada kita. Ketika perasaan negatif berkurang, kesejahteraan diri pun dapat terlihat mengalami perkembangan. Ketika kamu bersyukur dan berterima kasih kepada orang lain akan hal yang mereka lakukan/berikan padamu, akan menjadi sulit bagimu untuk terus merenungkan hal-hal buruk yang kamu alami (Wong & Brown, 2017).

Bersyukur, seperti yang aku sampaikan di atas, sangat membantu kamu untuk fokus kepada apa yang kamu miliki, yang terjadi padamu, atau diberikan padamu alih-alih berfokus pada apa yang tidak ada padamu. Nah, mungkin buat kamu yang merasa kesulitan untuk fokus bisa mencoba untuk menerapkan mindfullness.

Sebuah penelitian mengatakan dalam Jurnal yang ditulis oleh Jo-Ann Tsang mengatakan bahwa orang-orang yang sulit atau bahkan tidak mau bersyukur akan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah ketimbang orang yang sering bersyukur. Sama halnya dengan orang yang narsistik, mereka sulit untuk bersyukur karena mereka berpikir bahwa sudah sepantasnya mereka mendapatkan perlakuan/hal yang terjadi pada mereka. (Allen, 2018)

Sederhananya, orang yang narsistik merasa “Ya emang aku tuh pantes dapat itu ngapain aku bersyukur?” … Terdengar buruk ya? Jangan sampai kamu sering merasa seperti itu ya!

2. Bersyukur Bisa Membuka Peluang dan Menangkap Hati Orang Lain

Hahh, menangkap hati orang lain? maksudnya gimana tuh vend!. Jadi gini, selain memberikan dampak baik bagi dirimu, bersyukur ternyata memiliki dampak baik loh bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarmu. Menurut sebuah penelitian di tahun 2014, bersyukur atau berterima kasih kepada orang-orang di sekitarmu dapat memperbesar kemungkinan hubunganmu dengan mereka berkembang ke arah yang lebih baik (Morin, 2015).

Bersyukur juga memiliki fungsi yang menarik: “find, remind, bind”. Dengan bersyukur atas kehadiran orang lain, kamu bisa menemukan (find) orang atau kualitas dari orang-orang di sekitarmu yang baik untuk dirimu ke depannya; kamu juga senantiasa mengingatkan (remind) mereka akan kebaikan diri mereka yang tertangkap olehmu; dan kamu akan mampu terikat (bind) pada orang-orang tersebut karena kalian saling menghargai dan mendukung satu sama lain untuk terus menjaga hubungan kalian. (Allen, 2018) Hal yang mungkin “sesederhana” ini memegang peran penting dalam menjaga hubunganmu dengan orang lain. Asik juga.

Dengan terus bersyukur, kamu juga akan lebih mudah untuk berempati dengan orang lain. Sebuah penelitian di University of Kentucky pada tahun 2012 mengatakan bahwa orang yang sering bersyukur (atau dalam hal ini memiliki tingkat bersyukur yang tinggi) lebih berempati dan lebih sulit untuk membalas dendam (Morin, 2015). Hal yang sama juga diutarakan oleh Summer Allen (2018) bahwa orang yang sering bersyukur lebih memungkinkan untuk bertindak baik dalam masyarakat, contohnya ketika kamu dibantu oleh orang lain, kamu berterima kasih pada orang tersebut. Hal itu akan memberikan dorongan bagimu untuk berbuat baik kepada orang lain juga (tidak selalu membalas budi kepada orang yang sama). Seperti chain reaction lah.

Jadi dapat dipastikan dengan bersyukur, kita tidak hanya membawa perubahan dan dampak baik bagi diri kita, namun juga pada lingkungan di sekitar kita!

Lalu apakah semua dampak ini bisa langsung kamu rasakan?

Bersyukur Sebaiknya Dijadikan Kebiasaan

Hal yang instan di dunia ini hanya mi instan dan kamu baper abis dibaikin dikit. Dampak-dampak yang aku sebutkan di atas tentu saja bisa kamu rasakan, namun tidak selalu terjadi begitu saja.

Oleh karena itu, sebaiknya kamu (dan aku, dan kita semua) mulai lebih bersyukur dalam hidup! Sesekali kita menyerah dalam iri dengki dan perasaan negatif lainnya tidak apa, namanya juga manusia. Tetapi ingatlah untuk selalu bersyukur atas hal yang kamu punya, atas hal yang terjadi padamu, atas orang-orang yang ada di sekitarmu.

Setelah membaca artikel ini, yuk, kita coba mengutarakan rasa terima kasih terhadap apapun.siapapun itu. Tulis saja dulu, buat saja dulu. Masalah mau beneran diutarakan atau tidak, itu nanti. Karena perasaan bersyukur yang tidak tersampaikan pun tetap memiliki dampaknya bagi dirimu.

Seringlah Bersyukur, Ya!

Akhir kata, semoga tulisanku ini bisa memberikan insight tentang pentingnya bersyukur padamu ya! Terima kasih sudah membaca sampai di sini! Kalau kamu penasaran bagaimana caranya supaya bisa terus bersyukur, coba tonton video ini!

Oh dan satu lagi. Kamu juga harus bersyukur dan berterimakasih pada DIRIMU SENDIRI. Jangan lupakan dirimu, ya. Kamu adalah orang yang hebat dalam caramu sendiri. Terima kasih sudah menjaga dirimu sampai saat ini!

Jangan lupa juga untuk selalu mencintai diri sendiri ya. Jangan terus-terusan membandingkan dirimu dengan orang lain sehingga kamu kurang bersyukur. Coba ikut Tes Self-love yuk supaya kamu makin paham cara mencintai dirimu sendiri.

Nah, kalau kamu masih merasa sulit untuk bersyukur, kamu boleh banget berkonsultasi dengan mentor di Satu Persen. Satu Persen menyediakan layanan mentoring online. Kamu bisa curhat secara one-on-one kepada mentor sehingga kamu bisa mendapatkan insight cara bersyukur yang baik.

Kalau kamu mendapati kesulitan untuk menghargai dirimu sendiri, mungkin video ini bisa membantu. Thanks for being here!
Semoga tulisanku ini bisa berguna buatmu ya! Kalau kamu mau cek tulisanku yang lain, aku sedang menulis cerita di wattpad, judulnya LIGHT dan aku memiliki LINE Official Account tempatku menulis (ID: @ans3035i) Terima kasih banyak!

References

Allen, S. (2018). The Science of Gratitude. UC Berkeley: Greater Good Science Center.

Healthbeat. (n.d). Giving thanks can make you happier. Retrieved from Harvard Health Publishing: https://www.health.harvard.edu/healthbeat/giving-thanks-can-make-you-happier#:~:text=In%20positive%20psychology%20research%2C%20gratitude,adversity%2C%20and%20build%20strong%20relationships.

Morin, A. (2015, April 3). 7 Scientifically Proven Benefits of Gratitude. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201504/7-scientifically-proven-benefits-gratitude

Wong, J., & Brown, J. (2017, June 6). How Gratitude Changes You and Your Brain. Retrieved from Greater Good Magazine: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_gratitude_changes_you_and_your_brain

Read More
judi

Kapan Kita Harus Konsultasi ke Psikolog? (Konseling Online)

Gambar oleh Satu Persen - Konsultasi Psikologi Konseling Online
Satu Persen – Konsultasi Psikologi Konseling Online

Hello Perseners!

