putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Karyawan

judi

Membantu Karyawan Menemukan Tujuan Karir Mereka

Apakah ada di antara Anda yang merasa bingung atau kehilangan arah dalam karir Anda? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Banyak karyawan mengalami masa-masa ketidakpastian dan mencari tujuan yang jelas dalam pekerjaan mereka. Bagi perusahaan, membantu karyawan menemukan tujuan karir mereka bukan hanya memberikan manfaat bagi karyawan itu sendiri, tetapi juga dapat meningkatkan kinerja dan motivasi mereka. Dalam artikel ini, kami akan membahas beberapa strategi dan alat tes psikologi yang dapat membantu Anda membantu karyawan dalam menemukan tujuan karir mereka.

Meningkatkan Kinerja Karyawan dengan Menentukan Tujuan Karir

Banyak penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki tujuan yang jelas dalam karir mereka cenderung lebih termotivasi dan berprestasi. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin atau manajer, Anda memiliki peran yang penting dalam membantu karyawan Anda menentukan tujuan karir mereka. Dalam bagian ini, kami akan mendiskusikan beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk membantu karyawan Anda dalam menemukan tujuan karir mereka.

Meningkatkan Motivasi Karyawan melalui Pengenalan Diri

Dalam mencari tujuan karir, penting bagi karyawan untuk memiliki pemahaman yang kuat tentang minat, nilai, dan keahlian mereka sendiri. Dalam bagian ini, kami akan membahas alat tes psikologi yang dapat membantu Anda dan karyawan Anda dalam mengidentifikasi kekuatan dan preferensi mereka. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri, karyawan akan lebih mampu menentukan tujuan karir yang sesuai dengan keinginan dan keahlian mereka.

Alat Tes Psikologi yang Berguna untuk Menemukan Tujuan Karir

Ada beberapa alat tes psikologi yang dapat digunakan untuk membantu karyawan menemukan tujuan karir mereka. Dalam bagian ini, kami akan memperkenalkan beberapa alat tes psikologi yang populer dan efektif dalam membantu karyawan mengeksplorasi tujuan karir mereka. Kami akan memberikan deskripsi singkat tentang setiap tes psikologi, menjelaskan cara kerjanya, dan memberikan contoh hasil yang dapat memberikan wawasan yang berharga bagi karyawan Anda.

Membantu Karyawan Mengembangkan Rencana Karir

Setelah karyawan menemukan tujuan karir mereka, langkah berikutnya adalah membantu mereka mengembangkan rencana karir yang realistis dan terstruktur. Dalam bagian ini, kami akan berbagi beberapa strategi dan tips yang dapat membantu Anda membimbing karyawan Anda dalam membangun rencana karir yang dapat mereka ikuti. Kami juga akan membahas pentingnya fleksibilitas dalam rencana karir dan menghadapi perubahan dalam bidang pekerjaan.

Membantu karyawan menemukan tujuan karir mereka bukanlah tugas yang mudah, tetapi dengan strategi yang tepat dan alat tes psikologi yang relevan, Anda dapat memberikan dukungan yang penting dan berharga bagi karyawan Anda. Ingatlah bahwa tujuan karir yang jelas dapat meningkatkan kinerja dan motivasi karyawan. Jadi, mari kita lanjutkan dalam menginspirasi dan memberdayakan karyawan kita.

Anda ingin mendukung karyawan Anda menemukan tujuan karir mereka? Kami di Life Skills ID siap membantu! Hubungi kami sekarang untuk request pelatihan dan alat tes psikologi yang akan membantu memajukan karyawan Anda dalam mencapai tujuan karir mereka.

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID
Untuk Perusahaan, NGO, dan Pemerintahan:
+62 882-9762-5596‬ (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:
+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Daftar Pustaka:

– Arnold, J., & Cohen-Charash, Y. (2012). Organizational Behavior in Education: Leadership and School Reform. New York: Routledge.
– Barrick, M.R., & Mount, M.K. (2005). Yes, personality matters: moving on to more important matters. Human Performance, 18(4), 359-372.
– Gibson, M., & Mitchell, A. (2011). Introduction to counseling and guidance. Prentice Hall.
– Guignard, A., & Wagena, M. (2020). How personality affects career decision-making readiness: The mediating role of career calling. Journal of Career Assessment, 28(1), 45-61.
– Ramlall, S. (2004). A review of employee motivation theories and their implications for employee retention within organizations. Journal of American Academy of Business, Cambridge, 4(1/2), 52-63.

Read More
judi

Mengetahui Dampak Lembur pada Kesehatan Mental Karyawan melalui Psikotes

Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, lembur telah menjadi norma di banyak industri. Namun, dampak lembur terhadap kualitas tidur karyawan seringkali tidak mendapat perhatian yang cukup. Studi telah menunjukkan bahwa lembur dapat berdampak negatif pada kualitas tidur, menyebabkan kelelahan, kantuk, dan durasi tidur yang lebih pendek. Kekurangan tidur kronis dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental, menurunkan produktivitas, serta berdampak negatif pada kinerja dan keselamatan kerja.

Ketika karyawan bekerja lembur secara teratur, mereka seringkali mengorbankan waktu tidur mereka. Hal ini tidak hanya mengurangi durasi tidur tetapi juga mengganggu kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat menyebabkan kelelahan yang berkelanjutan, yang pada gilirannya mempengaruhi kinerja kerja dan kesehatan mental karyawan.

Kurang tidur tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental. Karyawan yang sering lembur dan mengalami gangguan tidur berisiko mengalami masalah seperti stres, kecemasan, dan depresi. Ini juga dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, kemampuan pengambilan keputusan yang buruk, dan peningkatan risiko kecelakaan kerja.

Perusahaan memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan kerja dan kehidupan karyawan. Mereka dapat mengambil langkah-langkah untuk mendorong kebiasaan tidur yang lebih baik dan memprioritaskan istirahat karyawan, seperti mendukung keseimbangan kerja-hidup yang aktif, mengadakan lokakarya kesehatan dengan ahli tidur, dan menyediakan manfaat seperti meditasi kesadaran atau aplikasi tidur.

Perusahaan juga dapat berkomunikasi tentang pentingnya tidur kepada karyawan mereka dan menyediakan sumber daya untuk membantu mereka mengelola kualitas tidur mereka dengan lebih baik. Dengan memprioritaskan istirahat karyawan dan mendorong kebiasaan tidur yang lebih baik, perusahaan dapat membantu mencegah risiko kesehatan mental yang terkait dengan pekerjaan lembur dan meningkatkan kesejahteraan serta kinerja karyawan secara keseluruhan.

Strategi dan Solusi: Meningkatkan Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental Karyawan

Meningkatkan kualitas tidur karyawan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan mental dan kinerja kerja mereka. Tidur yang buruk dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik dan mental, dan kekurangan tidur kronis dapat menyebabkan penurunan produktivitas serta berdampak negatif pada kinerja dan keselamatan. Ada beberapa langkah yang dapat diambil oleh perusahaan untuk mendorong kebiasaan tidur yang lebih baik dan memprioritaskan istirahat karyawan.

Salah satu langkah penting yang dapat diambil oleh perusahaan adalah mendukung keseimbangan kerja-hidup yang aktif. Ini termasuk mengatur jam kerja yang wajar, menghindari lembur yang tidak perlu, dan mendorong karyawan untuk memanfaatkan waktu luang mereka untuk istirahat dan relaksasi.

Mengadakan lokakarya kesehatan dengan ahli tidur dapat memberikan karyawan informasi dan alat yang mereka butuhkan untuk tidur lebih baik. Ahli tidur dapat memberikan tips tentang higiene tidur, cara mengatasi insomnia, dan strategi untuk meningkatkan kualitas tidur.

Menyediakan manfaat seperti meditasi kesadaran atau aplikasi tidur dapat membantu karyawan mengelola stres dan meningkatkan kualitas tidur mereka. Aplikasi ini sering kali menyediakan panduan relaksasi, suara alam, dan meditasi yang dapat membantu karyawan bersantai sebelum tidur.

Penting bagi perusahaan untuk berkomunikasi tentang pentingnya tidur kepada karyawan mereka. Ini dapat mencakup menyediakan sumber daya tentang cara meningkatkan kualitas tidur dan mengadakan sesi informasi tentang dampak kesehatan dari kurang tidur.

Meningkatkan kualitas tidur dapat menjadi pendekatan pencegahan untuk kesehatan mental. Tidur yang baik membantu karyawan memproses emosi, meningkatkan plastisitas otak, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Ini juga dapat mengurangi risiko masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Tidur yang cukup dan berkualitas tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan mental karyawan tetapi juga untuk kinerja kerja mereka. Tidur yang baik dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi, kreativitas, dan kemampuan pengambilan keputusan.

