putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Depresi

judi

Mengatasi Karyawan Depresi di Kantor: Langkah Penting untuk Produktivitas

Depresi di tempat kerja seringkali tidak terlihat, namun dampaknya sangat nyata. Sebagai karyawan yang telah bekerja selama 3-5 tahun, Anda mungkin telah menyaksikan atau bahkan mengalami sendiri bagaimana depresi dapat mengubah dinamika kerja. Mari kita bahas gejala-gejala depresi di tempat kerja yang perlu kita waspadai.

Perubahan Perilaku

Salah satu tanda paling mencolok dari depresi adalah perubahan perilaku. Anda mungkin melihat rekan kerja yang biasanya ceria menjadi lebih sering murung atau mudah tersinggung. Mereka mungkin juga menunjukkan perasaan tidak berharga atau kehilangan energi. Seorang pekerja yang sebelumnya produktif bisa tiba-tiba menjadi tidak konsisten atau ceroboh dalam pekerjaannya.

Kurangnya Motivasi

Depresi seringkali mengikis motivasi dan fokus seseorang dalam menjalankan tugasnya. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk tetap termotivasi dan berkonsentrasi pada pekerjaan. Ini bukan hanya tentang malas, tetapi lebih pada ketidakmampuan untuk menemukan energi mental untuk berkomitmen pada tugas.

Absenteeisme

Gejala depresi yang lain adalah meningkatnya ketidakhadiran, keterlambatan, atau sering melewatkan kerja. Ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang berjuang dengan masalah kesehatan mental yang serius.

Prokrastinasi

Depresi juga bisa menyebabkan prokrastinasi, kesulitan memenuhi tenggat waktu, dan penurunan produktivitas. Ini seringkali dikaitkan dengan kehilangan minat atau kesenangan dalam melakukan aktivitas yang biasanya mereka nikmati.

Penarikan Diri atau Isolasi

Seseorang yang mengalami depresi mungkin menarik diri atau mengisolasi diri dari orang lain. Mereka mungkin juga menunjukkan perawatan diri yang buruk atau perubahan signifikan dalam penampilan. Ini adalah tanda bahwa mereka mungkin merasa terputus dari lingkungan sekitar.

Penurunan Kinerja

Depresi dapat menyebabkan penurunan dalam kemampuan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, komunikasi yang buruk dengan orang lain, dan penurunan kinerja dalam tugas-tugas. Ini bisa berdampak signifikan pada output kerja mereka dan kualitas hasil kerja.

Mengenali gejala-gejala depresi di tempat kerja adalah langkah pertama untuk memberikan dukungan dan sumber daya bagi mereka yang mungkin sedang berjuang. Mendorong komunikasi terbuka, menyediakan akses ke sumber daya kesehatan mental, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu individu mengatasi depresi dan berkembang dalam peran mereka.

Dalam bagian berikutnya, kita akan membahas tantangan dalam menjaga produktivitas saat menghadapi depresi di tempat kerja. Bagaimana depresi mempengaruhi kemampuan seseorang untuk tetap produktif, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan ini?

Tantangan Menjaga Produktivitas

Setelah memahami gejala depresi di tempat kerja, penting juga untuk mengenali tantangan dalam menjaga produktivitas. Di era yang serba cepat ini, tantangan produktivitas menjadi semakin kompleks, termasuk bagi Anda yang telah memiliki pengalaman kerja 3-5 tahun. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang sering dihadapi di tempat kerja dan strategi untuk mengatasinya.

Keterlibatan karyawan yang rendah seringkali menjadi akar masalah produktivitas yang buruk. Disengagement ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya pengakuan atau kurangnya tantangan dalam pekerjaan.

  • Manajemen Kinerja yang Tidak Efektif

Manajemen kinerja yang tidak efektif dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian tentang ekspektasi dan tujuan kerja. Hal ini seringkali menimbulkan stres dan menurunkan motivasi karyawan.

  • Proses yang Tidak Efisien

Proses kerja yang berbelit-belit dan tidak efisien dapat menghambat produktivitas. Ini termasuk penggunaan teknologi yang ketinggalan zaman atau prosedur yang tidak perlu.

  • Pelacakan dan Pemantauan yang Kurang Memadai

Tanpa sistem pelacakan dan pemantauan yang memadai, sulit untuk mengukur kemajuan dan efektivitas kerja. Ini juga bisa menyebabkan ketidakjelasan dalam penilaian kinerja.

Komunikasi yang berlebihan atau tidak efektif bisa menjadi penghambat produktivitas. Ini termasuk terlalu banyak rapat yang tidak perlu atau email yang berlebihan.

Meskipun sering dianggap sebagai keterampilan, multitasking sebenarnya bisa menurunkan kualitas kerja dan efisiensi.

  • Menetapkan Tujuan yang Tidak Efektif

Tujuan yang tidak jelas atau tidak realistis bisa menimbulkan frustrasi dan mengurangi motivasi untuk mencapai hasil yang maksimal.

  • Prokrastinasi dan Disorganisasi

Prokrastinasi dan kurangnya organisasi dapat menyebabkan penumpukan pekerjaan dan stres yang tidak perlu.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan kombinasi strategi yang mencakup peningkatan komunikasi, mengatasi disengagement, implementasi manajemen kinerja yang efektif, memperbaiki proses, menyediakan pelacakan dan pemantauan yang memadai, menetapkan tujuan yang jelas dan tercapai, mengelola waktu secara efektif, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan terorganisir. Selain itu, mempromosikan keseimbangan kerja-hidup yang sehat, menyediakan peluang pelatihan dan pengembangan, serta menumbuhkan budaya perusahaan yang positif dapat membantu mengatasi tantangan produktivitas ini.

Menangani Tekanan dan Tuntutan Pekerjaan

Setelah memahami tantangan dalam menjaga produktivitas, langkah selanjutnya adalah menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan. Tekanan kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan stres berlebih dan memperburuk kondisi kesehatan mental, termasuk depresi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat membantu Anda mengelola tekanan kerja berdasarkan sumber yang disediakan:

  • Prioritas dan Perencanaan

Membagi tugas menjadi langkah-langkah yang dapat dikelola dan memprioritaskannya dapat membantu mengelola tekanan kerja dengan efektif. Pendekatan ini memungkinkan individu untuk fokus pada kebutuhan segera dan menghindari perasaan kewalahan oleh beban kerja secara keseluruhan.

  • Perawatan Diri dan Batasan

Merawat diri sendiri, menetapkan batasan, dan menghindari mekanisme koping yang tidak sehat sangat penting untuk mengelola tekanan kerja. Ini termasuk menjaga gaya hidup sehat, mendapatkan istirahat yang cukup, dan menetapkan batas pada jam kerja untuk mencegah kelelahan.

  • Memprediksi dan Merencanakan Masa Sibuk

Mengidentifikasi periode kerja yang intens dan merencanakannya terlebih dahulu dapat membantu individu mengelola situasi tekanan tinggi dengan efektif. Ini mungkin melibatkan outsourcing tugas, delegasi tanggung jawab, dan menjalankan strategi prioritas untuk menangani masa sibuk.

Mengidentifikasi pemicu tekanan pribadi dan mempraktikkan teknik manajemen stres dapat membantu individu mengatasi situasi tekanan tinggi di tempat kerja. Ini melibatkan pengakuan terhadap ambang batas seseorang dan pengembangan strategi untuk mengelola pemicu tekanan secara efektif.

Membangun jaringan dukungan dan mencari dukungan sosial dapat membantu individu mengatasi stres yang terkait dengan pekerjaan. Memiliki sistem dukungan dapat memberikan dorongan, saran, dan rasa kebersamaan selama masa-masa sulit.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, individu dapat menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan dengan efektif, mempertahankan kesejahteraan, dan meningkatkan produktivitas mereka di tempat kerja.

Membangun Lingkungan Kerja yang Mendukung

Setelah memahami cara menangani tekanan dan tuntutan pekerjaan, langkah selanjutnya adalah membangun lingkungan kerja yang mendukung. Lingkungan kerja yang mendukung tidak hanya meningkatkan kesejahteraan karyawan tetapi juga kepuasan dan produktivitas mereka. Berikut adalah beberapa strategi untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung berdasarkan sumber yang disediakan:

Menawarkan fleksibilitas dalam pengaturan kerja, seperti opsi kerja jarak jauh atau jadwal fleksibel, dapat berkontribusi pada lingkungan kerja yang mendukung. Ini dapat membantu karyawan mempertahankan keseimbangan kerja-hidup yang sehat dan mengurangi stres.