Kamu lagi stress gak? Bentar, bentar, kok jadi gitu pertanyaannya. Oke, gini aja, kamu pernah gak sih, merasa hidupmu itu lagi benar-benar kacau? Kayak, apapun yang kamu lakukan itu seperti tidak teratur, dan semakin hari semakin menjenuhkan.

Kamu merasa butuh bantuan, tapi kamu gak mau self-diagnose. Di sisi lain, kamu juga gak mau lebih lama lagi hidup dengan kondisi buruk seperti itu. Duh, enaknya gimana?  Kalau mau konsultasi ke psikolog, nanti bisa dicap aneh-aneh sama masyarakat. Duh, duh duh!

Oke, pertama-tama, aku mau bilang padamu bahwa there’s no shame in seeking help! Kamu tidak perlu takut ketika merasa butuh pergi konsultasi ke psikolog. Pertanyaannya sekarang adalah, kapan kamu harus pergi ke psikolog?

Apa yang Harus Kamu Ketahui?

Sederhananya begini, jika kamu merasa butuh berbicara empat mata dengan orang lain. Terutama tentang masalah hidup. Nah, pergi untuk konsultasi ke psikolog. Atau jalin hubungan dengan keluarga, teman, lingkungan sosial, atau bahkan mencari jati diri.

Konsultasi ke psikolog bukan sekedar curhat doang, loh. Kamu bisa mendapatkan feedback mengenai masalah yang sedang kamu hadapi. Kamu bisa merasa dimengerti oleh mereka dan actually getting your problems addressed ketika ngomong ke psikolog.

Sedangkan ketika kamu mengalami penyakit mental yang sudah mengganggu rutinitas dan kehidupan sehari-harimu. Atau kamu ingin berbicara mengenai medikasi yang tepat, kamu dapat pergi ke psikiater.

Jika kamu masih ragu, ada baiknya bertanya pada orang-orang terdekat atau sedekar berdiskusi dengan psikolog/psikiater yang kamu tahu untuk memastikan langkah apa yang sebaiknya kamu lakukan ke depannya.

Kalau aku pribadi, biar gampang mengingatnya, psikolog itu tanpa medikasi, psikiater itu dengan medikasi. Oke lanjut, kapan kamu harus berhenti menghadapinya sendiri dan konsultasi ke psikolog?

Kamu Merasa Semuanya Penuh Tekanan

Tentu saja kita sering merasa sedih dan gelisah, tapi tidak jarang perasaan tersebut hanya kekhawatiran sementara. Namun jika kamu merasakan emosi-emosi tersebut dalam intensitas yang mengganggu rutinitasmu, kurasa sudah waktunya kamu pergi membicarakannya dengan seseorang.

Ketika kamu merasa hal-hal dalam hidupmu membuatmu menghindari banyak hal, dan dengan kamu menghidari hal tersebut hidup semakin rumit dan malah membuatmu overthinking serta merasa hidupmu sangat teratur, seorang psikolog akan sangat membantumu.

Yang utama adalah, ketahui limitmu sendiri. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa kamu tidak kuat dalam menghadapi masalah hidup, hanya saja, mohon untuk memperhatikan kesehatanmu sendiri.

Don’t be too harsh on yourself!

Kamu Mencari Pelampiasan

Game, makan, belanja, atau bahkan bekerja. Apapun bisa jadi pelampiasan. Kamu mencari hal-hal yang dapat membantumu untuk menekan perasaan yang kamu rasakan.

Contohnya dulu aku sempat pergi ke warnet untuk meredam isi kepalaku, karena dengan bermain game, aku dapat sejenak log out dari dunia nyata dan hidup dalam kebahagiann fana yang sementara. Tentu saja aku merasa senang, tapi tidak ketika aku kembali tersadarkan bahwa hidupku masih berlanjut dan masalah tersebut masih ada.

Yang ada, aku malah semakin gak karuan. Huh. Pelampiasan itu ada kadarnya tersendiri, kalau kamu merasa sudah dalam frekuensi yang tidak sehat, ding ding it’s time to go see a psychologist or just talk about your problems!

Kamu Mengalami Penurunan Performa

Wow, udah kayak apa aja, ‘penurunan performa’. Anyways, kadang hidup sudah terlalu rese sehingga kamu serta isi kepala dan hatimu senantiasa memperlambat performamu baik di dunia kerja, sekolah, maupun lingkungan sosialmu.

Kamu jadi susah fokus ketika belajar, kamu tidak merasakan kebahagiaan lagi ketika melakukan hal-hal yang biasanya kamu suka, hubunganmu dengan orang lain terasa memudar, dan your overall life experience feels numb.

Apakah kamu pernah mencapai titik tersebut? Titik jenuh yang benar-benar jenuh? Kalau sudah pernah, apa yang kamu lakukan? Kuharap kamu paling tidak curhat dengan teman atau membicarakannya dengan seseorang. Kalau kamu masih saja memendam semuanya sendiri, hentikan.

Hentikan tindakan yang merusak diri itu. Mungkin kamu berpikir bahwa dengan kamu menceritakannya pada orang lain, kamu akan merepotkan. Sesungguhnya tidak! Kalau kamu masih bersikeras demikian, maka konsultasilah ke psikolog terdekat.

Sungguh, lebih baik untuk membicarakan masalah yang kamu miliki ketimbang menyimpannya sendiri, karena suatu saat nanti endapan masalah-masalah tersebut akan meledak ketika kamu benar-benar mencapai batas. Kamu mungkin akan mendapati dirimu menangisi mie goreng yang jatuh ke wastafel atau susu yang tumpak ke lantai karena benar-benar sedang dalam kondisi yang tidak baik.

Jangan sampai seperti itu, ya!

Teman-Temanmu Mengkhawatirkanmu

Aku pribadi merasa  ini yang paling jelas. Ketika teman-temanmu -tidak perlu yang terdekat- merasa ada yang aneh denganmu, that’s a big sign.

Mungkin kamu merasa baik-baik saja, namun kadang pendapat orang lain sangat bisa membantumu untuk menilai keadaan. Kamu terkadang butuh, loh, orang-orang dari luar untuk melihat hal-hal yang tidak bisa kamu sadari dari dalam diri sendiri.

Yup, kurasa sampai di sini saja. Akhir kata, semoga tulisanku ini berguna ya! Oh iya, kalau kamu ingin konsultasi, Satu Persen menyediakan layanan konseling loh! Kamu bisa mengunjunginya dengan klik gambar dibawah ini yah! Kalau masih ragu, coba deh ikut tes konsultasi dulu supaya kamu menemukan layanan yang cocok untuk kondisi kamu.

CTA-Blog-Post-06-1

Semoga harimu menyenangkan!

References

Bhatia, P. (2020, November 23). Should You See a Psychiatrist or a Psychologist First? Retrieved from Pacific Health System: https://pacifichealthsystems.com/blog/should-you-see-a-psychiatrist-or-a-psychologist-first/

Muller, G. (n.d). How do you know if you should see a Psychologist? Retrieved from The Psych Professionals: https://psychprofessionals.com.au/signsyouneedapsychologist/

Read More
judi

Mengapa Kita Memiliki Imajinasi yang Mengganggu?

pikiran intrusif
Satu Persen – Pikiran Intrusif

Halo, Perseners! Apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan baik dan bahagia selalu, ya!

Perkenalkan aku Anggi, Part-time Blog Writer Satu Persen.

pikiran intrusif
Source: The New Yorker

Setiap hari, kepala kita sibuk memikirkan berbagai macam hal. Sebuah studi menemukan bahwa otak manusia menghasilkan sekitar 6.200 pikiran per hari. Banyak sekali, bukan? Pikiran-pikiran ini bisa bersifat negatif, positif, atau bahkan muncul dalam bentuk pikiran-pikiran acak yang nggak berarti.