Dengan mengimplementasikan strategi ini, perusahaan dapat membantu karyawan mereka mendapatkan tidur yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesehatan mental dan kinerja kerja.

Menggunakan Psychotest Assessment dari Life Skills untuk Menilai Dampak Lembur pada Kualitas Tidur

Dalam upaya untuk memahami dan mengatasi dampak lembur terhadap kualitas tidur karyawan, penggunaan Psychotest Assessment oleh Life Skills menjadi sangat penting. Psychotest Assessment adalah tes psikologis yang dirancang untuk mengevaluasi keterampilan dan sifat peribadi individu, yang dapat memberikan wawasan berharga tentang bagaimana lembur mempengaruhi kualitas tidur dan kesehatan mental karyawan.

  1. Jenis dan Fungsi Psychotest Assessment

Psychotest Assessment terdiri dari dua jenis utama: tes objektif dan tes proyeksi. Tes objektif meminta responden untuk memberikan respons tertentu terhadap serangkaian pertanyaan yang benar atau salah, sedangkan tes proyeksi diberikan dalam konteks yang ambigu untuk memungkinkan responden menjawab sesuai dengan pemikiran mereka. Kedua jenis tes ini dapat memberikan wawasan yang berbeda namun saling melengkapi tentang kondisi mental dan emosional karyawan.

  1. Pentingnya Psychotest dalam Konteks Lembur

Dalam konteks lembur, Psychotest Assessment dapat digunakan untuk menilai bagaimana jam kerja yang panjang dan tekanan kerja mempengaruhi kesehatan mental karyawan. Tes ini dapat mengungkapkan tingkat stres, kecemasan, dan potensi risiko gangguan tidur yang mungkin dialami karyawan sebagai akibat dari lembur.

  1. Analisis dan Interpretasi Hasil Tes

Hasil dari Psychotest Assessment memerlukan analisis dan interpretasi yang cermat oleh klinisi organisasi. Interpretasi ini bergantung pada kemampuan mereka untuk menyintesis data tes dan memahami konteks kerja karyawan. Dengan demikian, hasil tes dapat memberikan panduan yang berharga untuk mengembangkan strategi yang tepat dalam mengatasi masalah tidur dan kesehatan mental yang terkait dengan lembur.

  1. Manfaat Psychotest untuk Karyawan dan Perusahaan

Penggunaan Psychotest Assessment memberikan manfaat bagi karyawan dan perusahaan. Bagi karyawan, tes ini membantu mengidentifikasi masalah kesehatan mental dan tidur yang mungkin tidak mereka sadari. Bagi perusahaan, hasil tes dapat digunakan untuk membuat kebijakan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan, serta strategi dukungan kesehatan mental yang lebih efektif.

  1. Integrasi dengan Program Kesehatan Mental Lainnya

Psychotest Assessment dapat diintegrasikan dengan program kesehatan mental lainnya yang ditawarkan oleh perusahaan. Ini menciptakan pendekatan holistik dalam mendukung kesehatan mental karyawan, yang tidak hanya berfokus pada pengurangan jam lembur tetapi juga pada peningkatan kualitas tidur dan kesejahteraan umum karyawan.

Alasan Harus Mencoba Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia

Dalam dunia bisnis yang dinamis, pemahaman mendalam tentang kesehatan mental dan kepribadian karyawan menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan sehat. Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia menawarkan solusi komprehensif untuk kebutuhan ini. Berikut adalah beberapa alasan mengapa perusahaan harus mempertimbangkan penggunaan Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia.

Kepentingan Psikotes dan Assessment bagi Perusahaan

1. Kegunaan untuk Keperluan Internal dan Pelanggan: Psikotes dan Assessment berguna tidak hanya untuk keperluan internal perusahaan, seperti dalam proses seleksi dan penilaian karyawan, tetapi juga dapat memberikan wawasan berharga untuk kebutuhan pelanggan.

2. Seleksi, Profiling, dan Penilaian Potensi Karyawan: Alat ini mendukung perusahaan dalam proses seleksi, profiling, dan penilaian potensi calon karyawan. Dengan demikian, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam perekrutan dan pengembangan karyawan.

3. Evaluasi Kesehatan Mental Karyawan: Psikotes dan Assessment membantu perusahaan dalam mengevaluasi kesehatan mental karyawan. Ini penting untuk mendeteksi masalah pribadi yang mungkin mempengaruhi kinerja kerja.

Keunggulan Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia

1. Interpretasi oleh Ahli: Life Skills Indonesia menyediakan interpretasi hasil tes oleh para ahli di bidangnya. Hal ini memastikan bahwa hasil tes dianalisis dengan akurat dan memberikan wawasan yang mendalam.

2. Rekomendasi Intervensi: Selain interpretasi, Life Skills juga memberikan rekomendasi intervensi berdasarkan hasil tes. Ini memungkinkan perusahaan untuk mengambil langkah-langkah proaktif dalam mendukung kesehatan mental karyawan.

3. Hasil Interpretasi yang Cepat: Kecepatan dalam memberikan hasil interpretasi adalah salah satu keunggulan dari Life Skills Indonesia. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk segera mengambil tindakan berdasarkan hasil tes.

Dampak Positif pada Lingkungan Kerja

Penggunaan Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia dapat memberikan dampak positif pada lingkungan kerja. Dengan memahami lebih dalam tentang karyawan, perusahaan dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung, meningkatkan kesejahteraan karyawan, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas.

Membangun Budaya Perusahaan yang Sehat

Melalui penggunaan Psychotest & Assessment, perusahaan dapat membangun budaya kerja yang sehat dan inklusif. Ini menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa dihargai dan didukung, yang penting untuk retensi karyawan dan kepuasan kerja.

Kesimpulan

Life Skills Indonesia menawarkan solusi Psychotest & Assessment yang komprehensif, dirancang untuk membantu organisasi dalam mengembangkan strategi kesehatan mental yang efektif dan mendukung karyawan mereka.

Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia bukan hanya alat evaluasi, tetapi juga merupakan langkah penting dalam membangun budaya perusahaan yang peduli dengan kesejahteraan karyawan. Dengan memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi karyawan, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.

Untuk memulai perjalanan Anda dalam meningkatkan kesehatan mental dan kinerja karyawan, kunjungi https://satu.bio/satumitra-igls. Di sana, Anda akan menemukan informasi lebih lanjut tentang Psychotest & Assessment dan bagaimana Life Skills Indonesia dapat membantu perusahaan Anda.

Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut atau ingin berdiskusi tentang kebutuhan spesifik organisasi Anda, jangan ragu untuk menghubungi:

– Margareth di WhatsApp: +62 882-9762-5596

– Sheila di WhatsApp: +62 851-7317-1568

Tim Life Skills Indonesia yang berpengalaman dan profesional siap membantu Anda dengan setiap pertanyaan atau kebutuhan yang Anda miliki.

Jangan lewatkan kesempatan untuk membawa organisasi Anda ke tingkat berikutnya dalam kesehatan mental dan kinerja karyawan. Dengan Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia, Anda akan menemukan sumber daya, pengetahuan, dan dukungan yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Kunjungi https://satu.bio/satumitra-igls hari ini dan mulailah perjalanan Anda menuju lingkungan kerja yang lebih baik.

Ingat, setiap perubahan besar dimulai dengan langkah pertama. Ambil langkah itu hari ini dengan Life Skills Indonesia dan lihat bagaimana organisasi Anda berkembang dan mencapai potensi penuhnya.

FAQs

1. Apa itu Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia?

2. Bagaimana Psychotest & Assessment dapat membantu HR dan manajer dalam perusahaan?

3. Apa manfaat menggunakan Psychotest & Assessment untuk kesehatan mental karyawan?

4. Bagaimana cara mendaftar untuk Psychotest & Assessment dari Life Skills Indonesia?

5. Apa saja jenis tes yang termasuk dalam Psychotest & Assessment?

6. Bagaimana Psychotest & Assessment dapat digunakan untuk menilai dampak lembur pada karyawan?

7. Apa peran Psychotest & Assessment dalam meningkatkan kualitas tidur karyawan?

8. Bagaimana hasil Psychotest & Assessment diinterpretasikan oleh ahli?

9. Apa saja langkah-langkah yang diambil setelah hasil Psychotest & Assessment diterima?

10. Bagaimana Psychotest & Assessment berkontribusi pada pengembangan organisasi dan lingkungan kerja?

Referensi

SHRM. (2019). Choosing Effective Talent Assessments to Strengthen Your Organization.

Testlify. (2023). How to use psychometric tests to improve employee performance.