  • Mempromosikan Inklusivitas dan Rasa Kepemilikan

Menciptakan budaya inklusivitas dan rasa kepemilikan sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif. Memprioritaskan budaya yang ramah dan menghargai dapat meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.

  • Memfasilitasi Kesempatan untuk Relaksasi

Memungkinkan karyawan untuk bersenang-senang bersama dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran informal dan berbagi pengetahuan dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif.

  • Memprioritaskan Orientasi dan Pelatihan

Memfokuskan pada orientasi dan pelatihan dapat membantu karyawan merasa diberdayakan dan nyaman untuk melakukan pekerjaan terbaik mereka. Ini termasuk mendukung karyawan untuk menciptakan kantor rumah dan ruang kerja yang nyaman.

  • Mendorong Pengakuan Antar-Peer

Mendorong pengakuan antar-peer dan berinvestasi dalam komunikasi tim yang efektif dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang positif. Ini dapat berkontribusi pada budaya apresiasi dan dukungan di antara rekan kerja.

  • Dengan menerapkan strategi-strategi ini, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang mendukung yang mempromosikan kesejahteraan, kepuasan, dan produktivitas karyawan.

Kesimpulan

Menghadapi depresi di tempat kerja bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga organisasi. Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung. Ini termasuk memahami gejala depresi, mengembangkan keterampilan untuk mengelola stres, dan berpartisipasi dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif dan mendukung.

Salah satu cara untuk memahami lebih dalam tentang kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja adalah melalui psychotest dan assessment. Alat-alat ini dapat membantu Anda mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian dan pengembangan, baik secara pribadi maupun profesional.

Life Skills mengajak untuk mengambil langkah proaktif dalam mengelola kesehatan mental karyawan pada organisasi/perusahaan Anda dengan mengikuti Psychotest &  Assessment. Klik link berikut: satu.bio/satumitra-igls. Ingat, mengambil langkah pertama untuk memahami diri sendiri adalah langkah penting dalam perjalanan menuju kesejahteraan dan keberhasilan di tempat kerja.

Psychotest dan assessment bukan hanya tentang mengidentifikasi masalah atau tantangan, tetapi juga tentang menemukan kekuatan dan potensi yang belum tergali. Dengan memahami diri sendiri lebih baik, Anda dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang karier dan kehidupan pribadi Anda. Selain itu, alat-alat ini juga dapat membantu dalam membangun komunikasi dan hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja.

Mari kita jadikan tempat kerja kita lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan mendukung. Dengan memahami dan mengatasi tantangan kesehatan mental, kita dapat bersama-sama menciptakan perubahan positif di tempat kerja kita.

Request Pelatihan SDM Satu Persen x Life Skills ID

Untuk Perusahaan, NGO dan Pemerintahan:

+62 882-9762-5596 (Margareth, Whatsapp)

Untuk Organisasi dan Kemahasiswaan:

+62 851-7317-1568 (Sheila, Whatsapp)

Referensi

Shields, M. (2020, January 15). How to Manage an Employee with Depression. Harvard Business Review. https://hbr.org/2020/01/how-to-manage-an-employee-with-depression.

Nieuwenhuijsen, K., Verbeek, J. H., de Boer, A. G., Blonk, R. W., & van Dijk, F. J. (2020, October 14). Interventions to improve return to work in depressed people. PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8094165/.

Dewa, C. S., Hoch, J. S., & Goering, P. (2023, November 21). Work Performance of Employees With Depression: The Impact of Work Stressors. PMC. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4174367/.

Al-Sada, M., Al-Esmael, B., & Faisal, M. N. (2017). Influence of organizational culture and leadership style on employee satisfaction, commitment and …

Mind. (2023, November 10). How to support staff who are experiencing a mental health problem. Mind. https://www.mind.org.uk/media-a/4661/resource4.pdf.

Read More
judi

Gangguan Depresi Mayor dan Cara Menanganinya

Mengenal gangguan depresi mayor

Gangguan Depresi Mayor, merupakan nama klinis dari depresi yang biasa kita dengar sehari-hari. Apakah lo salah satu orang yang sedang berperang melawan depresi atau lo justru curiga bahwa teman atau keluarga terdekat lo sedang mengalami depresi? Ternyata gangguan depresi mayor ini lebih umum dari yang kita bayangkan loh. Menurut data di situs resmi WHO pada awal 2020 ini, ada lebih dari 264 juta orang di dunia yang menderita depresi.  Fakta menyedihkannya adalah WHO mencatat 76% dan 85% penderita di negara berpendapatan rendah dan sedang tidak mendapatkan penanganan untuk gangguan depresinya. Penyebabnya mulai dari kekurangan sumber daya, kekurangan tenaga profesional, dan stigma sosial atas penderita gangguan mental. Lo nggak bisa sembarangan mendiagnosis diri lo sendiri atau orang lain mengidap depresi.

Diagnosis gangguan depresi mayor atau depresi cuma bisa ditegakkan oleh para profesional seperti psikolog atau psikiater. Karena itu, lo harus ke psikolog jika sudah menunjukkan gejala-gejala depresi yang akan gue sebutkan di bawah dan gejala-gejala tersebut sudah mempengaruhi kehidupan lo di pekerjaan, kuliah, sekolah, atau hubungan. Lo juga butuh bantuan profesional untuk memastikan lo mengalami gejala depresi mayor karena gejala depresi dengan sedih dan stres seringkali tumpang tindih. Yuk ketahui bedanya.

Depresi VS Sedih

Orang awam sering salah mengartikan depresi sebagai sedih. Jangan salah, sedih itu emosi yang sangat normal. Kalau lo sedih saat kehilangan orang terdekat, disakiti oleh orang lain, atau gagal itu wajar banget.  Tapi yang harus gue tekankan di sini adalah lama-lama lo akan beradaptasi dengan situasi sakit, kecewa, atau kehilangan yang lo alami dan akhirnya perasaan sedih lo pun akan berkurang seiring waktu.  Nah, ini bedanya dengan depresi. Depresi adalah kondisi mental yang tidak normal. Saat depresi, kita bisa sedih tentang semua hal, bahkan tanpa penyebab pasti. Orang yang secara kasat mata kita lihat nggak punya alasan untuk “sedih” bisa saja ternyata mengalami depresi.

Depresi jadi seperti tabir hitam yang menyelimuti hari-hari penderitanya dan bikin semua yang mereka jalani terasa suram, bahkan hal-hal yang tadinya terasa menyenangkan.  Perbedaan antara depresi mayor dan sedih juga pernah dibahas sama Satu Persen di video dengan judul “Ciri-Ciri Orang Depresi (Perbedaan Depresi dengan Sedih atau Stress).” Di video tersebut, Evan juga menyebutkan bahwa salah satu perbedaan signifikan depresi dengan sedih adalah pada jangka waktunya.

Perbedaan stress dan depresi

Depresi VS Stress

Nggak salah kok kalau lo mengira depresi itu sama dengan stress, beberapa gejala memang tumpang tindih. Namun secara signifikan depresi berbeda dengan stress.  Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Dr. jane Devenish, ahli farmasi dari dari NHS Standard and Services. Menurutnya, saat depresi seseorang akan terus menerus berada dalam suasana hati yang buruk sementara stres hanyalah salah satu dari sekian banyak pemicu depresi. Sementara itu, psikiater dr. Dimitrios Paschos punya pemikiran lain terkait stres dan depresi. Menurutnya perbedaan utama stres dan depresi adalah depresi sudah jelas definisinya karena sudah masuk dalam gangguan klinis.

Jadi, kita bisa anggap depresi sama seperti penyakit lain, penyakit jantung misalnya. Di sisi lain, stress itu masih sulit untuk didefinisikan. Satu hal bisa memicu stres bagi seseorang namun, bagi orang lain hal tersebut adalah hal yang masih bisa dihadapi. Menurutnya, yang sering orang awam maksud dengan stres sebenarnya adalah kecemasan. Kecemasan pekerjaan tidak selesai, cemas masalah finansial, dan lain sebagainya.