Tetapi, pernahkah kamu memiliki imajinasi negatif atau positif yang seakan mengganggu? Misalnya, saat kamu mengendarai mobil, terlintas keinginan untuk menginjak pedal gas dalam-dalam dan menabrak mobil yang ada di depanmu, atau mungkin kamu pernah berpikir untuk menyakiti diri saat sedang menggunakan benda tajam?

Nah, jika iya, pikiran-pikiran itulah yang dikenal dengan pikiran intrusif.

Setiap orang memiliki pikiran yang intrusif dari waktu ke waktu. Kebanyakan orang bisa mengabaikannya seakan-akan itu hanyalah angin lalu. Namun, beberapa orang mungkin memiliki kondisi mental yang membuat mereka kesulitan mengendalikan pikiran-pikiran yang bersifat intrusif ini.

Maka dari itu, melalui blog ini kita akan memahami lebih dalam perihal pikiran intrusif, mulai dari apa itu pikiran intrusif, penyebab, jenis-jenisnya, hingga cara untuk menghilangkan pikiran negatif yang intrusif.

Jadi, simak baik-baik, ya pembahasannya!

Apa itu Pikiran Intrusif?

apa itu pikiran intrusif
Source: My Therapy NYC

Pikiran intrusif adalah pikiran yang tidak diinginkan dan muncul secara tiba-tiba. Menurut Anxiety and Depression Association of America (ADAA), pikiran intrusif muncul tanpa disengaja dan tanpa ada hubungannya dengan kenyataan atau keinginan seseorang.

Pikiran intrusif bisa muncul dalam bentuk apa saja. Pikiran negatif ini dapat berupa imajinasi atau pikiran yang bersifat brutal dan menjijikan, atau muncul dalam bentuk kekerasan, seksual, dan bertentangan dengan nilai-nilai.

Selain itu, pikiran intrusif juga bisa bersifat eksplisit. Inilah mengapa orang kerap kali merasa terkejut, nggak nyaman, atau bahkan sulit menerima apa yang telah mereka pikirkan, meski pikiran-pikiran ini nggak benar-benar direalisasikan di kehidupan nyata. Sebagian orang lainnya juga mungkin merasa malu karena memiliki pemikiran yang bersifat intrusif, sehingga mereka merahasiakannya atau bahkan menolak untuk mencari bantuan.

Penyebab Pikiran Intrusif

Para peneliti dan psikolog masih mempertanyakan alasan mengapa pikiran intrusif dapat tiba-tiba muncul di benak manusia. Meski begitu, terdapat teori yang setidaknya bisa menjawab  pertanyaan ini.

Dikatakan bahwa pikiran intrusif adalah hasil dari masalah-masalah yang pernah dihadapi seseorang di kehidupan. Kadang kala orang dihadapi dengan masalah-masalah, seperti masalah keluarga, percintaan, dan pekerjaan, yang coba dikunci rapat-rapat di alam bawah sadar.

Namun, tindakan ini sering kali nggak berhasil. Sedemikian ketika masalah-masalah ini muncul kembali ke alam sadar manusia, biasanya mereka dapat muncul dalam bentuk pikiran intrusif.

penyebab pikiran intrusif
Source: The Mighty

Dalam beberapa kasus, pikiran intrusif disebabkan oleh masalah kesehatan mental yang ada di dalam diri kita, seperti OCD, PTSD, gangguan makan, dan kecanduan. Pikiran-pikiran ini juga bisa menjadi gejala masalah kesehatan lain, seperti cedera otak.

Jenis-jenis Pikiran Intrusif

Ada banyak jenis pikiran intrusif yang berpotensi menimbulkan rasa bersalah, takut, malu, atau nggak nyaman. Berikut ini adalah jenis-jenis pikiran intrusif yang paling umum ditemukan:

1. Seksual

Sebagian orang mungkin memiliki pikiran-pikiran perihal tindakan seksual yang dianggap tabu. Pikiran seksual intrusif dapat muncul dalam bentuk mempertanyakan orientasi seksual dan tendensi untuk melakukan tindakan seksual dengan seseorang. Salah satu contohnya adalah ketakutan akan memiliki anggota keluarga atau ketakutan akan orientasi seksual.

Meskipun orang dengan pikiran intrusif jenis ini tidak benar-benar merealisasikan apa yang mereka pikirkan, akan sulit bagi mereka untuk membicarakan masalah ini, sehingga mungkin menyebabkan mereka ragu untuk mencari pertolongan.

Baca Juga: Kenali Compulsive Sexual Behavior, Gangguan Seksual yang Buat Candu

2. Hubungan

Orang-orang mungkin khawatir tentang hubungan mereka, di mana pikiran-pikiran ini dapat menimbulkan kecemasan. Pikiran intrusif terkait hubungan misalnya: kamu terlalu terobsesi menganalisis perilaku pasanganmu, kamu sering mencari-cari kesalahan pasanganmu, atau kamu terus-menerus mencari kepastian dan meragukan kesetiaan pasanganmu.

3. Pikiran Negatif

pikiran negatif
Source: Know Your Meme

Pikiran negatif tentang diri sendiri adalah salah satu gejala umum depresi. Saat sedang sedih, pikiran-pikiran negatif seperti misalnya: “Aku pecundang” atau “Aku benar-benar nggak berharga” kerap muncul.

Emosi di balik pikiran-pikiran negatif ini bisa begitu kuat, sehingga membuat kamu berpikir bahwa apa yang kamu pikirkan itu adalah faktanya, padahal itu hanya pikiran intrusif.

4. Keraguan

Keraguan adalah salah satu jenis pikiran intrusif yang paling umum. Kamu bisa ragu akan aspek-aspek besar hingga kecil dalam hidup kamu.

Sebagai contoh, pikiran intrusif mungkin dapat menyebabkan kamu meragukan pacarmu atau mempertanyakan orientasi seksual kamu. Kemudian, kamu juga mungkin aja ragu tentang apakah kamu sudah mematikan kompor, mengunci pintu, atau mengirim pesan teks ke orang yang tepat.

5. Kekerasan

Pikiran mengganggu tentang melakukan tindakan kekerasan atau sesuatu yang ilegal juga sangat umum dialami. Kamu mungkin berpikir untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Contohnya, kamu ingin membunuh orang yang kamu cintai, menggunakan pisau untuk melukai diri sendiri atau orang lain, meracuni makanan seseorang, dan lain sebagainya.

kekerasan
Source: The Mighty

Orang yang mengalami pemikiran ini mungkin menghindari tempat umum dan kontak dengan orang-orang. Biasanya, nggak ada arti di balik pikiran-pikiran ini. Kamu nggak mau melakukannya, tapi kepalamu seringkali membayangkannya. Hal ini membuat kamu mempertanyakan dirimu sendiri “Apakah benar ini yang aku inginkan?”. Dengan demikian, kamu takut bahwa jauh di lubuk hati, sebagian dari diri kamu memang ingin melakukannya, dan itulah mengapa kamu begitu memikirkannya.

Bagaimana Cara Mengatasi Pikiran Intrusif yang Negatif?

Source: Ahseeit

1.Terima kenyataan bahwa kamu memiliki pikiran intrusif

Hal pertama yang sebagian orang lakukan saat dihadapkan dengan pikiran intrusif adalah mencoba untuk melupakannya. Akan tetapi, ada kemungkinan metode ini bisa menghasilkan efek sebaliknya– kamu hanya akan semakin memikirkan pikiran-pikiran negatif ini.