Forbes. (2023). How To Get The Most Out Of Personality Assessments In The Workplace.

Paycor. (2023). Mastering the 9-Box Method: Your Key to Effective Employee Coaching.

TestGorilla. (2023). HiPos (High Potentials): How talent assessments help.

Read More
judi

Pelatihan Mengatasi Karyawan Stres akibat Masalah Finansial

Efek Boikot Produk Pro Israel pada Karyawan sebagai Tulang Punggung Keluarga

Di era globalisasi dan keterhubungan ekonomi yang semakin erat, tindakan boikot terhadap produk tertentu bukan hanya menjadi simbol solidaritas politik atau moral, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang nyata, terutama bagi karyawan yang menjadi tulang punggung keluarga. Fenomena boikot produk pro-Israel, misalnya, telah memicu berbagai reaksi dan dampak yang perlu kita pahami lebih dalam.

Boikot produk pro-Israel bukan hanya sekedar gerakan moral, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang luas. Ketika sebuah perusahaan besar yang memiliki hubungan dengan Israel menjadi target boikot, efek domino yang terjadi tidak hanya berdampak pada perusahaan itu sendiri, tetapi juga pada jaringan distribusi, pemasok, dan tentu saja, para pekerjanya.

Karyawan yang bekerja di perusahaan-perusahaan yang terkena dampak boikot ini sering kali merasakan konsekuensi langsung. Dalam banyak kasus, mereka adalah tulang punggung keluarga, yang bertanggung jawab atas kesejahteraan ekonomi rumah tangga mereka. Ketika perusahaan mengalami penurunan penjualan atau harus mengurangi operasional, karyawan ini bisa menghadapi risiko pemotongan gaji, pengurangan jam kerja, atau bahkan pemutusan hubungan kerja.

Media sosial telah menjadi platform bagi banyak karyawan ini untuk berbagi pengalaman mereka. Misalnya, ada kisah seorang karyawan yang menjadi tulang punggung keluarga, yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika ia diminta untuk cuti tanpa gaji selama satu bulan karena perusahaan tempat ia bekerja terkena dampak boikot. Situasi seperti ini bukan hanya menimbulkan masalah finansial, tetapi juga stres emosional yang tidak ringan.

Ketidakpastian ekonomi yang dihadapi oleh karyawan ini menciptakan tekanan psikologis yang berat. Mereka harus menghadapi ketidakpastian tentang masa depan pekerjaan mereka, sambil berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga. Stres ini bisa berdampak pada kesehatan mental mereka, serta kualitas hidup keluarga secara keseluruhan.

Meskipun menghadapi tantangan yang berat, banyak dari karyawan ini menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Mereka mencari solusi kreatif untuk mengatasi masalah finansial, seperti mencari pekerjaan sampingan, memulai usaha kecil-kecilan, atau bahkan mengubah karir. Ketangguhan dan adaptabilitas ini menunjukkan kekuatan karakter dan kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit.

Sementara karyawan berjuang mengatasi dampak langsung dari boikot, masalah finansial dan stres yang mereka alami membutuhkan perhatian lebih lanjut. Bagaimana mereka mengelola stres ini? Apa strategi mereka dalam menghadapi masalah finansial yang timbul?

Masalah Finansial dan Stres pada Karyawan sebagai Tulang Punggung Keluarga

Di tengah tantangan ekonomi dan tekanan sosial, karyawan yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga sering kali menghadapi masalah finansial dan stres yang signifikan. Keseimbangan antara tanggung jawab kerja dan keluarga bukanlah tugas yang mudah, dan ini sering kali memicu konflik kerja-keluarga, stres pekerjaan, dan masalah kesehatan mental. Peran profesional HR dalam mendukung karyawan ini sangat krusial untuk mengurangi beban mereka.

Salah satu strategi yang dapat diimplementasikan oleh HR adalah menyediakan pengaturan kerja yang fleksibel. Menawarkan jadwal kerja yang fleksibel, opsi kerja jarak jauh, dan pekerjaan paruh waktu dapat membantu karyawan mengelola tanggung jawab keluarganya dengan lebih baik dan mengurangi tingkat stres mereka. Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi karyawan untuk menyesuaikan jam kerja dengan kebutuhan keluarga mereka, sehingga mengurangi tekanan yang mereka rasakan.

Memberikan akses ke Program Bantuan Karyawan (EAPs) juga merupakan langkah penting. EAPs dapat menawarkan konseling dan dukungan bagi karyawan untuk membantu mereka mengatasi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Dengan adanya dukungan ini, karyawan dapat menemukan cara untuk mengelola tekanan kerja dan keluarga dengan lebih efektif.

HR juga dapat mendorong budaya keseimbangan kerja-hidup dan menetapkan ekspektasi yang jelas seputar jam kerja dan waktu libur. Ini membantu karyawan dalam mengatur tanggung jawab keluarga mereka dan mengurangi potensi konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Keseimbangan ini penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik karyawan.

Memberikan pelatihan tentang manajemen stres, manajemen waktu, dan ketahanan dapat membantu karyawan mengatasi tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga mereka. Pelatihan ini dapat memberikan mereka alat dan teknik untuk mengelola stres dengan lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan mempertahankan keseimbangan kerja-hidup yang sehat.

Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, di mana karyawan merasa nyaman untuk membahas tanggung jawab keluarga mereka dan mencari dukungan saat dibutuhkan, juga sangat penting. Lingkungan kerja yang mendukung ini dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan keterlibatan serta kepuasan kerja.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, profesional HR dapat membantu karyawan yang merupakan tulang punggung keluarga untuk mengelola stres mereka dengan lebih baik dan mencapai keseimbangan kerja-hidup yang lebih sehat.

Meskipun strategi-strategi ini dapat membantu, masih ada kebutuhan untuk solusi yang lebih terintegrasi dan komprehensif dalam mengatasi stres dan masalah finansial karyawan.

Atasi Stres dan Masalah Finansial Karyawan melalui In-House Training Life Skills

Dalam menghadapi tantangan stres dan masalah finansial yang dialami oleh karyawan, terutama mereka yang menjadi tulang punggung keluarga, solusi yang efektif dan terpadu sangat dibutuhkan. Salah satu solusi tersebut adalah melalui program In-House Training yang disediakan oleh Life Skills Indonesia. Program ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas karyawan serta perusahaan secara keseluruhan.

Life Skills Indonesia memahami bahwa setiap perusahaan memiliki kebutuhan yang unik. Oleh karena itu, program In-House Training mereka disesuaikan untuk setiap jenis perusahaan. Pendekatan personalisasi ini memastikan bahwa materi pelatihan relevan dengan kebutuhan spesifik karyawan dan perusahaan, sehingga hasil yang dicapai lebih efektif.

Program In-House Training dari Life Skills Indonesia menawarkan berbagai paket materi yang mencakup life skills dan soft skills, psikologi dan kesehatan mental, keterampilan dasar dan fundamental, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran konten, dan banyak lagi. Keanekaragaman materi ini memungkinkan karyawan untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang penting tidak hanya untuk pekerjaan mereka, tetapi juga untuk kehidupan pribadi mereka.

Tujuan utama dari program In-House Training adalah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas karyawan. Dengan memperkuat keterampilan yang diperlukan, karyawan dapat bekerja lebih efektif, mengelola waktu dan sumber daya dengan lebih baik, dan pada akhirnya, memberikan kontribusi yang lebih besar kepada perusahaan. Peningkatan produktivitas ini juga dapat membantu mengurangi stres kerja, karena karyawan merasa lebih kompeten dan percaya diri dalam menjalankan tugas mereka.

Pelatihan dalam aspek keuangan dan manajemen stres sangat penting bagi karyawan yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga. Mereka sering kali menghadapi tekanan finansial dan stres yang tinggi. Materi pelatihan yang ditawarkan oleh Life Skills Indonesia dapat membantu mereka mengelola keuangan dengan lebih baik dan mengadopsi teknik manajemen stres yang efektif, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Aspek psikologi dan kesehatan mental yang menjadi bagian dari program pelatihan juga sangat penting. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam kehidupan sehari-hari, karyawan dapat mengembangkan ketahanan mental yang lebih baik, menghadapi tantangan dengan lebih positif, dan menjaga kesehatan mental mereka.

Program In-House Training dari Life Skills Indonesia tidak hanya membantu karyawan mengatasi stres dan masalah finansial, tetapi juga memberikan mereka keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk berkembang dalam karir dan kehidupan pribadi mereka.

Alasan Harus Mencoba In-House Training dari Life Skills

Penting untuk mengetahui alasan mengapa setiap perusahaan harus mempertimbangkan untuk mengimplementasikan program ini. Berikut adalah beberapa alasan utama yang menjadikan In-House Training dari Life Skills Indonesia pilihan yang tepat.