Gejala Gangguan Depresi Mayor

Para profesional menggunakan buku panduan diagnosis gangguan jiwa  atau yang dalam dunia psikologi dikenal dengan DSM- V untuk memastikan apakah seseorang mengidap gangguan depresi mayor atau tidak.  Menurut DSM V ada sejumlah gejala gangguan depresi mayor yang harus dialami terduga pengidap depresi selama setidaknya 2 minggu. Setelah gejala-gejala yang disebutkan menetap selam dua minggu atau lebih barulah psikolog atau psikiater menegakkan diagnosis. Gejala-gejala yang dimaksud adalah:

  1. Suasana hati murung
  2. Kehilangan minat akan hal – hal yang tadinya disukai
  3. Kenaikan atau penurunan berat badan yang signifikan, bisa juga penurunan atau peningkatan nafsu makan
  4. Gangguan tidur (tidur berlebihan/kurang tidur)
  5. Perubahan kemampuan gerak (melambat/tidak beraturan)
  6. Kelelahan dan merasa tidak berenergi
  7. Merasa tidak berharga atau terus menerus merasa bersalah
  8. Penurunan kognitif (nggak bisa fokus,nggak bisa ambil keputusan)
  9. Munculnya pikiran untuk bunuh diri

Penyebab Gangguan Depresi Mayor

Kalau lo bertanya-tanya apa yang menyebabkan seseorang terkena gangguan depresi mayor, ada penjelasan ilmiahnya. Ada dua jenis faktor yang sering disebut sebagai penyebab depresi, yaitu faktor biologis dan psikososial. Beberapa mekanisme biologis yang digunakan oleh para ahli untuk menjelaskan bagaimana terjadinya gangguan depresi mayor, diantaranya:

Faktor Genetik

Studi yang dilakukan pada anak kembar berhasil menemukan bahwa gangguan depresi mayor diturunkan sebanyak 37%. Dengan kata lain faktor genetik memang berperan dalam menyebabkan gangguan depresi mayor. Jadi lo berpotensi terkena depresi kalau ada keluarga lo yang menderita depresi juga.  Namun, yang jadi pertanyaan adalah sejauh apa faktor genetik berperan? Ternyata, walaupun potensi depresi diturunkan, namun penelitian lain mengatakan bahwa ada faktor psikososial yang berperan. Seperti jika seorang individu tinggal serumah dengan anggota keluarga yang menderita depresi maka ia akan lebih berisiko terkena depresi.

Kekurangan Serotonin

Sebagai informasi, serotonin adalah senyawa kimia dalam otak yang dilepaskan ke sambungan-sambungan saraf dan berperan untuk menimbulkan rasa bahagia dan nyaman. Faktanya, kekurangan serotonin memang berhubungan dengan gangguan depresi mayor. Hasil temuan pada pasien depresi dan korban bunuh diri menunjukan adanya penurunan aktivitas dan fungsi serotonin ini pada sistem saraf.

Hormon Stres

Stress berbeda dengan depresi, namun ternyata masih berkaitan. Ini ada hubungannya dengan hormon yang dikeluarkan tubuh saat kita stress. Ketika stress, tubuh kita melepaskan hormon kortisol. Nah, menurut beberapa studi, hormon ini dinilai berkaitan erat dengan depresi.  Faktor berikutnya adalah faktor psikososial. Beberapa faktor psikososial yang sudah dibuktikan oleh penelitian berperan dalam menyebabkan depresi adalah sejarah gangguan mental dalam keluarga, perubahan besar dalam hidup yang membuat stress, dan kurangnya dukungan sosial. Mari kita bahas satu persatu:

Perubahan Besar dalam Hidup yang Membuat Stress

Dalam sebuah penelitian ditemukan tiga kelompok peristiwa hidup yang menyebabkan stress dan berkaitan dengan depresi, yaitu masalah finansial, perubahan kondisi hidup, dan kehilangan orangtua atau orang terdekat. Tiga peristiwa dalam hidup ini bisa berdampak pada depresi karena mempengaruhi proses perkembangan individu terutama para dewasa muda. Seperti masalah finansial yang dapat mengganggu proses kemandirian.

Kurangnya Dukungan Sosial

Kalau lo mau tahu apakah tanpa teman-teman dan keluarga terdekat, lo jadi berisiko terkena gangguan depresi, jawabannya adalah iya. Ketidakhadiran orang terdekat punya andil 11% untuk menentukan tingkat depresi. Mungkin lo berpikir bahwa dukungan sosial cuma lo butuhkan saat lo menghadapi masalah dalam hidup, ternyata hasil penelitian mengatakan sebaliknya. Sebuah jurnal ilmiah menyebutkan bahwa kekurangan dukungan sosial tetap dapat meningkatkan risiko terkena depresi bahkan saat lo tidak sedang berhadapan dengan peristiwa yang bikin stress.

Dampak Gangguan Depresi Mayor

Sebenarnya depresi ini gangguan mental yang sangat berkaitan dengan emosi natural dan normal yaitu rasa sedih dan kehilangan. Bedanya, kalau kita sedih karena kehilangan pacar, gagal ujian atau mengalami pengalaman tidak mengenakkan lainnya cuma dalam jangka waktu tertentu aja, nah, orang yang depresi bisa merasakan kesedihan atau kehilangan sampai lebih dari dua minggu, bahkan bulanan atau tahunan.

Lebih jauh lagi, jenis gangguan ini mempengaruhi cara berfungsi kita sebagai manusia, mulai dari cara berpikir, suasana hati, sampai fungsi tubuh. Gangguan depresi mayor juga mempengaruhi motivasi sehingga berdampak pada kehidupan sosial, pekerjaan, sekolah dan kesehatan secara umum.  Jadi ada baiknya kita lebih hati-hati  dalam menggunakan istilah depresi, karena depresi adalah sebuah gangguan mental yang serius, bahkan bisa merenggut nyawa lewat perilaku bunuh diri.

Depresi dan Bunuh Diri

Menurut data WHO, jumlah orang yang meninggal karena bunuh diri mendekati angka 800.000 setiap tahun. Sebagai tambahan, bunuh diri menjadi penyebab kematian tertinggi kedua untuk orang-orang berusia 15-29 tahun. Lalu seberapa jauh kaitan antara kasus bunuh diri yang terjadi dengan gangguan depresi mayor?

Menurut data, 2-8% orang dewasa yang mengidap gangguan depresi mayor meninggal karena bunuh diri. Sementara 50% orang yang melakukan bunuh diri diketahui mengalami gangguan depresi mayor atau gangguan suasana hati lainnya.  Dilansir dari kompas.com, menurut riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan pada tahun 2018, kasus depresi yang berujung bunuh diri di Indonesia tercatat sebanyak 11 juta orang atau 6,1%.

Cara Menangani Gangguan Depresi Mayor

Sebagai penyakit yang umum diderita kabar baiknya adalah depresi masih dapat ditangani. Beberapa upaya bisa lo lakukan sendiri, namun beberapa yang lain membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater.  Kalau usaha-usaha ini lo lakukan secara bersamaan, kesempatan lo untuk menang melawan depresi akan lebih besar.

Punya Sistem Dukungan yang Kuat

Sebelum depresi menarik lo lebih jauh ke pusarannya, ada baiknya lo melawan dengan membentengi diri lo sendiri salah satunya adalah dengan memiliki sistem dukungan yang kuat. Sistem dukungan di sini berupa orang-orang di sekitar yang bisa dijadikan pegangan saat depresi mulai menghisap.  Tapi yang perlu diingat adalah nggak semua orang terdekat  bisa dijadikan sistem pendukung. Untuk bisa punya sistem pendukung yang kuat lo harus membentuk tiga lapisan sistem pendukung, sebagai berikut:

1. Lapisan Pertama

Lapisan pertama ini harus diisi sama para profesional sih. Bisa psikolog, konselor, mentor atau apapun yang benar-benar bisa membantu lo untuk keluar dari depresi. Ngobrol, berbicara sifatnya bisa jadi terapeutik, apalagi kalau dilakukan dengan ahlinya. Bahkan mereka bisa membantu lo untuk menemukan penyebab timbulnya depresi yang sedang lo alami. Di sisi lain, jika depresi lo sudah mengancam jiwa karena pikiran untuk bunuh diri sudah sangat mendominasi maka mengunjungi psikiater adalah langkah paling bijak. Karena psikiater dapat langsung menangani lo dengan obat yang bekerja lebih cepat untuk menstabilkan mood lo dan menghilangkan pikiran bunuh diri.