Alih-alih secara sadar menekan pikiran kamu, cobalah untuk mengalihkan perhatian dari pikiran intrusif dengan melakukan aktivitas yang menarik. Misalnya dengan menyelesaikan puzzle atau membaca buku.

Selain itu, jangan mencoba mencari tahu apa arti di balik pikiran intrusif yang negatif ini. Atau menggunakan berbagai langkah pencegahan yang kurang tepat karena ini akan menyebabkan diri sendiri memberi perhatian ekstra pada pikiran-pikiran intrusif. Demikian, menerima dan menyadari bahwa kamu memiliki pikiran intrusif adalah salah satu cara untuk menghilangkan pikiran negatif dengan sendirinya. Ini karena pikiran intrusif jadi nggak lagi berarti apa-apa ketika kamu mengakui kehadirannya.

2. Identifikasi pola pikiran negatif kamu

Sering kali pikiran kamu nggak sepenuhnya acak, dan aktivitasmu sehari-harilah yang mempengaruhinya. Nah, untuk mengatasi ini, membuat jurnal tentang pikiran-pikiran intrusif yang negatif kamu dapat membantu kamu dalam memahami polanya.

Selain daftar pikiran kamu, catat juga bagaimana suasana hati dan aktivitas apa saja yang kamu lakukan. Saat kamu mulai memikirkan pikiran yang serupa, lihat catatan tersebut dan coba identifikasi polanya.

Mungkin pikiran-pikiran ini muncul ketika kamu memiliki banyak waktu luang, atau mungkin muncul setelah kamu menonton film kekerasan. Dengan melacak pola-pola ini, kamu mungkin dapat menemukan akar masalahnya dan memperbaiki masalah yang mendasarinya.

Baca Juga: Pikiran Negatif Merusak Hidup Positif

3. Terapkan perubahan positif ke dalam rutinitas harian kamu

Jika kamu mulai menanamkan kebiasaan hidup yang positif, kamu akan cenderung nggak  memiliki ruang untuk hal-hal yang negatif. Jadi, kenapa nggak coba membentuk kebiasaan-kebiasaan yang terbukti dapat membuat kamu merasa lebih baik? Misalnya dengan membentuk kebiasaan makan makanan sehat, berlatih yoga, atau jalan-jalan di luar.

Apabila kamu merasa lebih sering memiliki pikiran intrusif pada pagi hari, maka lakukan aktivitas ini segera setelah kamu bangun tidur. Pergeseran dalam pola pikir dapat menjadi salah satu cara agar tidak berpikir negatif.

perubahan positif
Source: Meme

4. Terapi kognitif perilaku (CBT)

Individu yang memiliki pikiran intrusif dari Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau Post-traumatic Stress disorder (PTSD)  kompleks mungkin bisa mengatasinya dengan berlatih menerapkan mindfulness. Namun, tentu saja ini nggak cukup.

Perawatan lain seperti terapi kognitif perilaku atau CBT mungkin dibutuhkan. CBT telah terbukti 70% efektif pada pasien dengan OCD. Sebagai perawatan yang  melibatkan detoksifikasi pikiran intrusif negatif, pasien perlu mengatasi ketakutan mereka yang nantinya dapat membantu meringankan kompulsi, yakni tindakan fisik atau mental yang berulang-ulang.

Baca Juga: Mengenal OCD, Gangguan Penyakit yang Menimbulkan Kecemasan

Setiap orang pasti pernah memiliki pikiran intrusif dari waktu ke waktu. Pikiran-pikiran ini mungkin bisa bikin nggak nyaman, apalagi jika muncul dalam bentuk pikiran negatif. Keep in mind bahwa ini cuma salah satu dari sekian banyak hal yang kamu pikirkan setiap hari. Biar kamu semakin paham sama pikiran diri sendiri, coba ikuti Tes Sehat Mental ini.

Namun, apabila kamu sudah berusaha keras untuk mengabaikannya dan pikiran ini justru semakin tak terkendali, ada baiknya kamu segera mencari bantuan dari tenaga ahli. Salah satunya, kamu bisa coba konseling dengan psikolog-psikolog profesional yang ada di Satu Persen.

Melalui layanan Konseling Satu Persen, kamu bisa melakukan konsultasi one-on-one dengan psikolog Satu Persen yang dapat membantu kamu menghadapi masalah-masalahmu. Nggak cuma itu, kamu juga akan mendapatkan tes-tes untuk mengenal diri kamu lebih dalam seperti Tes Kesehatan Mental, Kepribadian, dan Minat Karir.

Nah, untuk informasi lebih lengkapnya, kamu bisa klik gambar di bawah ini:

CTA-Blog-Post-06-1-16

Sebagai referensi tambahan, kamu juga boleh banget tonton video Youtube Satu Persen di bawah ini. Pas buat kamu yang pengin belajar cara menghilangkan pikiran negatif dan menjaga energi positif.

So, sekian tulisan ku kali ini. Aku Anggi Part-time Blog Writer Satu Persen pamit undur diri! Semoga tulisan ini bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan ku berikutnya!!

Sumber:

  • Veazey, Karen. (2021). Examples of Intrusive Thoughts You Might Be Having (And When They Become Problem). Good RX Health. Retrieved, 9 January 2022, from https://www.goodrx.com/conditions/obsessive-compulsive-disorder/intrusive-thoughts-examples
  • Kandola, Aaron. (2020). What are Intrusive Thoughts?. Medical News Today. Retrieved, 9 January 2022, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/intrusive-thoughts
  • https://www.rtor.org/2020/05/18/5-ways-to-free-your-mind-from-intrusive-thoughts/
  • Childrey, Krystal. (2020). 5 Ways to Free Your Mind from Intrusive Thoughts. Rtor.org. Retrieved, 9 January 2022, from https://screening.mhanational.org/content/types-intrusive-thoughts/
  • Northpoint. (2020). 7 Tips on How to Stop Intrusive thoughts. Retrieved, 9 January 2022, from https://www.northpointrecovery.com/blog/7-tips-deal-stop-intrusive-thoughts/
  • OCD UK. (2021).  What are compulsions?. Retrieved, 15 January 2022, from https://www.ocduk.org/ocd/compulsions
Read More
judi

Kapan Kita Harus Keluar Dari Zona Nyaman?

Siapa sih yang gak tau Deddy Corbuzier? Gue yakin lo semua udah pada tau. Om Deddy ini beberapa kali di mention sebagai The Godfather of Youtube Indonesia, atau bisa dibilang Bapaknya Youtube Indonesia lah.

Foto tim Satu Persen Bertemu Om Deddy Corbuzier

Youtuber dengan 18 Juta Subscriber ini sukses ngebangun Podcast Close The Door, yang bisa dibilang jadi salah satu Podcast paling sukses dan paling populer di Indonesia saat ini. Saking gokilnya, setiap ada drama di kalangan artis Indonesia, terus rame nih, eh besoknya artis itu udah ada lagi di Podcast Om Ded. Ada drama, rame nih, besoknya muncul. Ada drama nih, keliatannya rame nih, besoknya udah muncul lagi. Begitu aja terus sampe kita hafal sama polanya. Bahkan, gue pernah liat meme Will Smith yang diwawancara Om Ded karena drama di panggung Oscar 2022.  Rasanya kayak gak afdol aja gitu kalo belum ada klarifikasi di Podcast Om Ded wkwkwk.