Menghadirkan pelatihan terbaik dan profesional untuk berbagai bidang!

Kenapa Pilih Training dengan Life Skills Indonesia?

  1. Pelatihan Berkualitas: Materi yang berdasarkan bukti dan penelitian ilmiah.
  2. Pilihan Expert yang Beragam: Dari Psikolog, Financial Planner, Human Resources, Nutritionist, hingga CEO!
  3. Cakupan Topik Luas: Materi mulai dari soft skills, kesehatan mental, keuangan, hingga pemasaran konten.
  4. Harga Terjangkau: Dua kali lebih murah dibanding program sejenis.
  5. Personal Evaluation: Worksheet atau lembar kerja bagi peserta untuk mengevaluasi kondisi.
  6. Bahan Pelatihan Eksklusif: Assessment dan psikotes yang valid dan terpercaya.
  7. Fleksibilitas: Pilihan materi dalam bahasa Indonesia & Inggris, serta opsi online dan offline.

Melalui berbagai alasan ini, jelas bahwa In-House Training dari Life Skills Indonesia menawarkan manfaat yang signifikan bagi karyawan dan perusahaan.

Kesimpulan

In-House Training dari Life Skills Indonesia bukan hanya tentang peningkatan keterampilan, tetapi juga tentang investasi dalam kesejahteraan mental dan produktivitas karyawan. Dengan pendekatan yang disesuaikan dan materi pelatihan yang komprehensif, program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik perusahaan Anda.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana In-House Training dapat disesuaikan untuk perusahaan Anda, Life Skills mengundang Anda untuk berbicara dengan tim Life Skills. Life Skills siap mendiskusikan segala aspek pelatihan dan bagaimana Life Skills dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan perusahaan Anda.

Jangan lewatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan karyawan Anda. In-House Training dari Life Skills Indonesia adalah investasi yang berharga untuk masa depan perusahaan Anda. Dengan karyawan yang lebih terampil, sehat secara mental, dan produktif, perusahaan Anda akan siap menghadapi tantangan masa depan dengan lebih percaya diri.

Life Skills mengundang Anda untuk mengambil langkah pertama menuju transformasi perusahaan Anda. Kunjungi link berikut untuk mendaftar atau mendapatkan informasi lebih lanjut tentang In-House Training dari Life Skills Indonesia: satu.bio/daftariht-igls. Tim Life Skills siap membantu Anda dalam setiap langkah perjalanan ini.

Mari kita bekerja sama untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif, sehat, dan harmonis. Karena di Life Skills Indonesia, Life Skills percaya bahwa pengembangan karyawan adalah kunci keberhasilan perusahaan.

Life Skills Indonesia siap membantu Anda mencapai tujuan perusahaan melalui pelatihan berkualitas.

Siap mengambil langkah selanjutnya dalam pengembangan perusahaan Anda?

Kunjungi: satu.bio/satumitra-igls

atau hubungi:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

FAQs

1. Apa itu In-House Training dari Life Skills Indonesia?

2. Bagaimana In-House Training dapat membantu HR dan Manajer?

3. Apakah materi In-House Training Life Skills Indonesia dapat disesuaikan?

4. Apa saja manfaat In-House Training untuk karyawan?

5. Bagaimana cara mendaftar untuk In-House Training dari Life Skills Indonesia?

6. Apakah In-House Training efektif untuk semua jenis perusahaan?

7. Berapa lama durasi In-House Training yang ditawarkan?

8. Apa saja topik yang umumnya dibahas dalam In-House Training?

9. Bagaimana In-House Training dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan?

10. Apakah ada dukungan lanjutan setelah mengikuti In-House Training?

Referensi

Srivastava, A., Bartol, K. M., & Locke, E. A. (2006). Empowering Leadership In Management Teams. Human Resources in Hospitality & Tourism, 10(1), 45–59.

Vyas, P. (2020, May 26). The Role of HR in People Enabling and People Empowerment. LinkedIn

Read More
judi

Mengatasi Kecemasan Karyawan: In-House Training Mental Health

Kecemasan di tempat kerja adalah masalah yang sering tidak terlihat namun memiliki dampak yang signifikan. Sebagai HR atau manajer, mengenali tanda-tanda kecemasan pada karyawan adalah langkah pertama yang penting untuk memberikan dukungan yang tepat. Berikut adalah beberapa tanda umum kecemasan yang mungkin muncul di lingkungan kerja:

1. Menghindari Interaksi Sosial: Karyawan yang mengalami kecemasan seringkali menghindari interaksi dengan rekan kerja atau keluarga.

2. Kekhawatiran Konstan: Mereka mungkin tampak selalu khawatir atau gelisah tanpa alasan yang jelas.

3. Mudah Menangis: Reaksi emosional yang berlebihan, seperti mudah menangis, bisa menjadi tanda kecemasan.

4. Iritabilitas dan Kelelahan: Perubahan mood seperti mudah tersinggung atau merasa lelah secara terus-menerus juga bisa menjadi indikator.

5. Perasaan Harus Sempurna: Karyawan yang merasa mereka harus sempurna dalam segala hal mungkin mengalami tekanan mental yang tinggi.

6. Kesulitan Tidur: Gangguan tidur sering kali dikaitkan dengan kecemasan.

7. Kesulitan Konsentrasi atau Mengingat: Kecemasan bisa mengganggu kemampuan kognitif, termasuk konsentrasi dan memori.

8. Kehilangan Minat dalam Pekerjaan: Jika seorang karyawan kehilangan minat atau motivasi dalam pekerjaannya, ini bisa jadi karena kecemasan.

9. Perubahan Pola Makan: Overeating atau undereating juga bisa menjadi tanda.

10. Keluhan Fisik: Gejala fisik seperti berkeringat, sakit perut, dan kesulitan tidur bisa menjadi manifestasi dari kecemasan.

Penting untuk diingat bahwa tanda-tanda ini bisa bervariasi antar individu dan tidak selalu menunjukkan kecemasan. Namun, jika Anda mengenali beberapa dari tanda-tanda ini pada karyawan Anda, mungkin sudah saatnya untuk mengambil langkah proaktif.

Pendekatan Proaktif HR dalam Mengatasi Kecemasan Karyawan

Dalam menghadapi kecemasan di tempat kerja, peran HR sangat krusial. Berikut adalah beberapa langkah proaktif yang dapat diambil oleh HR untuk membantu mengatasi kecemasan karyawan:

1. Meningkatkan Kesadaran: Tingkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dan kesejahteraan di antara karyawan dan manajer. Penting untuk menekankan pentingnya mengatasi kecemasan di tempat kerja.

2. Menyediakan Pelatihan: Tawarkan program pelatihan dan workshop tentang pengelolaan kecemasan dan stres. Ini membantu karyawan mengembangkan strategi dan teknik untuk mengatasi masalah ini.

3. Mengintegrasikan Kesejahteraan dalam Organisasi: Jadikan kesehatan mental dan kesejahteraan sebagai bagian permanen dari budaya organisasi, memastikan bahwa hal ini secara konsisten ditangani dan didukung.

4. Mendukung Kebutuhan: Implementasikan sistem pendukung seperti Program Bantuan Karyawan (EAP) untuk membantu karyawan dengan kecemasan dan masalah kesehatan mental lainnya. Program ini menyediakan konseling profesional dan bantuan bagi karyawan yang membutuhkan.

5. Mencegah Krisis: Adopsi pendekatan proaktif untuk mencegah masalah kesehatan mental meningkat menjadi situasi krisis. Ini dapat dicapai dengan menangani masalah kecil sebelum menjadi lebih serius, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung.

6. Menyesuaikan Dukungan: Sadari bahwa setiap karyawan unik dan mungkin merespons stres dan kecemasan secara berbeda. Sesuaikan program pendukung dan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan spesifik setiap karyawan.

Dengan menerapkan strategi proaktif ini, profesional HR dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan, yang pada akhirnya mengarah pada lingkungan kerja yang lebih produktif dan sehat.

Membangun Lingkungan Kerja yang Mendukung

Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan:

1. Pengakuan dan Penghargaan: Mendorong pengakuan antar rekan kerja dan memastikan bahwa karyawan merasa dihargai dan diapresiasi dapat berkontribusi pada lingkungan kerja yang positif.

2. Fleksibilitas dan Otonomi: Menawarkan jadwal kerja yang fleksibel dan otonomi dalam pekerjaan dapat memberdayakan karyawan dan meningkatkan kepuasan kerja mereka.

3. Inklusivitas dan Rasa Pemilikan: Membudidayakan budaya inklusivitas dan rasa memiliki dapat meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.