2. Lapisan Kedua

Kategori ini bisa diisi dengan orang-orang yang peduli sama lo tapi nggak bisa berbuat banyak untuk membantu atau tidak terlatih untuk membantu.  Gue yakin pasti banyak orang di sekeliling lo yang masuk kategori ini. Teman-teman terdekat atau keluarga yang bisa mendengarkan keluh kesah lo tanpa banyak membantu, bisa lo masukkan dalam kategori ini.  Walaupun tidak bisa membantu, di fase awal depresi, berbicara kepada mereka bisa jadi salah satu sarana ventilasi yang akan menahan lo untuk tidak tenggelam terlalu jauh ke depresi.

3. Lapisan Ketiga

Nah, ini lapisan terakhir alias lapisan paling luar. Yang masuk kategori ini adalah orang-orang yang nggak segitu pedulinya sama lo dan nggak bisa membantu juga. Orang-orang yang harus lo masukkan ke kategori ini adalah teman-teman main lo, atau teman jalan yang nggak terlalu mengenal lo. Saran gue sih kenali baik-baik orang yang masuk kategori ini agar lo tidak berharap banyak menerima bantuan mereka saat gangguan depresi mayor sedang menyerang.

Lebih Aktif dengan Berolahraga

Situs resmi Center for Disease Control and Prevention (CDC) pemerintah Amerika merekomendasikan orang dewasa untuk berolahraga selama 150 menit dalam seminggu. Terdengar banyak ya, tapi 150 menit tadi kan bisa dipecah menjadi 30 menit perhari selama 5 hari. Bahkan, kalau mau lebih ringan lagi waktu 30 menit per-hari tadi bisa dipecah jadi beberapa bagian dalam sehari. Intinya kalau kita memang niat sih rekomendasi CDC tersebut masih sangat bisa dilakukan. Lo bisa ikuti beberapa tips ini untuk latihan secara teratur:

1. Mulai dari Hal yang Kecil

Hal kecil yang gue maksud di sini adalah intensitas dan frekuensi. Jangan langsung mulai dengan menghabiskan waktu berjam-jam di gym. Tapi mulai saja dengan jenis olahraga yang memang benar-benar disukai dan lakukan selama 10 menit.  Gue menyarankan 10 menit dulu karena tujuannya masih untuk membentuk kebiasaan, belum untuk memenuhi rekomendasi dari CDC. Nanti, kalau kebiasaannya sudah terbentuk, baru deh dorong diri lo untuk berolahraga setidaknya 30 menit dalam sehari.

2. Pilih Jenis Olahraga Disukai

Jangan ikutan trend atau orang-orang, tapi pilih jenis olahraga yang lo memang suka. Tujuannya adalah agar lo bisa komitmen melakukan olahraga teratur dalam jangka waktu yang panjang.

Mengonsumsi Makanan Sehat

Seperti yang tadi sudah gue sebutkan kalau nafsu makan adalah salah satu gejala depresi. Namun pada setiap orang masalah nafsu makan ini muncul dengan cara yang berbeda. Ada yang kehilangan nafsu makan saat depresi ada yang justru makan secara berlebihan dan yang dimakan juga makan-makanan yang nggak sehat tapi nyaman seperti junk food atau makanan instan.

Nah, karena itu salah satu cara menangani depresi adalah memutus mata rantai gejala ini dengan makan-makanan sehat. Bentuk kebiasaan baru lo makan-makanan sehat misalnya dengan memastikan ada buah dan sayur di setiap waktu makan. Atau bisa juga dengan memastikan lo minum air putih 6-8 gelas dalam sehari dan hindari minum-minuman bersoda.

Memiliki Rutinitas

Orang yang depresi cenderung kehilangan rutinitasnya seperti begadang hingga larut atau dini hari dan tidur sepanjang pagi dan siang. Biar gak terus terusan terjebak dalam depresi menormalkan kembali harimu. Membentuk rutinitas bisa lo

Read More
judi

Perempuan Lebih Mudah Depresi: Apakah Benar?

depresi pada perempuan
penyebab depresi pada perempuan

Halo, Perseners. How’s life?

Kenalin, gue Hana. Gue di sini menulis sebagai associate writer dari Satu Persen.

Akhir-akhir ini, lo pasti ngerasa kalo isu kesehatan mental lagi ramai dibicarakan, gak terkecuali mengenai depresi. Kelihatannya, orang-orang udah pada aware sama pentingnya kesehatan mental.

Tapi, lo tahu gak, Perseners?

Menurut yang dirilis oleh National Alliance on Mental Illness (NAMI), 1 dari 8 perempuan dinyatakan mengalami depresi dalam hidupnya; dua kali lipat dibandingkan laki-laki.

Lumayan jauh ya, perbedaan angkanya?

Nah, melalui artikel kali ini, gue bakal jelasin apa itu gangguan depresi, penyebab depresi, dan kenapa depresi lebih sering ditemukan pada perempuan.

Pengertian dan penyebab depresi

Sebelum membahas lebih jauh tentang depresi pada perempuan, gue pengen lo tahu dulu apa itu depresi secara umum.

Depresi merupakan gangguan mental yang serius, di mana penderitanya merasa sangat sedih secara terus-menerus. Umumnya, penderita depresi juga mengalami penurunan minat terhadap rutinitas harian maupun aktivitas yang sebelumnya mereka senangi. Nah, karena itulah mereka jadi kesulitan untuk bersemangat melanjutkan hidupnya.

Menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fifth Edition), ada beberapa kriteria seseorang dapat dikatakan menderita depresi, yaitu mengalami tekanan sepanjang hari, gak minat lagi sama aktivitas yang dulunya menyenangkan, serta sulit konsentrasi dan membuat keputusan.

Selain itu, penderita depresi juga sering merasa gak berharga, bersalah, marah, lelah ekstrem, dan gelisah. Gak cuma itu, mereka biasanya juga mengalami masalah tidur dan gangguan pola makan. Sehingga, kondisi fisiknya juga bisa ikut terganggu.

Kalo dibiarkan aja, kondisi penderita bisa semakin parah. Mereka mungkin banget berpikir tentang kematian, bahkan melakukan percobaan bunuh diri.

Baca Juga: Penyebab Manusia Bunuh Diri

Jadi, gue mau tekankan bahwa depresi itu gak sama dengan sedih. Sedih adalah emosi atau perasaan yang wajar, sedangkan depresi merupakan gangguan mental yang perlu diagnosa serta penanganan khusus dari psikolog supaya bisa pulih.

Ada beberapa faktor penyebab depresi, antara lain: riwayat dari keluarga yang juga menderita depresi, trauma di masa lalu, penyalahgunaan obat, kepercayaan diri rendah, mengalami sakit keras, adanya pengalaman buruk, kurangnya support system, dan lain-lain.

Tapi, gak semua orang yang mengalami hal-hal tadi dipastikan terkena depresi, ya. Inget, untuk mengetahui kondisi mental, lo perlu diagnosa dari tenaga profesional.

Penyebab depresi lebih rentan terhadap perempuan

Perbedaan angka yang dirilis oleh NAMI tadi pastinya bukannya tanpa alasan, guys.

Beberapa ahli percaya bahwa kedua jenis kelamin sama-sama berpotensi menderita depresi, namun laki-laki cenderung gak membicarakan suasana hati, apalagi sampe cari bantuan. Mungkin juga depresi pada laki-laki ditunjukkan dengan cara yang berbeda, seperti perilaku kekerasan, alih-alih pergi ke tenaga profesional.

Teori lain mengatakan bahwa meskipun kedua jenis kelamin bisa mengalami depresi, perempuan menjadi lebih rentan karena tekanan hidup dan faktor lingkungan tertentu yang lebih sering dialami oleh mereka.

Kalau yang dua tadi masih berupa teori, ada gak sih fakta yang udah teruji benar?

Sejauh ini, para peneliti berhasil hanya sebatas mengidentifikasi faktor biologis. Perubahan hormonal yang terjadi pada menstruasi bulanan menyebabkan perubahan mood. Beberapa perempuan juga rentan mengalami depresi setelah melahirkan atau selama transisi menuju menopause.