Tapi, lo tau gak sih kalo ini bukan kali pertama Om Ded sukses di hal yang dia tekuni?

Di tahun 2010, dia pernah dapet penghargaan sebagai orang Asia pertama yang dapet gelar World Best Mentalist. Mungkin beberapa dari lo juga pertama tau Om Ded dari aksi-aksi sulapnya di atas panggung. Gak cuma itu, dia juga pernah jadi host di salah satu talkshow yang bisa gue bilang populer dan berhasil lah, yaitu Hitam Putih. Dan masih banyak lagi hal yang Om Ded lakuin, dan dia sukses di sana.

Pertanyaannya, kok bisa sih, Om Ded terus sukses meskipun berkali-kali ganti haluan?

Pertama, gue mau ngejelasin dulu salah satu konsep yang dikenalin sama Dr. James Carse di pertengahan tahun 1980. Beliau mendefinisikan hidup ini sebagai “permainan” (dalam tanda kutip) yang dibagi jadi 2 jenis, yaitu Finite Game dan Infinite Game. Konsep ini juga dipopulerkan kembali oleh Simon Sinek, Psikolog Amerika di bukunya yang berjudul The Infinite Game.

Finite Game

Finite Game adalah permainan yang lo tau siapa aja pemainnya, lo tau aturannya gimana, aturan itu bersifat kaku alias gak bisa berubah dan udah disepakati oleh setiap pemain, dan tujuannya adalah memenangkan permainan. Contohnya, permainan sepak bola.

Pemainnya udah jelas 11 orang, gak mungkin kan tiba-tiba jadi 12 gitu wkwkwk. Terus peraturannya kaku, 2 kali 45 menit, kalo seri ada perpanjangan waktu. Dan tujuannya jelas, yaitu menang meskipun ada beberapa kasus yang hasil pertandingannya seri. Tapi intinya, selalu ada yang menang dan selalu ada yang kalah.

Infinite Game

Sedangkan Infinite Game adalah permainan yang lo gak tau siapa aja pemainnya, which is setiap orang bisa keluar masuk kapanpun. Peraturannya sangat fleksibel, gak tetap, dan bisa banget berubah. Tujuannya bukanlah menang kayak Finite Game tadi, tapi bermain selama mungkin, atau simpel nya bisa survive.

Contohnya, kehidupan. Manusia udah hidup berabad-abad lamanya sampe bisa bertahan hingga ke generasi kita sekarang, si paling healing wkwk. Mungkin kita tau berapa banyak manusia di bumi sekarang, tapi kita gak tau siapa aja orangnya. Dan gak ada peraturan yang baku tentang hidup, lo bisa hidup gimanapun caranya, dan jadi apapun yang lo mau. Dan ya, tujuannya adalah tadi, bisa bertahan hidup. Gak ada istilah menang atau kalah dalam hidup.

Kalo kata Simon Sinek, yang jadi permasalahan sekarang adalah: banyak orang yang masih belum tau dia lagi main di jenis permainan yang mana. Ibaratnya kayak lo main buat menang di permainan yang gak ada akhir. Sampe kapanpun lo gak akan menang karena permainan itu gak akan pernah beres. Atau mungkin sebaliknya, lo main buat survive di permainan yang cuma berdurasi 90 menit. Bakal susah buat lo ngalahin lawan yang all out di 90 menit itu.

Biar makin kebayang, gue kasih contoh lagi nih, yaitu fenomena Es Kepal Milo yang hype banget pada masanya. Gue liat gak sedikit orang yang akhirnya ikut jualan makanan itu juga, bahkan menggantungkan hidupnya kesana. Eh tapi nyatanya, trend Es Kepal Milo gak bertahan selama itu, bahkan mungkin sekarang kita udah jarang banget liat orang yang jual Es Kepal Milo, atau ngejadiin Es Kepal Milo sebagai pilihan utama kalo mau beli eskrim.

Coba lo bayangin gimana nasibnya penjual yang all out di bisnis itu, dan ternyata produknya udah gak cocok lagi sama pasarnya?

Contoh lainnya, gue mau tanya ke lo semua, siapa sih disini yang hp-nya masih pake Blackberry? Kalo ada, mungkin lo bisa bilang di kolom komentar ya, karena lo keren banget wkwkwk. Tapi, kalo dari konteks Blackberry secara produk perusahaan, bisa dibilang mereka gagal beradaptasi sama perkembangan zaman, which is pada saat itu trend android udah mulai menggeser Blackberry. Akhirnya, Blackberry pun ditinggalkan banyak penggunanya.

Masalah akan terus datang

Masalah bakal terus dateng kalo lo bermain dengan mindset yang salah. That’s why lo harus nyoba buat mempelajari dan nyari tau, sebenernya lo lagi main di permainan yang mana sih? Apakah lo harus all out buat jangka waktu tertentu, ngasih semua yang lo punya dan lo bisa, atau lo harus bisa ngatur sumber daya lo supaya bisa bertahan selama mungkin?

Kalo di kasus Infinite Game, tadi ya, tujuannya bukan menang tapi bertahan selama mungkin. Makanya orang-orang yang punya mindset kayak gini bener-bener gak takut sama perubahan. Mereka bisa aja ninggalin apa yang mereka lakuin sebelumnya, demi bisa bertahan. Contohnya, Deddy Corbuzier yang ninggalin panggung sulap, padahal Om Ded udah jadi pesulap no 1 di dunia. Atau mungkin Reza Arap, Gamer Ganteng Idaman yang ngasih channel youtube nya gitu aja, dan mulai masuk ke industri yang baru. Karena mungkin buat mereka, ada yang lebih penting dari menang, yaitu bisa bertahan di industri ini selama mungkin.

Ada satu kutipan yang gue suka dari Om Ded. Gue lupa spesifik nya gimana, tapi intinya gini, “Orang hebat, adalah orang yang tau kapan dia harus mulai, dan kapan dia harus berhenti.” Gue sepakat sih, dan ini relate sama kasus Infinite Game. Karena di dunia yang serba cepat dan instan ini, lo bener-bener harus memperhatikan timing. Lo harus tau kapan waktu yang pas buat mulai, kapan waktu yang pas buat lo berhenti, dan mulai melakukan hal yang baru.

Ada satu kata kunci yang bisa bikin lo punya mindset sebagai pemain di Infinite Game, yaitu constant improvement, atau pertumbuhan yang konstan, gak pernah berhenti. Maksudnya gimana? Gue coba bikin kerangka pemikirannya ya.

Gimana caranya lo bisa survive? Lo harus bisa beradaptasi. Gimana caranya supaya lo bisa beradaptasi? Lo harus terus relevan sama perkembangan zaman. Gimana caranya biar lo terus relevan? Lo harus terus belajar. Dan mindset belajar yang paling cocok di Infinite Game adalah Growth Mindset.

Karena bisa aja, apa yang lo pelajari bulan ini, bisa 180 derajat berbeda sama apa yang lo pelajarin 3 bulan kedepan. Contohnya gue. Gue lulusan Psikologi, tapi sekarang gue harus punya skill set sebagai seorang CEO, which is itu bidangnya lebih condong ke manajemen dan bisnis.