4. Kesempatan untuk Relaksasi: Memfasilitasi kesempatan bagi karyawan untuk bersantai dan bersenang-senang bersama dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

5. Lingkungan Kerja yang Nyaman: Menyediakan lingkungan kerja yang nyaman dan ergonomis, baik di kantor maupun untuk kerja jarak jauh, dapat berkontribusi pada kesejahteraan emosional karyawan dan meningkatkan fokus mereka.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung yang mengutamakan kesejahteraan karyawan, yang pada gilirannya akan meningkatkan kepuasan kerja, produktivitas, dan kebahagiaan secara keseluruhan di kalangan tenaga kerja.

Membangun Resiliensi dan Pemulihan

Membangun resiliensi dan pemulihan adalah aspek penting bagi individu dalam berbagai konteks, termasuk pemulihan kecanduan dan tantangan di tempat kerja. Berikut adalah beberapa wawasan kunci dari sumber yang disediakan:

1. Resiliensi dalam Pemulihan: Resiliensi dalam pemulihan melibatkan adaptasi terhadap perubahan, pemecahan masalah, dan pengolahan emosi secara sehat. Sangat penting bagi individu dalam keadaan sadar untuk secara aktif menghadapi hambatan dan tantangan, seperti masalah kesehatan mental, kesulitan keuangan, dan turbulensi hubungan.

2. Mengembangkan Resiliensi: Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kesulitan dan menjadi lebih kuat. Ini melibatkan antisipasi tantangan, praktik perawatan diri, dan belajar dari pengalaman. Resiliensi dapat dikembangkan melalui latihan dan ketekunan, dan merupakan aset kunci untuk sukses dalam pemulihan.

3. Peran Resiliensi dalam Pemulihan: Resiliensi sangat penting untuk mengatasi tantangan, bereksperimen dengan pendekatan baru, dan mendapatkan kembali produktivitas. Ini memungkinkan individu untuk bangkit kembali dari kemunduran dan muncul lebih kuat. Dalam pemulihan kecanduan, resiliensi sangat penting untuk mengatasi tantangan sehari-hari dan mencegah kambuh.

4. Inisiatif Resiliensi dan Pemulihan: Organisasi, seperti Harvard Human Resources, sedang menerapkan inisiatif untuk mendukung karyawan melalui perubahan yang mengganggu, tantangan, dan proses mendapatkan kembali produktivitas. Inisiatif-inisiatif ini bertujuan untuk membantu individu merespons, terlibat kembali, dan muncul lebih kuat sebagai individu dan sebagai organisasi.

Wawasan ini menekankan pentingnya resiliensi dalam pemulihan dan berbagai strategi dan inisiatif yang bertujuan untuk membangun resiliensi dan mendukung pemulihan dalam berbagai konteks.

Kesimpulan

Pentingnya peran HR dalam mengatasi kecemasan karyawan tidak bisa diabaikan. Dengan pendekatan yang tepat, HR dapat membuat perbedaan signifikan dalam kesejahteraan mental karyawan. Ini tidak hanya meningkatkan kesehatan mental karyawan, tetapi juga berkontribusi pada produktivitas dan kepuasan kerja secara keseluruhan.

Untuk membantu organisasi dalam menerapkan strategi-strategi ini, Life Skills Indonesia menawarkan program In-House Training Mental Health yang komprehensif. Program ini dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi HR dan manajer untuk mendukung kesehatan mental karyawan secara efektif.

Program In-House Training Mental Health dari Life Skills Indonesia mencakup berbagai topik penting, termasuk:

1. Pemahaman Mendalam tentang Kecemasan dan Resiliensi: Peserta akan mempelajari cara mengenali tanda-tanda kecemasan dan membangun resiliensi di tempat kerja.

2. Strategi Proaktif untuk HR: Pelatihan ini akan membekali HR dengan strategi dan alat untuk mendukung karyawan yang mengalami kecemasan, serta cara membangun lingkungan kerja yang mendukung.

3. Pengembangan Keterampilan Komunikasi dan Pendukung: Peserta akan belajar cara berkomunikasi secara efektif dengan karyawan yang mengalami kecemasan dan menyediakan dukungan yang mereka butuhkan.

4. Penerapan Praktis: Program ini tidak hanya teoritis, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menerapkan apa yang dipelajari dalam situasi nyata.

Mengapa Harus Mendaftar?

– Peningkatan Kesejahteraan Karyawan: Dengan pelatihan ini, HR dan manajer akan lebih siap untuk mendukung kesehatan mental karyawan, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas keseluruhan di tempat kerja.

– Pengurangan Stigma: Pelatihan ini membantu mengurangi stigma seputar masalah kesehatan mental di tempat kerja, menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung.

– Investasi Jangka Panjang: Keterampilan yang diperoleh dari pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang untuk organisasi, membantu membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan mental karyawan.

Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, kunjungi satu.bio/daftariht-igls. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk membuat perubahan positif di tempat kerja Anda dan mendukung kesejahteraan mental karyawan. Mari kita ambil langkah proaktif menuju lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif!

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID

Untuk Perusahaan, NGO dan Pemerintahan:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Referensi

HRAnswers.org. (2022, July 28). How to Create an Encouraging and Supportive Work Environment.

Shepell, W. (2019, June 24). A Proactive Approach Towards Employee Mental Health in the Workplace. LinkedIn.

Harvard Business Review. (2020, August 7). 8 Ways Managers Can Support Employees’ Mental Health.

Substance Abuse and Mental Health Services Administration. (2023, November 6). Expanding Implementation of Mental Health Awareness Training (MHAT) in the Workplace. Link

FAQ

Apa itu kecemasan di tempat kerja dan bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja karyawan?

Bagaimana HR dapat mengidentifikasi tanda-tanda kecemasan pada karyawan?

Apa saja langkah proaktif yang dapat diambil HR untuk mengatasi kecemasan karyawan?

Bagaimana cara membangun lingkungan kerja yang mendukung untuk karyawan yang mengalami kecemasan?

Apa peran resiliensi dalam membantu karyawan mengatasi kecemasan?

Bagaimana program In-House Training Mental Health dapat membantu HR dan manajer dalam mengatasi kecemasan karyawan?

Apa saja manfaat jangka panjang dari mengatasi kecemasan karyawan di tempat kerja?

Bagaimana cara mengukur efektivitas intervensi kecemasan di tempat kerja?

Apa saja tantangan yang dihadapi HR dalam mengatasi kecemasan karyawan?

Bagaimana HR dapat bekerja sama dengan manajemen untuk mendukung karyawan yang mengalami kecemasan?

Read More
judi

Strategi Mengelola Stres dan Trauma Karyawan melalui Dukungan HR

Di era yang serba cepat dan penuh tekanan ini, pemahaman mendalam tentang trauma dan stres di tempat kerja menjadi sangat penting. Sebagai bagian dari Sumber Daya Manusia (HR), kita memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi dan mengatasi masalah ini. Mari kita bahas lebih lanjut.

Trauma di tempat kerja tidak hanya terbatas pada profesi berisiko tinggi seperti militer atau pemadam kebakaran. Menurut penelitian terkini, trauma dapat menimpa karyawan di berbagai industri karena berbagai alasan, termasuk kekerasan di tempat kerja, pelecehan seksual, rasisme, diskriminasi, atau budaya kerja yang toksik. Pandemi COVID-19 telah memperparah situasi ini, meningkatkan risiko gangguan stres pasca-trauma (PTS) hingga 83% lebih tinggi dari level pra-pandemi, terutama di kalangan pekerja kesehatan.

Trauma dan stres di tempat kerja dapat memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk, seperti absenisme, penurunan kinerja, penghindaran tugas, konflik antar karyawan, kecelakaan, atau hilangnya motivasi. Gejala lainnya termasuk kecemasan, ketakutan, kemarahan, tingkat kerjasama yang rendah, atau pelupa. Semua ini tidak hanya mempengaruhi kesejahteraan karyawan tetapi juga berdampak pada kinerja organisasi secara keseluruhan.

Sebagai HR, kita memiliki beberapa strategi untuk mengatasi trauma dan stres di tempat kerja:

1. Mengidentifikasi dan Menjangkau: Belajar mengenali tanda-tanda trauma dan stres serta menjangkau karyawan yang mungkin mengalami kesulitan. Ini bisa dilakukan dengan rutin menanyakan kabar mereka dan mendiskusikan kesehatan mental mereka.

2. Menyediakan Sumber Daya: Menyediakan sumber daya seperti layanan konseling, program bantuan karyawan, dan sumber daya kesehatan mental. Sumber daya ini dapat membantu karyawan mengelola stres dan mengatasi situasi sulit.