Tentunya kita tahu ya, bahwa menstruasi, hamil dan melahirkan, serta menopause hanya terjadi pada perempuan. Karena perbedaan hormon inilah yang membedakan depresi pada perempuan dan laki-laki menurut faktor biologisnya.

penyebab depresi: faktor biologis
Gambar oleh Mohamed Hassan dari Pixabay

Gimana dengan faktor lainnya?

Perempuan juga lebih mungkin mengalami pengalaman berat tertentu seperti pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, maupun ketidakpercayaan diri karena gak memenuhi standar kecantikan. Pengalaman semacam ini tentu berefek buruk dan bertahan lama di dalam otak.

Selain itu, pengalaman sehari-hari juga bisa jadi pemicu, lho. Di banyak tempat, perempuan lebih mungkin mengasuh baik anak kecil maupun orang lanjut usia. Hal itu dapat menyebabkan stres kronis yang berlanjut hingga tahap depresi.

Rata-rata perempuan lebih mengalami kemiskinan daripada laki-laki. Misalnya, pada ibu single-parent yang memiliki anak kecil, mereka dihadapkan oleh tuntutan menjadi ibu rumah tangga sekaligus bekerja, dan keduanya dilakukan sendiri. Makanya, gak heran kalo mereka cenderung mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi.

Apa yang bisa dilakukan untuk yang mengalami penyebab depresi?

Mungkin lo punya keluarga, teman, atau pacar perempuan yang menderita atau menunjukkan gejala depresi. Rasanya kepengen bantu, tapi gak tahu harus apa. Takutnya salah ucapan atau sikap, soalnya lo ngerasa awam sama masalah ginian.

Tenang aja, Perseners. Meskipun bukan tenaga profesional, lo bisa kok bantuin orang tersayang lo dalam menghadapi depresi. Tenang, tips ini udah disesuaikan dengan kapabilitas lo, ya.

Gimana sih caranya?

1. Pelajari tentang pengertian, gejala, dan penyebab depresi

Tentunya, lo harus tahu dulu apa itu depresi dan apa bedanya sama sedih biasa. Pelajari juga gimana perbedaan hormon pada perempuan. Supaya penanganannya gak salah, guys. Semuanya ada di internet, kok.

Tapi, jangan sampe malah self-diagnose, ya! Cukup dijadikan pengetahuan aja supaya lo gak terlalu nge-blank.

2. Dengarkan penyebab depresi yang dialaminya

Orang yang mengalami depresi pasti ada sebabnya, dan pastinya itu bukan pengalaman yang menyenangkan. Jadilah pendengar yang baik, dengan cara active listening, jangan menghakimi, dan bertanya alih-alih membuat asumsi sendiri.

Tapi, jangan paksa mereka buat menjawab, ya. Lo harus sabar, memahami, dan beri mereka waktu serta kenyamanan.

3. Hadir di saat penyebab depresi menghantuinya

Dengan hadirnya lo di sisi orang yang menderita depresi, lo sudah cukup membantu, kok. Jangan biarin dia sendiri, ya! Kalo perlu, coba lo ajakin untuk melakukan sesuatu. Supaya pikiran dia bisa teralihkan ke hal-hal yang lebih baik.

4. Dukung dia untuk pulih dari penyebab depresi

Pada akhirnya, lo gak akan bisa ngobatin dia. Dan lo juga gak perlu susah sendiri bantuin dia yang depresi. Mungkin udah saatnya buat ajak dia ke tenaga profesional. Kasih dukungan emosional untuk menguatkannya dalam menjalani proses pemulihan.

5. Penyebab depresi juga bisa menyerang lo kalo kurang memperhatikan diri

Selain mereka yang mengalami depresi, lo juga perlu menjaga diri dan kondisi mental lo. Mendampingi penderita depresi itu sama sekali gak gampang, jadi wajar banget kalo mungkin lo ikut ngerasa capek.

Beri waktu buat diri lo juga. Jangan lupa istirahat, self-care, dan recharge energi. Supaya lo ada tenaga buat mendukung mereka yang berjuang menghadapi depresi.

Baca Juga: Self-Care: Penting untuk Dirimu

self care mengurangi penyebab depresi
Gambar oleh Mohamed Hassan dari Pixabay

Sedangkan, kalo lo adalah penderita depresi, atau merasakan beberapa gejala depresi, hal-hal yang mungkin bisa lo lakukan adalah cari support system atau teman cerita, melakukan self-care, dan yang paling penting carilah bantuan ke tenaga profesional.

Kabar baiknya, depresi itu merupakan gangguan mental yang bisa disembuhkan. Dan kalo lo bingung mau cari bantuan kemana, well—kabar baik lagi buat lo, Satu Persen bisa bantu lo.

Satu Persen punya layanan konseling untuk menangani masalah klinis seperti depresi. Di situ, lo bakal ditangani sama psikolog yang udah ahli di bidangnya, dibantu dengan asesmen mendalam serta terapi. Selain itu, lo juga bisa mendapatkan diagnosa, biar lo gak bingung lagi.

Sebelum ikut konseling Satu Persen, mungkin lo bisa mulai dengan mengukur tingkat stres dan kondisi mental lo, supaya ada sedikit gambaran. Yuk, cobain tesnya di sini.

Selain itu, lo juga bisa nonton video YouTube dari Satu Persen tentang penyebab depresi. Tentunya, video ini cocok banget buat lo yang lagi pengen belajar banyak soal ini.

penyebab depresi

Segitu dulu tulisan gue. Semoga bermanfaat dan bisa memberi insight yang lebih luas. Perempuan maupun laki-laki, keduanya punya risiko terkena depresi, jadi gue harap kalian semua sehat selalu, ya! Jangan lupa untuk memperlakukan semua orang dengan baik 🙂

Yuk, berkembang bareng-bareng! Gak usah langsung banyak, seenggaknya Satu Persen setiap hari menuju #HidupSeutuhnya.

Akhir kata, thanks a million!

CTA-Konsultasi--1-

Referensi

Harvard Mental Health Letter. (May, 2011). Women and depression. Retrieved on January 10, 2020 from https://www.health.harvard.edu/womens-health/women-and-depression.

National Alliance on Mental Illness Press Release. (April 28, 2008). Women & Depression. 1 in 8; twice the rate of men. Retrieved on January 11, 2020 from https://www.nami.org/Press-Media/Press-Releases/2008/Women-Depression-1-in-8;-twice-the-rate-of-men.

Sirohi, S. (April, 2020). Depression in women. Retrieved on January 10, 2020 from https://www.priorygroup.com/mental-health/depression-treatment/depression-in-women.

Whelan, C. (March 30, 2017). Is It Depression or Sadness? Learn the Signs. Retrieved on January 10, 2020 from https://www.healthline.com/health/depression/depression-vs-sadness.

Read More
judi

Mengenal Gejala Gangguan Depresi

mengenal gejala gangguan depresi
mengenal gejala gangguan depresi

Halo, Perseners! Sebelum kita bahas artikelnya, kita kenalan dulu ya.

Kenalin, gue Vidha sebagai associate writer di Satu Persen yang sekarang sedang kuliah semester 6 dan berdomisili di Jakarta.

Kalo udah kenal gue, sekarang kita lanjut ke perkenalan selanjutnya, yaitu kenalan sama gejala gangguan depresi.

Lo udah sering gak sih denger kata depresi?

Mau itu di media sosial kayak Instagram, Twitter, Tiktok, atau di sekitar lo mungkin di tongkrongan temen-temen lo atau di lingkungan keluarga lo.

Semakin kita banyak mendengar tentang kata depresi, biasanya kita semakin bingung nih. Apa sih sebenernya depresi itu? Kenapa orang banyak ngomongin tentang depresi? Apa sebab terjadinya si depresi ini?

Nah, biar pertanyaan lo bisa terjawab satu-satu, cus kita lanjut dulu kenalan sama si depresi ini sendiri.

Sedikit tentang gangguan depresi

mengenal gejala gangguan depresi

Dikutip dari web Psychiatry, gangguan depresi atau Major Depressive Disorder (MDD) adalah gangguan mental yang membuat penderitanya merasa sedih dan putus asa atau kehilangan minat hidup berkepanjangan sekurang-kurangnya selama 2 minggu.

Menurut WHO, ada lebih dari 100 juta orang menderita depresi di seluruh dunia, namun hanya 25% yang mendapatkan penanganan dan pengobatan.