Pada akhirnya, menjadi pemain di Infinite Game itu bisa dibilang susah-susah gampang. Kenapa? Karena kita gak diajarin gimana caranya di sekolah kita dulu. Se simpel cara menangani stres, apakah lo diajarin di kelas? Gue yakin, banyak yang gak diajarin. That’s why gue coba bangun Satu Persen ini sebagai Life School, sekolah tentang kehidupan yang bisa ngebantu lo menuju Hidup Seutuhnya, hidup yang sesuai dengan makna hidup lo dan apa yang lo inginkan. Produk-produk yang ada di Satu Persen juga kayak mentoring, kelas online, webinar, workshop, dan sebagainya, itu kita bangun tidak lain dan tidak bukan buat ngebantu hidup lo, salah satunya biar gimana caranya lo buat bisa jadi pemain di Infinite Game, punya mindset yang cocok di Infinite Game.

That’s all for now, thank you banget buat lo yang udah baca ini sampai habis. Gue harap, artikel ini bisa bermanfaat buat lo dan kehidupan lo di masa yang akan datang. Dan tadi, semoga bisa ngebantu lo menentukan mindset yang tepat dalam menjalani hidup.

Akhir kata, Gue Jhon dari Satu Persen, Thanks!

Read More
judi

Spill the Tea: Kenapa Kita Suka Gosip?

Pernah nggak sih lo baca-baca thread di twitter? Lo sadar nggak, jaman sekarang dikit-dikit semua di spill di twitter.

Tapi kok bisa ya hanya dengan tulisan, efeknya bisa bikin ramai sampai sejagad twitter bahkan bisa sampai di kuping orang-orang yang nggak punya twitter?

Media sosial saat ini sudah berkembang dengan sangat pesat. Nggak hanya twitter, ada juga instagram, facebook, Myspace, dan masih banyak lagi. Akses terhadap media sosial pun juga sangat mudah, baik anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa dengan latar belakang apapun bisa dengan mudah bergabung di dalam media sosial.

Bisa dibilang, media sosial sekarang punya pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan berita ataupun penemuan-penemuan dari para ilmuwan yang lebih kredibel. Tanpa disadari, media sosial juga lebih mudah mempengaruhi pemikiran dari pemiliknya dan bahkan bisa mengubah budaya seseorang.

Sekarang ini juga banyak banget thread-thread yang beredar di twitter yang membahas nggak hanya kebaikan orang lain, tapi juga lebih banyak membahas keburukan orang lain. Entah tweet tersebut di post karena sakit hati atau memang penulisnya ingin memberikan awareness kepada pengikutnya mengenai apa yang dia alami.

Tau nggak sih kalau ternyata thread di twitter itu termasuk gosip loh! Tapi kenapa yaa kadang kelihatan lebih menarik? Kenapa ya kita suka bergosip?

Kalian sadar nggak kalau manusia itu adalah makhluk yang judgemental! Eits jangan menolak atau marah dulu ya. Pada derajat tertentu, manusia memang selalu melakukan  judgement walaupun tidak selalu dibicarakan.

Yuval Noah Harari juga menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul “Sapiens: A Brief History of Humankind” bahwa gossip adalah bagian dari judgement. Di dalam bukunya tertulis bahwa bergosip sendiri merupakan salah satu cara untuk memperkuat ikatan secara sosial yang dapat menjadi kunci dalam bertahan hidup dan bereproduksi.

Tapi benar nggak sih kalau gosip itu hanya bentuk komunikasi buruk atau ada bentuk lainnya?

Sebenarnya, penelitian menemukan bahwa sebenarnya bergosip itu cenderung hal yang netral loh dibandingkan dengan positif atau negatif (Robin & Karan, 2019).

Gosip sendiri menurut sebagian besar peneliti didefinisikan sebagai membicarakan pihak ketiga tanpa kehadirannya (tentunya dengan terlebih dulu ada dua pihak atau lebih) (Stirling, 1956 dalam Foster, 2004; Besnier, 2009)

Baik obrolan di tempat kerja, berbagi berita keluarga, atau teks grup di antara teman-teman, tidak dapat dihindari bahwa setiap orang yang berbicara termasuk membicarakan tentang orang lain.

Faktanya, sebuah studi observasional tahun 1993 menemukan bahwa peserta pria menghabiskan 55% waktu percakapan dan peserta wanita menghabiskan 67% waktu percakapan untuk berdiskusi tentang topik yang relevan secara sosial termasuk bergosip (Gottfried, 2019).

Terus kenapa orang suka gosip?

Salah satunya karena gossip dipercaya dapat memperkuat kedekatan dari sebuah kelompok. Dengan bergosip, seseorang di dalam kelompok tersebut akan merasa lebih aman dari digosipkan di dalam kelompok dan dapat membentuk sense of belonging dari orang itu sendiri (Dunbar, 2004).

Selain itu, bergosip dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyebarkan informasi berharga ke jejaring sosial yang lebih besar. Gosip dalam arti luas dapat memainkan sejumlah peran berbeda dalam memelihara kelompok sosial sepanjang waktu (Dunbar, 2004).

Gosip juga seringkali digunakan seseorang sebagai bahan balas dendam. Orang yang tidak menyukai seseorang biasanya akan mencari kesalahan orang lain dan mencari orang lain yang tidak menyukai orang yang sama untuk berbicara hal negatif dengan orang tersebut.  yang memiliki ketidaksukaan yang sama terhadap orang yang sama.

Ketidaksukaan terhadap target gosip biasanya akan divalidasi oleh lawan bicara. Namun, kebanyakan orang bergosip karena bergosip itu menyenangkan dan menimbulkan perasaan berkuasa sehingga membicarakan orang lain membuat seseorang merasa lega.

Walaupun bergosip memiliki banyak dampak baik bagi si penggosip di dalam kelompok, tapi dampaknya akan sangat buruk loh bagi orang yang digosipkan! Apalagi, secara umum manusia lebih senang untuk mendengar hal-hal buruk dari orang lain daripada berita-berita yang bagus (Meinarno et al, 2011).

Salah satu contohnya adalah menjadikan seseorang thread di twitter, hal ini bisa memberikan rasa malu yang besar tidak hanya di dalam diri seseorang tapi juga bagi keluarga dan teman terdekatnya. Apalagi, rekam digital nggak akan pernah hilang walaupun sudah bertahun-tahun yang lalu ditulis.

Dampaknya, seseorang bisa dikucilkan secara sosial, di bully secara lebih lanjut, bahkan bisa membuat orang menjadi lebih tertutup dan takut bertemu dengan orang lain. Hal kaya gini bisa disebut sebagai cyberbullying. Bahkan untuk artis, influencer, atau politikus, sering juga diberlakukan cancel culture di mana orang tersebut akan “dihapuskan” dari masyarakat dan tidak boleh dijadikan idola atau panutan lagi.

Tapi, apakah dengan memberikan punishment di media sosial atau meng-cancel seseorang bisa menjadikan orang tersebut lebih baik? Jawabannya ya nggak juga. Seseorang mungkin akan belajar dari kesalahannya dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Tapi ketika mereka sudah jadi lebih baik, mereka sudah kehilangan kepercayaan orang-orang dan bisa jadi, mereka malah akan mengubah imagenya menjadi “bad” untuk bisa terus berperilaku buruk.

Jadi gimana caranya supaya gosip kita tetap netral?

Lo bisa mulai dengan memilah mana yang bentuknya adalah gosip negatif dan mana yang merupakan informasi atau bahkan konfrontasi langsung ke orangnya untuk memastikan yang lo dengar itu gosip atau fakta. Terakhir, akan lebih bagus kalau lo menghindari topik-topik yang akan membawa kepada obrolan negatif tentang orang lain.

Jadi, “If you don’t have anything nice to say, don’t say anything at all”. Lo juga bisa eksplor produk-produk di Satu Persen sebagai Life School, sekolah tentang kehidupan yang bisa ngebantu lo menuju Hidup Seutuhnya, hidup yang sesuai dengan makna hidup lo dan apa yang lo inginkan melalui mentoring, kelas online, webinar, workshop, dan sebagainya.