3. Menciptakan Budaya Kerja yang Mendukung: Bekerja untuk menciptakan budaya kerja yang mendukung, yang menghargai kesejahteraan karyawan, mempromosikan keseimbangan kerja-hidup, mendorong komunikasi terbuka, dan menyediakan peluang untuk pengembangan profesional.

4. Menawarkan Pengaturan Kerja Fleksibel: Menawarkan pengaturan kerja fleksibel seperti telekomuting, jadwal fleksibel, dan pembagian pekerjaan. Pengaturan ini dapat membantu karyawan mengelola stres mereka dengan memungkinkan mereka untuk lebih baik menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan pribadi.

5. Melatih Manajer: Melatih manajer untuk mengenali tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan dan memberi mereka alat untuk mendukung anggota tim mereka. Ini bisa termasuk pelatihan tentang cara melakukan percakapan yang sulit, cara memberikan umpan balik, dan cara mengelola beban kerja.

Dengan mengambil langkah-langkah ini, HR dapat membantu karyawan yang mengalami trauma dan stres merasa didukung dan dihargai di tempat kerja, yang dapat menyebabkan peningkatan kesejahteraan dan kepuasan kerja.

Identifikasi Dini dan Intervensi

Dalam konteks pekerjaan, identifikasi dini dan intervensi terhadap stres dan trauma sangat penting. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu dalam mengatasi masalah saat ini, tetapi juga mencegah dampak jangka panjang pada kesehatan mental dan produktivitas karyawan. Berikut adalah beberapa aspek penting dari identifikasi dini dan intervensi:

1. Konsep dan Kebutuhan Identifikasi Dini: Identifikasi dini dalam konteks pekerjaan melibatkan kemampuan HR dan manajer untuk mengenali tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan. Ini termasuk memahami pentingnya intervensi dini dan bagaimana hal ini dapat mencegah masalah yang lebih serius di masa depan. Seperti dalam konteks pendidikan anak, di mana identifikasi dini membantu dalam mengatasi keterlambatan perkembangan, dalam lingkungan kerja, hal ini membantu dalam mencegah penurunan kinerja dan kesejahteraan karyawan.

2. Skreening dan Penilaian: Sama seperti penilaian pada anak-anak untuk menentukan kebutuhan layanan intervensi dini, dalam lingkungan kerja, HR perlu melakukan skreening dan penilaian terhadap karyawan yang mungkin mengalami stres atau trauma. Ini bisa melalui survei kesehatan mental, wawancara, atau alat penilaian lainnya.

3. Peran HR, Komunitas, dan Profesional: Dalam konteks pekerjaan, HR, manajemen, dan rekan kerja memainkan peran penting dalam intervensi dini. Mereka harus terlibat aktif dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan dukungan yang diperlukan. Ini mirip dengan peran orang tua dan komunitas dalam mendukung anak-anak dengan keterlambatan perkembangan.

4. Pentingnya Intervensi Dini: Intervensi dini di tempat kerja dapat membantu karyawan memperbaiki keterampilan mereka dalam mengelola stres dan trauma. Ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu tetapi juga produktivitas dan keharmonisan di tempat kerja.

5. Model Intervensi Dini: Sama seperti dalam pendidikan anak, di mana intervensi dini dapat dilakukan di rumah atau di pusat, dalam konteks pekerjaan, intervensi bisa dilakukan secara individual, melalui sesi kelompok, atau bahkan secara digital. Pilihan model tergantung pada kebutuhan spesifik karyawan dan sumber daya yang tersedia di organisasi.

Dengan memahami pentingnya identifikasi dini dan intervensi, HR dan manajemen dapat bekerja sama untuk menyediakan dukungan dan sumber daya yang diperlukan bagi karyawan yang mengalami stres dan trauma, memastikan masa depan yang lebih baik bagi mereka dan organisasi.

Untuk memastikan kelancaran transisi ke bagian selanjutnya, penting untuk mengakui bahwa setelah identifikasi dan intervensi awal, langkah berikutnya adalah menciptakan budaya tempat kerja yang mendukung karyawan yang mengalami trauma. Ini akan dibahas lebih lanjut dalam bagian berikutnya tentang Menciptakan Budaya Tempat Kerja yang Berbasis Trauma.

Menciptakan Budaya Tempat Kerja yang Harmonis

Pemahaman tentang dampak trauma pada karyawan dan penerapan strategi untuk mendukung kesejahteraan dan pertumbuhan mereka. Berikut adalah beberapa langkah kunci untuk menciptakan budaya tempat kerja yang harmonis dan bebas dari trauma:

1. Memahami Dampak Trauma: Penting untuk mengakui bahwa trauma dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan, produktivitas, dan kepuasan kerja karyawan. HR dan manajemen harus menyadari berbagai jenis trauma yang mungkin dihadapi karyawan, seperti ketidakpastian pekerjaan, beban kerja berat, atau paparan situasi yang menekan.

2. Mendorong Komunikasi Terbuka: Dorong komunikasi yang jujur dan transparan di antara karyawan, memungkinkan mereka untuk mendiskusikan pengalaman dan perasaan mereka dalam lingkungan yang aman. Ini menciptakan ruang di mana karyawan merasa didengar dan dihargai.

3. Mempromosikan Keamanan dan Kepercayaan: Pastikan bahwa ruang kerja aman untuk kesehatan mental dan fisik karyawan dengan mematuhi protokol dan standar keselamatan dasar. Bangun kepercayaan dengan transparan tentang keputusan perusahaan dan memelihara lingkungan saling menghormati dan bermartabat untuk semua rekan kerja.

4. Menyediakan Sumber Daya dan Dukungan: Tawarkan sumber daya seperti pelatihan, webinar, dan modul untuk membantu pemimpin dan rekan kerja memahami risiko yang terkait dengan PTSD, mengenali tanda dan gejala PTSD pada staf, dan memberikan dukungan bagi karyawan yang menghadapi trauma.

5. Mendorong Dukungan Sesama: Ciptakan lingkungan di mana karyawan merasa nyaman mendiskusikan pengalaman mereka dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi trauma.

6. Bekerjasama dan Saling Menguntungkan: Izinkan orang-orang dalam dan di luar posisi kekuasaan dalam perusahaan untuk berpartisipasi dalam menciptakan kebijakan dan praktik yang berbasis trauma, mendorong rasa kolaborasi dan kesetaraan.

7. Fokus pada Pencegahan dan Pengobatan: Terapkan strategi untuk mencegah dan mengobati trauma di tempat kerja, seperti teknik kesadaran, pernapasan, dan grounding.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, organisasi dapat menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma yang mendukung karyawan dalam menghadapi trauma dan mempromosikan kesejahteraan dan produktivitas secara keseluruhan.

Monitoring dan Peningkatan Berkelanjutan

Monitoring dan peningkatan berkelanjutan adalah kunci untuk pertumbuhan dan kesuksesan organisasi. Berikut adalah ringkasan informasi dari sumber yang disediakan:

1. Monitoring dan Evaluasi untuk Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring dan Evaluasi (M&E) adalah proses peningkatan organisasi yang melibatkan penelitian, perencanaan, alokasi sumber daya, dan pengembangan berkelanjutan. Ini menetapkan tujuan yang berorientasi masa depan untuk meningkatkan output manajemen dan bertujuan untuk menentukan efisiensi program, membuat perbandingan terhadap pencapaian untuk memodifikasi layanan agar lebih efektif.

2. Monitoring Proses untuk Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring proses mengukur kinerja proses secara real-time, memungkinkan manajemen proaktif terhadap proses dan peningkatan berkelanjutan. Ini memungkinkan untuk menangkap pengukuran real-time dari proses, membandingkannya dengan data dari model proses, dan memberikan umpan balik untuk meningkatkan proses dan eksekusi proyek.

3. Monitoring Berkelanjutan dan Peningkatan Berkelanjutan: Monitoring berkelanjutan membantu program lebih baik dalam mengatasi tujuan dan sasaran, melibatkan semua pemangku kepentingan dalam proses perencanaan program. Ini penting untuk memastikan bahwa program melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan dan sasarannya.

4. Praktik Terbaik untuk Monitoring dan Peningkatan Berkelanjutan: Mengumpulkan data operasional, mensurvei orang tua dan siswa untuk umpan balik, dan menggunakan penilaian kualitas program adalah beberapa praktik terbaik untuk peningkatan berkelanjutan. PRISM (Program Report for Improvement and System Measurement) berfungsi sebagai tulang punggung untuk pertemuan komunitas pembelajaran sepanjang tahun, membantu pemimpin mengidentifikasi kekuatan dan mempertimbangkan peningkatan.