Depresi ini berpengaruh kepada perasaan, cara berpikir, dan tindakan lo yang menderitanya. Mood yang dominan dirasakan oleh pengidap depresi biasanya perasaan hopelessness, kayak gak ada daya dan upaya serta kehilangan harapan yang bisa menimbulkan pikiran-pikiran negatif kayak membahayakan diri sendiri sampe bunuh diri.

mengenal gejala gangguan depresi
sumber: @receh.id on Instagram

Gejala gangguan depresi

Dilansir dari Psychiatry dari DSM-V menyatakan ada 9 gejala yang mengindikasikan gangguan depresi dari mild/minor depression sampai severe/major depression.

Baca juga: Gangguan Depresi Mayor dan Cara Menanganinya

Seenggaknya lo bisa diindikasikan mengidap gangguan depresi kalo lo merasakan minimal 5 dari 9 gejala selama dua minggu di bawah ini:

Suasana hati yang buruk dan sedih berkepanjangan

Lo merasa gak ada masalah atau sesuatu yang bikin lo sedih atau murung, tapi gak tau kenapa mood lo tuh rasanya pengen nangisss mulu.

Dengerin juga podcast tentang perbedaan sedih biasa dan depresi biar gak salah tangkep.

mengenal gejala gangguan depresi

Kehilangan minat dari kegiatan yang disukai

Kehilangan minat kayak misal biasanya lo suka nonton drakor, tapi di sini tuh lo rasanya gak mau nonton drakor. Gak ada minat buat nonton drakor atau kegiatan lain yang lo suka.

Penurunan atau peningkatan nafsu makan dan berat badan yang signifikan tanpa menjalani diet

Lo bisa males banget makan, tapi juga bisa pengen makan mulu sampe mungkin gak kekontrol dan bisa membuat berat badan lo naik atau turun secara signifikan padahal gak ada niatan diet atau niat menambah berat badan.

Kekurangan atau kelebihan waktu tidur

Hampir sama kayak poin ketiga. Lo bisa mengalami insomnia dan hipersomnia. Bisa susah tidur, bisa juga rasanya selalu mengantuk setiap saat. Cobe deh lo ikut tes kualitas tidur supaya tau kualitas tidur lo akhir-akhir ini.

Baca juga: Macam-macam Gangguan Tidur

Mengalami kelelahan dan kehabisan energi hampir setiap hari meskipun gak banyak kegiatan

Poin kelima bisa bersangkutan dengan poin-poin di atas.

Kekurangan tidur capek, kelebihan tidur juga capek. Kekurangan makan kurang energi, kelebihan makan juga bisa menguras energi. Jadi rasanya capek terus hampir tiap saat dan buat kita jadi biasanya gak ngapa-ngapain

Baca juga: Penyebab Capek Secara Emosi

mengenal gejala gangguan depresi
sumber: Demotivation on Pinterest

Penurunan kemampuan berpikir dan gerakan yang lambat (dari point of view orang lain)

Kalo temen atau orang-orang di sekeliling lo ngomong “Eh kok lo jadi lemot gini sih?” atau semacamnya. Bisa jadi termasuk gejala depresi. Otak lo jadi berproses lebih lamban dari biasanya

Merasa tidak berharga dan rasa bersalah yang berlebihan

Pernah gak sih merasa lo tuh gak berguna, cuma jadi beban hidup orang lain. Atau merasa bersalah sama seseorang yang mungkin sebenernya biasa aja, bukan sebuah kesalahan besar.

Nah ini juga bisa termasuk ke dalam gejala-gejala depresi.

Kesulitan mengatur konsentrasi dan mengambil keputusan

Ini bisa menyambung pada poin keenam dan poin ketujuh. Karena otak lo berproses lambat, jadi susah fokus dan susah mengambil keputusan.

Terpikir untuk mengakhiri hidup

Poin ini biasanya dirasakan oleh orang-orang yang menderita major depression, tapi gak terbatas juga cuma orang yang menderita major depression yang bisa merasakan gejala ini.

Kalo udah muncul gejala ini, kalo bisa sesegera mungkin hubungi profesional ya gais.

Baca juga: Penyebab Manusia Ingin Bunuh Diri

mengenal gejala gangguan depresi
sumber: @SarahBlhd on Twitter

Nah, 9 gejala ini kan gejala umum gangguan depresi, tapi sebenernya depresi sendiri punya banyak jenis loh.

Biar lebih kenal lagi, gue bakal jelasin jenis-jenis depresi lain selain depresi mayor ini biar lo makin paham deh sama depresi dan apa aja gejala-gejala dari jenis depresi lain.

Jenis-jenis gangguan depresi dan gejalanya

Setelah kenalan sama gejala gangguan depresi yang paling umum terjadi, yaitu depresi mayor, DSM-V (The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fifth Edition) punya kenalan lain lagi nih tentang depresi buat lo.

Ada 9 jenis depresi yang dijelaskan oleh DSM-V, di antaranya adalah:

MDD (Major Depressive Disorder)/Gangguan depresi mayor

MDD atau biasa disebut depresi mayor adalah jenis depresi yang paling umum dan terjadi sekurang-kurangnya selama 2 minggu. Gejala-gejala lengkapnya udah gue sebutin di subbab di atas.

Depresi persisten

Depresi persisten sebelumnya dikenal dengan kata dysthymia. Gejalanya meliputi rasa putus asa, penurunan produktivitas, merasa harga diri rendah, dan kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari.

Depresi persisten bisa masuk ke dalam jenis depresi kronis yang berlangsung selama lebih dari dua tahun dengan tingkat depresi bisa mild, moderate, dan severe.

Bipolar

Bipolar sendiri adalah gangguan mood di mana penderitanya dapat merasakan fase mania dan fase depresi. Gejala dari fase depresi bipolar meliputi mudah marah dan gelisah, putus asa, ragu dalam mengambil keputusan, dan beberapa lainnya.

Baca juga: Perbedaan Mood Swing dan Bipolar

Depresi post-partum/pasca persalinan

Para wanita yang baru melahirkan juga bisa ketemu depresi. Namanya depresi pasca persalinan. Depresi ini terjadi setelah melahirkan dengan gejala yang meliputi kesedihan berkepanjangan, kebingungan, psikosis, dan kelesuan.

Premenstual Dysphoric Disorder (PMDD)

Bagi lo para ciwi-ciwi yang suka galau sendiri pas lagi PMS, depresi ini bisa jadi salah satu penyebabnya.

PMDD hampir sama dengan PMS (Premenstrual syndrome), tapi gejala dari PMDD lebih jelas kayak kelelahan yang ekstrem, cepat marah, sulit berkonsentrasi, mengidam sesuatu, kecemasan berlebih, dan merasa putus asa.

Baca juga: Kenali Gangguan Depresi pada Perempuan

Seasonal Affective Disorder (SAD)

SAD ini bisa terjadi kalo ada periode tertentu yang terjadi dalam kehidupan, bisa kayak musiman gitu. Gejalanya meliputi depresi, cepat mengantuk, dan kenaikan berat badan.

Biasanya sih SAD ini bisa terjadi di bumi bagian utara dan selatan yang perubahan setiap periodenya cukup signifikan.

mengenal gejala gangguan depresi
sumber: @ChrstnaBergling on Twitter

Depresi atipikal

Depresi atipikal ini ketika lo ada di perubahan suasana ekstrem yang tadinya ada di situasi negatif, tapi tiba-tiba jadi semangat banget gara-gara ada situasi yang positif.

Gejalanya itu bisa kayak tidur berlebihan, makan berlebihan, merasa terbebani, sensitif banget sama penolakan, dan kelelahan.

Depresi psikotik

Depresi psikotik ini bisa terjadi kalo depresi lo udah berat dan parah banget. Depresi psikotik itu meliputi halusinasi, delusi, dan paranoid. Gejala psikotik ini biasanya ada pada gangguan skizofrenia.

Depresi situasional

Pernah gak sih lo rasain perubahan hidup yang signifikan banget? Kayak misal perceraian orang tua, ditinggal orang yang disayang, di-PHK, dan lain-lain. Ini bisa jadi sindrom respon terhadap stres yang bisa menyebabkan munculnya depresi.

Udinnn nih 9 jenis depresi dari DSM-V. Kalo lo merasa dari sekian banyak tulisan ini ada yang relate, sebisa mungkin langsung menghubungi profesional ya. Sebaiknya enggak self-diagnose biar gak salah penanganan.