Well, sekian dari gue, thanks udah baca artikel ini. Gue Jhon, undur diri!

Read More
judi

Kenapa Kita Merasa Kesepian?

Selama menjalani kehidupan, siapa di sini yang pernah ngerasain kesepian? Atau jangan-jangan lo malah sering ngerasa kesepian selama hidup lo?

Tiap malam ngerasa sepi, sunyi, gak nyaman, hampa aja gitu rasanya bahkan buat menganggap kehadiran orang di sekeliling lo aja susah. Kayak sekarang gitu ya ketika lo udah masuk kamar, lo mau tidur, rasanya tuh ko sepi ya? Padahal tadi sore baru aja ketemu sama banyak orang.

Kesepian emang bisa dirasakan siapa aja, mau lo punya banyak temen gak punya banyak teman, semua bisa ngerasain kesepian. Mungkin kita bisa aja ngerasa kesepian saat kita dikelilingi banyak teman dan keluarga. Atau justru kita ngerasa kesepian saat kita ada di keramaian.

Kadang, kesepian ini hadir saat lo gak sendirian. Tapi kenapa orang bisa ngerasain kesepian padahal dia gak sendiri?

Well, di artikel kali ini gue akan kasih tahu lo apa penyebab kita merasa kesepian, dan gimana cara mengatasinya.

So baca artikel ini sampai habis biar lo dapat keseluruhan insightnya.

Lost Connection dari Johann Hari

Artikel ini ngebahas buku yang berjudul Lost Connection dari Johann Hari. Seperti yang udah pernah gue jelasin sebelumnya kalau buku ini ngebahas tentang 9 hal yang bisa bikin kita depresi. Beberapa diantaranya juga udah pernah gue bahas.

Dan kali ini gue akan bahas satu aspek penyebab depresi, yaitu “disconnection from others”. Maksudnya gimana? Aspek ini ngejelasin dimana seseorang ngerasa gak ‘termasuk’ ke dalam bagian suatu kelompok tertentu.

Misalnya ketika lo lagi ada di pesta temen lo yang rame dan meriah, lo malah ngerasa kayak “gue kok gak nyaman ya di sini, gue kok gak bisa nyatu ya sama orang-orang di sini, ngapain ya gue di sini”. Sampai akhirnya lo milih untuk menyendiri aja di pojokan.

Nah, ini yang bisa disebut loneliness atau kesepian. Ketika lo ngerasa sendiri dan ngerasa ke disconnect sama orang lain.

Loneliness atau kesepian ini juga bisa bikin lo ngerasa hampa, sendiri, bahkan sampai bikin lo ngerasa gak dinginkan. Sebenernya orang yang merasa kesepian ini cenderung menginginkan kontak dengan orang lain, tapi dia membentuk pikirannya kalau membangun hubungan dengan orang lain itu susah. Jadi bisa dibilang mereka punya mindset yang keliru.

Kayak yang udah gue di awal, ngerasa kesepian bisa terjadi kapan aja bahkan saat kita lagi ada di dekat banyak orang. Sesuai dengan pernyataan banyak ahli, ngerasa kesepian itu belum tentu karena orang ditinggal sendirian.

Justru kalau lo merasa sendirian padahal lo lagi gak sendiri, disitulah cara kesepian berperan dalam pikiran lo. Misalnya, lo anak baru di kantor mungkin lo akan merasa kesepian meskipun dikelilingi oleh teman sekantor lainnya.

Nah, dari contoh tadi perlu lo garis bawahi kalau kesepian itu beda dengan sendirian. Mungkin ada dari lo yang nyaman dengan kesendirian. Lo lebih suka kerja sendiri, jalan ke mall sendiri, makan di luar sendiri gitu misalnya.

Menurut Johann Hari, kesepian juga ada karena masalah mindset. Pikiran lo yang buat lo ngerasa sendirian, ngga ada yang nemenin atau yang ngebuat lo susah connect sama orang lain. Oleh sebab itu perasaan kesepian ini sifatnya juga personal, sehingga pengalaman kesepian setiap orang akan berbeda.

Mungkin kalau bisa gue gambarin secara umum kesepian adalah perasaan yang kita dapatkan ketika kebutuhan kita untuk penghargaan dari hubungan dan kontak sosial gak terpenuhi.

Contoh, ketika lo ada di suatu kelompok tertentu, mungkin lo sering ngerasa pendapat lo gak pernah didengerin. Atau ide lo gak pernah di apresiasi. Sampai akhirnya lo ngerasa kalau orang-orang itu gak menganggap lo ada.

So, kesimpulannya kalau lo ngerasa kesepian tapi lo gak sendirian, itu artinya lo lagi ke-disconnect sama orang disekitar lo. Dan kondisi ini mungkin bisa berdampak buruk buat diri lo.

Kesepian jadi masalah yang umum

Faktanya loneliness atau kesepian ini sudah menjadi masalah untuk beberapa negara. Seorang Neuroscientist, John Cacioppo kesepian juga bisa jadi penyebab stress dan depresi. Dia melakukan penelitian ini dengan mempelajari efek kesepian akut dalam penelitiannya pada tahun 1990-an.

Penelitian di Amerika sendiri, bilang kalau saat ini banyak orang yang gak punya teman dekat dan membuat mereka merasa kesepian. Bahkan di negara Inggris dan Jepang sampai menunjuk Menteri Kesepian buat menangani masalah ini.

Kesepian ini juga dapat memperparah situasi yang buruk karena membuat kita menarik diri dari orang lain, yang selanjutnya membuat kesepian itu menjadi semakin parah. Jadi kayak lingkaran setan aja gitu ya, lo kesepian bikin lo menarik diri dari lingkungan lo, abis itu makin bikin lo ngerasa kesepian. Muter aja disitu-situ terus.

Bahkan mereka dengan tingkat kesepian yang tinggi itu juga kemungkinan punya self-esteem yang rendah juga. Jadi makin banyak gitu masalahnya, belum lagi kalau lo punya self-esteem rendah nanti muncul lagi masalah baru. Wah pokoknya jadi banyak masalah gitu ya.

Nah biar hal buruk itu gak terjadi, kita butuh tau gimana cara mengatasi kesepian. Dan sekarang gue mau kasih tahu lo gimana caranya.

Dari wawancaranya Johann Hari menceritakan kisah seseorang yang punya gangguan kecemasan namanya Lisa. Untuk mengatasi gangguannya ini, Lisa disuruh gabung ke komunitas buat belajar berkebun.

Komunitasnya ini memang ngumpulin orang yang mau mulai dari 0 dan belajar untuk berkembang bersama. Dari komunitas berkebun ini mereka termasuk Lisa, mulai bisa membantu menyelesaikan masalahnya satu sama lain. Mereka jadi dekat juga satu sama lain, jadi punya koneksi dan akhirnya mereka gak merasakan kesepian lagi.

Nah cara yang sama juga bisa kita pakai untuk mengatasi kesepian. Misalnya kita bisa cari hobi baru, dari hobi lo itu bisa bangun komunitas bareng-bareng mungkin.

Kalau lo suka menanam lo bisa ikut komunitas menanam. Kalau lo suka melukis lo bisa ikut kelas melukis biar ketemu sama orang-orang yang suka melukis juga.