Monitoring dan peningkatan berkelanjutan melibatkan penilaian berkelanjutan, umpan balik, dan penyesuaian untuk meningkatkan kinerja organisasi dan mencapai tujuan. Proses ini sangat penting untuk mengidentifikasi kekuatan, mengatasi kelemahan, dan mempromosikan pertumbuhan dalam organisasi.

Kesimpulan

Pertama, pemahaman mendalam tentang trauma dan stres di tempat kerja adalah fondasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung. HR dan manajemen harus proaktif dalam mengidentifikasi tanda-tanda stres dan trauma serta menyediakan sumber daya yang tepat untuk membantu karyawan mengatasinya.

Kedua, identifikasi dini dan intervensi merupakan langkah penting dalam mencegah masalah kesehatan mental yang lebih serius. Melalui pendekatan yang empati dan mendukung, HR dapat memainkan peran kunci dalam membantu karyawan mengatasi tantangan mereka.

Ketiga, menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan tetapi juga produktivitas dan kepuasan kerja. Ini melibatkan membangun komunikasi terbuka, mempromosikan keamanan dan kepercayaan, serta menyediakan sumber daya dan dukungan yang diperlukan.

Keempat, monitoring dan peningkatan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan bahwa inisiatif dan strategi yang diterapkan efektif dan relevan dengan kebutuhan karyawan. Melalui evaluasi dan umpan balik berkelanjutan, organisasi dapat terus berkembang dan menyesuaikan pendekatannya untuk mendukung karyawan.

Sebagai penutup, penting bagi setiap organisasi untuk mengakui dan mengatasi dampak stres dan trauma di tempat kerja. HR memegang peran penting dalam perjalanan ini, tidak hanya sebagai pengelola sumber daya manusia tetapi juga sebagai pendukung kesejahteraan karyawan. Dengan pendekatan yang tepat, organisasi dapat mengubah trauma menjadi transformasi, menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan harmonis.

Life Skills dengan senang hati mengundang organisasi/perusahaan Anda untuk mengikuti Speaking Engagement. Ini adalah kesempatan untuk mendalami topik kepemimpinan dan pengembangan organisasi lebih lanjut, serta untuk berinteraksi dengan para profesional dan pemimpin industri. Untuk informasi lebih lanjut dan untuk mendaftar, silakan kunjungi tautan berikut: satu.bio/satumitra-igls.

Dunia yang terus berubah, kemampuan untuk membangun dan memelihara kepemimpinan yang efektif dan berkelanjutan adalah kunci untuk keberhasilan organisasi. HR memiliki peran strategis dalam perjalanan ini, tidak hanya sebagai pelaksana tetapi juga sebagai pemimpin perubahan. Life Skills siap mendorong perubahan positif dalam dunia kepemimpinan Anda.

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID

Untuk Perusahaan, NGO dan Pemerintahan:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Referensi

University of Wisconsin-Madison. (2020, November 30). How to Cultivate Trauma-Informed Care in HR.

Center for Technology and Innovation in Pediatrics Practice. (2023, April 3). Toolkit: Trauma-Informed Workplaces. Retrieved from

Strategy People Culture. (2023, September 15). Understanding Workplace Trauma and How Leadership Can Help. Retrieved from

Workplace Options. (2023, June 4). Understanding Workplace Trauma and Work-Related PTSD. Retrieved from

Forbes. (2021, November 10). Trauma At The Workplace, What To Do About It. Retrieved

FAQ

Apa itu trauma di tempat kerja dan bagaimana dampaknya terhadap karyawan?

FAQ ini menjelaskan definisi trauma di lingkungan kerja dan efeknya pada kesejahteraan karyawan.

Bagaimana HR dapat mengidentifikasi tanda-tanda stres dan trauma pada karyawan?

FAQ ini memberikan informasi tentang cara-cara HR dapat mendeteksi gejala stres dan trauma di antara karyawan.

Apa langkah-langkah yang dapat diambil HR untuk mendukung karyawan yang mengalami stres atau trauma?

FAQ ini menjelaskan strategi dan tindakan yang dapat dilakukan oleh HR untuk membantu karyawan.

Mengapa penting untuk menciptakan budaya tempat kerja yang berbasis trauma?

FAQ ini membahas pentingnya dan manfaat dari menciptakan lingkungan kerja yang mendukung karyawan yang mengalami trauma.

Apa peran manajer dalam mendukung karyawan yang mengalami trauma?

FAQ ini menjelaskan bagaimana manajer dapat berkontribusi dalam mendukung kesejahteraan mental karyawan.

Bagaimana cara mengimplementasikan program intervensi dini untuk trauma di tempat kerja?

FAQ ini memberikan panduan tentang cara mengembangkan dan menerapkan program intervensi dini untuk trauma.

Apa saja sumber daya yang dapat disediakan HR untuk membantu karyawan mengatasi stres dan trauma?

FAQ ini menjelaskan berbagai jenis sumber daya dan dukungan yang dapat ditawarkan oleh HR.

Bagaimana proses monitoring dan peningkatan berkelanjutan dapat diterapkan dalam konteks trauma di tempat kerja?

FAQ ini membahas tentang pentingnya dan cara pelaksanaan monitoring serta peningkatan berkelanjutan dalam mengelola trauma di tempat kerja.

Apa saja tantangan yang dihadapi HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja?

FAQ ini menjelaskan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi oleh HR dalam mengatasi isu-isu terkait stres dan trauma.

Bagaimana cara mengukur keberhasilan inisiatif HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja?

FAQ ini memberikan wawasan tentang metode dan indikator untuk mengevaluasi efektivitas program HR dalam mengelola stres dan trauma di tempat kerja.

Read More
judi

Mengatasi Karyawan Depresi di Kantor: Langkah Penting untuk Produktivitas

Depresi di tempat kerja seringkali tidak terlihat, namun dampaknya sangat nyata. Sebagai karyawan yang telah bekerja selama 3-5 tahun, Anda mungkin telah menyaksikan atau bahkan mengalami sendiri bagaimana depresi dapat mengubah dinamika kerja. Mari kita bahas gejala-gejala depresi di tempat kerja yang perlu kita waspadai.

Perubahan Perilaku

Salah satu tanda paling mencolok dari depresi adalah perubahan perilaku. Anda mungkin melihat rekan kerja yang biasanya ceria menjadi lebih sering murung atau mudah tersinggung. Mereka mungkin juga menunjukkan perasaan tidak berharga atau kehilangan energi. Seorang pekerja yang sebelumnya produktif bisa tiba-tiba menjadi tidak konsisten atau ceroboh dalam pekerjaannya.

Kurangnya Motivasi

Depresi seringkali mengikis motivasi dan fokus seseorang dalam menjalankan tugasnya. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk tetap termotivasi dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Ini bukan hanya tentang malas, tetapi lebih pada ketidakmampuan untuk menemukan energi mental untuk berkomitmen pada tugas.

Absenteeisme

Gejala depresi yang lain adalah meningkatnya ketidakhadiran, keterlambatan, atau sering melewatkan kerja. Ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental yang serius.

Prokrastinasi

Depresi juga bisa menyebabkan prokrastinasi, kesulitan memenuhi tenggat waktu, dan penurunan produktivitas. Ini seringkali dikaitkan dengan kehilangan minat atau kesenangan dalam melakukan aktivitas yang biasanya mereka nikmati.

Penarikan Diri atau Isolasi

Seseorang yang mengalami depresi mungkin menarik diri atau mengisolasi diri dari orang lain. Mereka mungkin juga menunjukkan perawatan diri yang buruk atau perubahan signifikan dalam penampilan. Ini adalah tanda bahwa mereka mungkin merasa terputus dari lingkungan sekitar.

Penurunan Kinerja

Depresi dapat menyebabkan penurunan dalam kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi yang buruk dengan orang lain, dan penurunan kinerja dalam tugas-tugas. Ini bisa berdampak signifikan pada output kerja mereka dan kualitas hasil kerja.

Mengenali gejala-gejala depresi di tempat kerja adalah langkah pertama untuk memberikan dukungan dan sumber daya bagi mereka yang mungkin sedang berjuang. Mendorong komunikasi terbuka, menyediakan akses ke sumber daya kesehatan mental, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu individu mengatasi depresi dan berkembang dalam peran mereka.

Dalam bagian berikutnya, kita akan membahas tantangan dalam menjaga produktivitas saat menghadapi depresi di tempat kerja. Bagaimana depresi mempengaruhi kemampuan seseorang untuk tetap produktif, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan ini?

Tantangan Menjaga Produktivitas

Setelah memahami gejala depresi di tempat kerja, penting juga untuk mengenali tantangan dalam menjaga produktivitas. Di era yang serba cepat ini, tantangan produktivitas menjadi semakin kompleks, termasuk bagi Anda yang telah memiliki pengalaman kerja 3-5 tahun. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang sering dihadapi di tempat kerja dan strategi untuk mengatasinya.