Setiap orang bisa merasakan gejala yang beda-beda, gak selalu sama antara penderita satu dengan penderita lainnya.

Jadi untuk make sure yang lo rasain itu termasuk gejala depresi atau bukan, lo bisa konsultasi bareng psikolog Satu Persen untuk mendapat diagnosis dan penanganan lebih lanjut terkait gejala-gejala yang lo rasain tentang depresi.

Akhir kata, semoga semua baik-baik aja. Apapun jenis depresi yang mungkin ada di diri lo akan segera pergi dan lo bisa hidup seperti pada normalnya. Jangan lupa untuk tetap #HidupSeutuhnya!

CTA-Konsultasi--1--7

Referensi:

Santoso, M. B., Asiah, D. H. S., & Kirana, C. I. (2017). BUNUH DIRI DAN DEPRESI DALAM PERSPEKTIF PEKERJAANSOSIAL. Jurnal Unpad, 4(3), 390–447. Retrieved from http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:SVrLuP8lqgUJ:jurnal.unpad.ac.id/prosiding/article/download/18617/8838+&cd=18&hl=en&ct=clnk&gl=id

Torres, F. (2020). What Is Depression? Retrieved March 14, 2021, from https://www.psychiatry.org/patients-families/depression/what-is-depression

Authority, H. (2018). Depression/Bahasa Indonesia. Retrieved March 14, 2021, from https://www21.ha.org.hk/smartpatient/EM/MediaLibraries/EM/EMMedia/Depression_Bahasa-Indonesia.pdf?ext=.pdf

Casarella, J. (2020). Types of Depression. Retrieved March 15, 2021, from https://www.webmd.com/depression/guide/depression-types

Read More
judi

Kenali Gejala Fisik Kamu Depresi

kenali-gejala-fisik-kamu-depresi
Satu Persen – Sakit Fisik atau Depresi

Hi, Perseners! Selamat datang di artikel aku, ya. Buat yang belum kenal, aku, Keysha, dan di sini sebagai Associate Writer.

Nah, Perseners, ada nggak, sih, yang sering kepikiran soal kondisi well-being kalian sebagai manusia? Misalnya ketika kalian sering pusing, sakit perut, mual, atau mungkin sakit punggung terus kalian jadi mikir “sebenarnya gue sakit fisik biasa atau jangan-jangan depresi ya?”

Hmm, emang, sih, isu mengenai depresi ini belum sepenuhnya diperhatikan sama orang-orang terutama yang menyangkut gejala secara fisik.

Seringkali, orang-orang di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri pun masih jarang yang aware sama hal tersebut dan menganggap gejala itu sebagai sakit fisik biasa.

Tapi, apa iya beneran kayak gitu? Gimana kalau seandainya sakit fisik yang kalian alami itu merupakan gejala-gejala kalau sebenarnya kondisi mental kalian lagi nggak sehat?

Photo by: Freepik
Photo by: Freepik

Oleh karenanya, di artikel kali ini aku akan bahas, sebenarnya ada nggak sih gejala-gejala fisik yang menandakan depresi dan gimana cara untuk membedakan apakah kita sakit fisik biasa atau bukan.

So, baca artikel ini baik-baik, ya!

Aku Sakit Fisik atau Depresi?

Depresi.

Kalian pasti udah familiar banget sama satu kata itu. Meskipun familiar, tapi mungkin diantara kalian masih ada yang belum paham sama gejala-gejala dari depresi ini.

Seringkali, orang yang memiliki depresi mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek emosional. Misalnya, sedih terus menerus, merasa putus asa, mood yang gampang berubah, susah berkonsentrasi, dan lain sebagainya.

Photo by: Freepik
Photo by: Freepik‌‌

Tapi, ternyata gejala depresi nggak hanya sebatas aspek emotional melainkan juga aspek fisik dan ini udah dibuktikan sama penelitian. Sebuah penelitian dari Madhukar H. Trivedi, bilang kalau depresi ini bisa menimbulkan gejala fisik yang menyakitkan.

Munculnya gejala fisik tersebut dikarenakan depresi dan rasa sakit memiliki jalur neuro-kimiawi yang sama, keduanya dipengaruhi oleh serotonin dan norepinefrin.

Sayangnya, orang-orang masih banyak yang belum aware akan hal ini. Nggak jarang juga di dalam masyarakat depresi ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu atau mitos.

Pernah nggak, sih, kalian denger cerita dari temen-temen kalian atau mungkin kalian ada yang mengalami sendiri–pas kalian concern tentang kondisi fisik kalian dan takut kalau itu merupakan gejala depresi, terus respon orang-orang cuma “ah, perasaan lo aja kali.” atau yang lebih parahnya “lo kurang ibadah kali, makanya sampe ngerasa kayak gitu.”

Padahal, gejala fisik yang dialami bisa menjadi tanda-tanda awal apakah kalian punya kecenderungan untuk mengalami depresi atau nggak.

Hal ini seharusnya dapat digunakan untuk melakukan usaha preventif bukannya malah menganggap depresi sebagai suatu hal yang nggak real dan mitos.

Secara umum, semakin parah gejala fisik yang dialami, kemungkinan besar semakin parah juga tingkat dari depresinya. Nah, simak yuk, kira-kira apa aja, sih, gejala fisik dari depresi.

Baca juga: Cara Mengatasi Depresi Secara Mandiri

Apa Aja Gejala Fisik dari Depresi?

1. Kelelahan secara terus-menerus

Kelelahan ini adalah hal yang wajar dialami semua orang. Tapi, ada sedikit perbedaan antara kelelahan karena abis menjalani aktivitas sehari-hari dengan kelelahan yang merupakan indikasi dari depresi. Kelelahan yang merupakan indikasi depresi terjadi secara konsisten.

Menurut Dr. Maurizio Fava, seorang Direktur di Clinical Research Program, Rumah Sakit Umum Massachusetts, bilang kalau seseorang yang mengalami depresi akan tetap merasa lelah ketika bangun pagi meskipun orang itu udah tidur dengan waktu yang cukup.

Rasa lelah ini seringkali menyebabkan kita sulit untuk berkonsentrasi, mudah tersinggung, apatis, dan rasanya berat banget untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

2. Nyeri punggung atau nyeri otot di sekujur tubuh

David Robertson dan kawan-kawannya melakukan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara nyeri punggung bawah dengan depresi dan somatisasi, dan hasil penelitian menyatakan ada–depresi dan somatisasi bisa menyebabkan seseorang mengalami nyeri punggung bagian bawah.

Hal ini bisa dijelaskan karena depresi dapat melemahkan respon sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi dan penyakit. Jika sistem kekebalan tubuh kita lemah, otomatis kita akan lebih rentan untuk mengalami rasa sakit, seperti nyeri punggung, nyeri otot, atau bahkan penyakit yang lain.

3. Sakit Kepala

Gejala yang satu ini mungkin terkesan sepele karena emang mayoritas orang pernah mengalaminya. Saking umumnya, banyak dari kalian yang justru nggak aware kalau sakit kepala yang dialami bisa jadi bukan sakit kepala biasa.

Perlu kalian perhatikan apabila sakit kepala yang kalian alami terjadi hampir setiap hari secara konsisten karena bisa jadi ini suatu indikasi awal kalian mengalami depresi.

Sakit kepala yang mengarah ke indikasi depresi dikenal dengan nama “tension headache. Meskipun, belum tentu semua “tension headache” itu berarti tanda depresi, loh, ya!

Namun, nggak ada salahnya kalau mulai dari sekarang kalian belajar menanamkan awareness ke diri sendiri soal hal-hal kayak gini.

4. Penurunan penglihatan

Ada sebuah penelitian dari Jerman tentang gimana depresi bisa mengubah persepsi penglihatan seseorang.

Hasil penelitian itu bilang kalau orang yang mengalami depresi berat secara signifikan kurang bisa mendeteksi perbedaan kontras warna hitam dan putih di papan catur. Fenomena ini namanyacontrast perception”.

5. Sakit perut atau masalah pencernaan

Sebuah penelitian dari Harvard Medical School bilang kalau seseorang yang mengalami perut kram, kembung, dan mual bisa jadi lagi mengalami tanda-tanda depresi.

Kok bisa? Emang gimana hubungannya?