Karena kalau lo bangun komunitas atas dasar kesukaan yang sama biasanya punya kesempatan untuk buat bounding yang kuat juga. Lo jadi ngerasa lebih diterima. Lo juga bisa saling berbagi informasi terkait hobi lo.

Dan yang pasti dengan cara ini lo bisa mengurangi rasa kesepian lo dan membuat hidup lo lebih positif pastinya.

Mungkin hal-hal kayak gini jarang bahkan gak pernah di bahas di sekolah gitu ya. Waktu sekolah mungkin kita cuma disuruh buat gabung sama temen-temen. Tanpa dikasih tahu gimana caranya biar bisa terkoneksi sama orang lain. Apalagi kita juga belum tentu nyaman sama mereka.

Nah, jadi wajar aja kalau lo susah atau belum bisa mengatasi kesepian pakai cara tadi. Dan mungkin juga kesepian lo ini disebabkan sama masalah lain yang gak lo sadari.

Tapi tenang aja, di sini Satu Persen Hadir buat lo untuk membantu. Kalau dirasa lo udah ngelakuin berbagai cara tapi lo belum bisa mengatasi kesepian yang lo rasain. Lo coba daftar ke layanan konsultasi bersama mentor Satu Persen.

Di layanan ini lo bisa ngobrol langsung sama mentor terbaiknya Satu Persen yang udah profesional mengatasi berbagai masalah, salah satunya masalah kesepian.

Lo juga bisa tahu penyebab dari masalah lo itu apa, karena lo akan dikasih psikotes juga biar lo tahu kondisi mental lo saat ini lagi gimana. Selain penyebab, lo juga dapat solusi dari masalah lo pun bisa lo dapat dari layanan ini. Karena di layanan ini lo akan dapat worksheet yang bisa lo aplikasikan langsung ke kehidupan lo.

Yang paling penting, lo jadi bisa mengatasi masalah yang lagi lo alami dan pastinya lo akan ngerasa lebih baik paling gak 1% setiap harinya.

Kalau lo mau lihat testi dari yang lain lo bisa kunjungi websitenya satu persen di satupersen.net

Akhir kata gue undur diri. Gue Jhon. Thanks

Read More
judi

Kenapa Kita Susah Fokus?

Siapa yang lagi baca artikel ini karena lo kedistrak dari hal yang harusnya lo kerjain sekarang?

Atau misal pengen belajar terus tiba-tiba Youtube kirim notifikasi video baru, terus lo nonton video-video lain. Dan, lo akhirnya kelupaan deh ngerjain apa yang mau lo kerjain itu.

Kalau lo kayak gitu, tenang aja. Lo nggak sendirian. Makanya, di artikel ini, gue bakal jelasin kenapa kok kita kayaknya susah banget buat fokus dan gimana caranya biar kita bisa, seenggaknya, lebih fokus daripada sekarang. So, baca sampai habis ya.

Kenapa Kita Susah Fokus?

Biasanya sih ada hubungannya sama kondisi diri kita. Ada penelitian unik dari Harvard di tahun 2020. Di situ, ditemuin kalau 47% dari waktu kita itu kepake dengan pikiran kita yang kemana-mana. Jadi ada 50% kemungkinan, kalau lo lagi ngerjain sesuatu, lo lagi mikirin hal lain.  

Belum lagi distraksi dari sekitar. Kayak orang rumah pas lo lagi coba buat fokus belajar, atau paling simpel: notif dari HP yang ngasih lo update terbaru soal kondisi medsos lo saat ini bikin lo tergoda buat ngecek.

Jadi nggak heran ya, udah pada dasarnya kita makhluk yang susah fokus dan pas ditambah distraksi eksternal, susah fokusnya lebih parah.

Nah poin kedua dateng dari Nir Eyal, penulis buku “Indistractable” yang bilang kalau alasan kita suka banget buat kehilangan fokus juga karena kita berusaha melarikan diri dari hal yang nggak nyaman. Nggak nyaman ini bisa aja hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Kerjaan yang berat dan banyak banget atau hal-hal lain yang bikin kita jadi stres, cemas, kesepian, atau bosen.

Karena perasaan nggak nyaman inilah, kita bakal coba cari cara buat ngilanginnya. Seringkali, ngecek HP adalah hal yang paling mudah. Niatnya sih ngecek update medsos aja, tapi lama-lama akhirnya scrolling sampai berjam-jam.

Proses yang gue jelasin tadi adalah bentuk dari anxiety-distraction feedback loop. Jadi daripada kita benar-benar ngilangin hal yang bikin kita bosen, kita mendistraksikan diri kita dari ngerjain hal itu.

Gimana caranya biar kita bisa nggak kedistraksi sama sekali?

Kayak yang udah gue jelasin di awal tadi, kita tuh pada dasarnya emang gampang ke distraksi. Mungkin buat bikin kita 100% fokus melulu bakal susah juga. Tapi kita bisa nyusun beberapa strategi yang bikin kita nggak terlalu terlena sama distraksi.

Strategi yang bakal gue kasih cuma 2 aja nih tapi menurut gue udah strategi yang bisa banget lo coba langsung.

Pertama, Lo mungkin bisa mulai dengan misahin distraksi yang bagus bagi kita dan distraksi yang mungkin nggak bagus.

Misalnya gini. Menurut gue, notif medsos dari HP tuh distraksi yang nggak bagus karena jadinya gue cuma buang-buang waktu untuk scrolling medsos. Jadi, kalau gue butuh banget buat fokus, gue bakal matiin HP gue dan ditaro jauh-jauh dari meja kerja.

Nah si distraksi yang nggak bagus emang tujuannya adalah kita pahami biar bisa kita eliminasi dan kurangi dampaknya ke kita. Kayak HP tadi. Dijauhin aja, dimatiin aja notifikasinya, atau uninstall aja aplikasi-aplikasinya.

Tapi, kalau gue lagi kerja bareng keluarga atau temen gue terus diajak ngobrol, menurut gue itu adalah distraksi yang bagus. Mungkin kerjaan gue bakal gak dikerjain secepat biasanya tapi gue bisa ngabisin waktu sama orang-orang yang penting di hidup gue.

Jadinya, gue membuka lebar banget kemungkinan diajak ngobrol sama orang-orang penting di hidup gue dan berusaha mengurangi kemungkinan kedistrak sama notif HP.

Kedua, have fun sama apa yang lo kerjakan dengan pahami progres kerjaan lo.

Salah satu alasan orang bisa senang banget main game adalah karena mereka ngasih kita gambaran progres mainnya. Misalnya, lo main game X nih terus waktu lo ngelawan si bos-nya, lo keliatan nih progres HP-nya menurun. Lo jadi paham kalau serangan lo itu berfungsi dan ada gunanya.

Nah, buat kerjaan lo juga gitu. Lo bisa coba buat sistem yang ngebuat lo melihat progres apa yang udah lo capai. Kerjaan yang susah, bikin cemas, atau bosenin tuh rentan banget bikin kita susah fokus karena kita susah lihat progres yang udah kita lakukan udah gimana.

Caranya pun bermacam-macam. Lo bisa siapin sistem kayak to-do list yang detail buat nunjukkin progres yang lo lakuin. Atau, lo juga bisa siapin sistem reward buat diri lo sendiri kalau lo mencapai batasan progres tertentu. Hal ini biar lo jadi semangat buat ngerjainnya.

Akhir kata, gue harap pemahaman tentang susah fokus dan distraksi ini jadi ilmu baru buat lo. Kalau artikel ini berguna, jangan lupa buat bagiin juga ke orang-orang ya! Gue Jhon dari Satu Persen, thanks.  

Read More