Keterlibatan karyawan yang rendah seringkali menjadi akar masalah produktivitas yang buruk. Disengagement ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya pengakuan atau kurangnya tantangan dalam pekerjaan.

  • Manajemen Kinerja yang Tidak Efektif

Manajemen kinerja yang tidak efektif dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian tentang ekspektasi dan tujuan kerja. Hal ini seringkali menimbulkan stres dan menurunkan motivasi karyawan.

  • Proses yang Tidak Efisien

Proses kerja yang berbelit-belit dan tidak efisien dapat menghambat produktivitas. Ini termasuk penggunaan teknologi yang ketinggalan zaman atau prosedur yang tidak perlu.

  • Pelacakan dan Pemantauan yang Kurang Memadai

Tanpa sistem pelacakan dan pemantauan yang memadai, sulit untuk mengukur kemajuan dan efektivitas kerja. Ini juga bisa menyebabkan ketidakjelasan dalam penilaian kinerja.

Komunikasi yang berlebihan atau tidak efektif bisa menjadi penghambat produktivitas. Ini termasuk terlalu banyak rapat yang tidak perlu atau email yang berlebihan.

Meskipun sering dianggap sebagai keterampilan, multitasking sebenarnya bisa menurunkan kualitas kerja dan efisiensi.

  • Menetapkan Tujuan yang Tidak Efektif

Tujuan yang tidak jelas atau tidak realistis bisa menimbulkan frustrasi dan mengurangi motivasi untuk mencapai hasil yang maksimal.

  • Prokrastinasi dan Disorganisasi

Prokrastinasi dan kurangnya organisasi dapat menyebabkan penumpukan pekerjaan dan stres yang tidak perlu.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan kombinasi strategi yang mencakup peningkatan komunikasi, mengatasi disengagement, implementasi manajemen kinerja yang efektif, memperbaiki proses, menyediakan pelacakan dan pemantauan yang memadai, menetapkan tujuan yang jelas dan tercapai, mengelola waktu secara efektif, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan terorganisir. Selain itu, mempromosikan keseimbangan kerja-hidup yang sehat, menyediakan peluang pelatihan dan pengembangan, serta menumbuhkan budaya perusahaan yang positif dapat membantu mengatasi tantangan produktivitas ini.

Menangani Tekanan dan Tuntutan Pekerjaan

Setelah memahami tantangan dalam menjaga produktivitas, langkah selanjutnya adalah menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan. Tekanan kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan stres berlebih dan memperburuk kondisi kesehatan mental, termasuk depresi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu Anda mengelola tekanan kerja berdasarkan sumber yang disediakan:

  • Prioritas dan Perencanaan

Membagi tugas menjadi langkah-langkah yang dapat dikelola dan memprioritaskannya dapat membantu mengelola tekanan kerja dengan efektif. Pendekatan ini memungkinkan individu untuk fokus pada kebutuhan segera dan menghindari perasaan kewalahan oleh beban kerja secara keseluruhan.

  • Perawatan Diri dan Batasan

Merawat diri sendiri, menetapkan batasan, dan menghindari mekanisme koping yang tidak sehat sangat penting untuk mengelola tekanan kerja. Ini termasuk menjaga gaya hidup sehat, mendapatkan istirahat yang cukup, dan menetapkan batas pada jam kerja untuk mencegah kelelahan.

  • Memprediksi dan Merencanakan Masa Sibuk

Mengidentifikasi periode kerja yang intens dan merencanakannya terlebih dahulu dapat membantu individu mengelola situasi tekanan tinggi dengan efektif. Ini mungkin melibatkan outsourcing tugas, delegasi tanggung jawab, dan menjalankan strategi prioritas untuk menangani masa sibuk.

Mengidentifikasi pemicu tekanan pribadi dan mempraktikkan teknik manajemen stres dapat membantu individu mengatasi situasi tekanan tinggi di tempat kerja. Ini melibatkan pengakuan terhadap ambang batas seseorang dan pengembangan strategi untuk mengelola pemicu tekanan secara efektif.

Membangun jaringan dukungan dan mencari dukungan sosial dapat membantu individu mengatasi stres yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki sistem dukungan dapat memberikan dorongan, saran, dan rasa kebersamaan selama masa-masa sulit.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, individu dapat menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan dengan efektif, mempertahankan kesejahteraan, dan meningkatkan produktivitas mereka di tempat kerja.

Membangun Lingkungan Kerja yang Mendukung

Setelah memahami cara menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan, langkah selanjutnya adalah membangun lingkungan kerja yang mendukung. Lingkungan kerja yang mendukung tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan tetapi juga kepuasan dan produktivitas mereka. Berikut adalah beberapa strategi untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung berdasarkan sumber yang disediakan:

Menawarkan fleksibilitas dalam pengaturan kerja, seperti opsi kerja jarak jauh atau jadwal fleksibel, dapat berkontribusi pada lingkungan kerja yang mendukung. Ini dapat membantu karyawan mempertahankan keseimbangan kerja-hidup yang sehat dan mengurangi stres.

  • Mempromosikan Inklusivitas dan Rasa Kepemilikan

Menciptakan budaya inklusivitas dan rasa kepemilikan sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif. Memprioritaskan budaya yang ramah dan menghargai dapat meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.

  • Memfasilitasi Kesempatan untuk Relaksasi

Memungkinkan karyawan untuk bersenang-senang bersama dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran informal dan berbagi pengetahuan dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

  • Memprioritaskan Orientasi dan Pelatihan

Memfokuskan pada orientasi dan pelatihan dapat membantu karyawan merasa diberdayakan dan nyaman untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka. Ini termasuk mendukung karyawan untuk menciptakan kantor rumah dan ruang kerja yang nyaman.

  • Mendorong Pengakuan Antar-Peer

Mendorong pengakuan antar-peer dan berinvestasi dalam komunikasi tim yang efektif dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang positif. Ini dapat berkontribusi pada budaya apresiasi dan dukungan di antara rekan kerja.

  • Dengan menerapkan strategi-strategi ini, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung yang mempromosikan kesejahteraan, kepuasan, dan produktivitas karyawan.

Kesimpulan

Menghadapi depresi di tempat kerja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga organisasi. Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung. Ini termasuk memahami gejala depresi, mengembangkan keterampilan untuk mengelola stres, dan berpartisipasi dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif dan mendukung.

Salah satu cara untuk memahami lebih dalam tentang kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja adalah melalui psychotest dan assessment. Alat-alat ini dapat membantu Anda mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian dan pengembangan, baik secara pribadi maupun profesional.

Life Skills mengajak untuk mengambil langkah proaktif dalam mengelola kesehatan mental karyawan pada organisasi/perusahaan Anda dengan mengikuti Psychotest &  Assessment. Klik link berikut: satu.bio/satumitra-igls. Ingat, mengambil langkah pertama untuk memahami diri sendiri adalah langkah penting dalam perjalanan menuju kesejahteraan dan keberhasilan di tempat kerja.

Psychotest dan assessment bukan hanya tentang mengidentifikasi masalah atau tantangan, tetapi juga tentang menemukan kekuatan dan potensi yang belum tergali. Dengan memahami diri sendiri lebih baik, Anda dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang karier dan kehidupan pribadi Anda. Selain itu, alat-alat ini juga dapat membantu dalam membangun komunikasi dan hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.

Mari kita jadikan tempat kerja kita lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan mendukung. Dengan memahami dan mengatasi tantangan kesehatan mental, kita dapat bersama-sama menciptakan perubahan positif di tempat kerja kita.

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID

Untuk Perusahaan, NGO dan Pemerintahan:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Referensi

Shields, M. (2020, January 15). How to Manage an Employee with Depression. Harvard Business Review. https://hbr.org/2020/01/how-to-manage-an-employee-with-depression.

Nieuwenhuijsen, K., Verbeek, J. H., de Boer, A. G., Blonk, R. W., & van Dijk, F. J. (2020, October 14). Interventions to improve return to work in depressed people. PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8094165/.

Dewa, C. S., Hoch, J. S., & Goering, P. (2023, November 21). Work Performance of Employees With Depression: The Impact of Work Stressors. PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4174367/.

Al-Sada, M., Al-Esmael, B., & Faisal, M. N. (2017). Influence of organizational culture and leadership style on employee satisfaction, commitment and …

Mind. (2023, November 10). How to support staff who are experiencing a mental health problem. Mind. https://www.mind.org.uk/media-a/4661/resource4.pdf.

Read More