Gini, ada sebuah fenomena yang dinamakan gut-brain connection. Simpelnya, fenomena ini tuh menjelaskan bahwa perut kita itu penuh dengan bakteri baik dan kalau ada ketidakseimbangan bakteri baik, gejala kecemasan dan depresi bisa aja muncul.

Nah, kalau kalian mau penjelasan yang lebih detail, bisa nonton video di bawah ini, ya, karena temen-temen Satu Persen juga udah pernah bahas topik ini di channel Youtube.

Youtube Satu Persen – Cara Agar Kesehatan Mental Terjaga dengan Pola Makan

GHQ Test oleh Mentor Satu Persen: Say No to Self-diagnosis!

Perseners, kalian tau nggak, sih, kalau menurut penelitian pada tahun 2000 depresi itu adalah penyebab masalah kesehatan tertinggi keempat di dunia. Artinya, dari situ kita bisa melihat bahwa sejak dulu depresi ini adalah permasalahan serius yang seharusnya ditangani dengan tepat.

Untuk bisa menangani masalah depresi dengan efektif, tentunya para tenaga ahli profesional juga memerlukan seperangkat alat ukur yang bisa mendeteksi gejala-gejala depresi, baik gejala minor maupun mayor.

Nah, di artikel kali ini aku cuma akan bahas tentang alat ukur yang digunakan untuk mendeteksi kecenderungan awal depresi, ya. Jadi, ada sejumlah alat ukur singkat namun akurat yang secara efektif digunakan untuk mengukur gejala-gejala depresi.

Sebenarnya, ada lebih dari satu jenis alat ukur, tapi, di artikel kali ini aku akan bahas soal General Health Questionnaire (GHQ).

Nah, GHQ ini aslinya ada beberapa versi pertanyaan, namun yang paling banyak dipakai adalah GHQ-12. Angka 12 disini artinya pada alat ukur tersebut ada 12 pertanyaan yang digunakan untuk menilai kondisi mental kalian.

Scoring yang digunakan dalam GHQ yaitu range angka 0 sampai dengan 36. Secara umum, semakin besar hasil score yang diperoleh, maka kecenderungan awal gangguan mental orang tersebut juga semakin besar.

Emang apa spesialnya GHQ? Kok nggak pake alat ukur yang lain aja?

Sesuai dengan namanya, General Health Questionnaire yang kalau dibahasa Indonesiakan menjadi Kuesioner Kesehatan Umum, tentunya ini mengukur kondisi kesehatan mental kalian secara umum.

Sebelum bisa memberikan diagnosis lebih lanjut, para tenaga ahli profesional, seperti psikolog misalnya, pasti memerlukan penilaian tahap awal dulu mengenai kecenderungan kondisi mental seseorang.

Gini, gini….bayangin kalian sakit terus pergi ke dokter. Kalian pergi ke dokter karena ada gejala-gejala yang kalian rasakan, tapi bisa jadi kalian belum bener-bener tau kalian itu sebenarnya sakit apa.

Makanya, pas sampe di rumah sakit pihak administrasi mengarahkan kalian ke dokter umum, tujuannya buat melakukan pemeriksaan tahap awal.

Nah, baru dari pemeriksaan tahap awal itu, kalau sekiranya ada indikasi kalian mengalami penyakit yang lebih serius, dokter umum tersebut pasti akan mengarahkan kalian untuk periksa ke dokter spesialis di bidang tertentu.

Sama halnya dengan penggunaan GHQ. Alat ini bisa membantu untuk mendeteksi kecenderungan awal kondisi mental seseorang yang sifatnya ringan, sebelum diberikan diagnosis lebih lanjut.

Selain itu, GHQ nggak cuma mengukur kecenderungan awal depresi aja, melainkan alat ini juga mengukur kecenderungan awal kecemasan, gangguan sosial, dan hilangnya kepercayaan diri secara bersamaan. Nah, kalian bisa liat gambar di bawah ini, ya, biar lebih paham.

Gambar General Health Questionnaire
Gambar General Health Questionnaire

Di sini aku juga mau mengingatkan, kalau GHQ ini nggak boleh digunakan oleh sembarang orang loh, ya. Untuk bisa memperoleh tes ini harus dilakukan oleh tenaga ahli profesional yang emang punya kualifikasi tertentu, contohnya kayak mentor-mentor Satu Persen.

Layanan konsultasi bersama Psikolog Satu Persen menggunakan GHQ setelah sesi konsultasi selesai. Nantinya, hasil dari GHQ ini bisa digunakan untuk melihat kondisi kesehatan mental kalian, apakah sekiranya perlu penanganan lebih lanjut oleh psikolog Satu Persen atau nggak.

Buat informasi selengkapnya terkait layanan Konseling Online bareng Psikolog dari Satu Persen bisa langsung aja klik gambar dibawah ini!

Satu-Persen-Artikel--30--2

Jadi, apabila kalian mengalami gejala-gejala fisik kayak yang aku jelasin di atas dan kalian concern terhadap hal itu, nggak ada salahnya kalau kalian minta bantuan langsung ke orang-orang yang emang berpengalaman menangani hal-hal semacam itu.

Atau, kalau masih ragu soal layanan konsultasi apa yang paling cocok buat keadaan kalian saat ini, kalian bisa coba Tes Gratis dari Satu Persen untuk memastikan.

Akhir kata, aku mau ngingetin kalian kalau membangun awareness terhadap kondisi mental diri sendiri itu penting banget. Kalau kalian merasa kesulitan dan butuh bantuan, jangan self-diagnosis, please seek for help, oke?

Sekian dari aku–stay healthy, stay safe & stay sane!~

Referensi:

Fraga, Juli. 2019. “The 7 Physical Symptoms Of Depression We Rarely Talk About”. Healthline. Accessed February 7, 2021. https://www.healthline.com/health/mental-health/physical-symptoms-of-depression#1.-Fatigue-or-consistent-lower-energy-levels.

Gao, Fei et al. 2004. “Does the 12-item General Health Questionnaire contain multiple factors and do we need them?”. Health and Quality of Life Outcomes 2 (1): 63. Springer Science and Business Media LLC. doi:10.1186/1477-7525-2-63.

Schimelpfening, Nancy. 2020. “Physical Effects Of Depression”. Verywell Mind. Accessed February 7, 2021. https://www.verywellmind.com/physical-effects-of-depression-1066890.

Trivedi, Madhukar H. 2004. “The Link Between Depression and Physical Symptoms”. Prim Care Companion J Clin Psychiatry 6 (1): 12-16. NCBI. doi:PMC486942.

Read More
judi

Cara Mengatasi Depresi di Rumah Aja

mengatasi-depresi-satu-persen
Satu Persen – Cara Mengatasi Depresi Secara Mandiri

Halo, Perseners! Gimana kabarmu? Aku Rebecca, Associate Writer Satu Persen.

Nggak kerasa ya, udah hampir setahun kita harus ngebatesin interaksi sosial kita karena pandemi COVID-19. Gimana perasaanmu pas sadar soal ini? Apa kamu masih ngerasa nyaman ngelakuin segala hal di rumah? Atau, kamu justru ngerasa super bosen, penuh emosi negatif, dan nggak sabar nunggu pandemi ini berakhir?

Perseners, kalo kamu mulai sering ngerasain emosi negatif, bawaannya ngerasa down terus, dan punya pikiran buruk soal diri sendiri, kamu harus hati-hati. Bisa jadi kamu udah mulai merasa depresi karena kelamaan di rumah aja.

Menurut ahli, isolasi diri itu bisa jadi salah satu penyebab depresi, lho. Tapi, tentu aja, kamu bisa menghindarinya dengan cara mengatasi depresi yang tepat.

Buat ngadepin pandemi, kamu nggak cuma butuh imunitas yang kuat lho, Perseners. Nggak kalah penting dari itu, kamu juga harus banget mastiin kesehatan mental kamu biar kamu selalu siap ngelewatin hari-hari yang serba nggak pasti.

Soalnya, meskipun para ahli punya prediksi kapan pandemi ini akan berakhir, nggak ada jawaban yang bener-bener pasti. Jadi, kamu harus mastiin dirimu bisa bertahan hingga situasi membaik.

Meskipun kamu nggak bisa kumpul bareng temen-temen yang biasanya jadi moodbooster kamu atau nggak bisa traveling buat ngelepas penat, ada banyak hal lho yang bisa kamu lakuin di rumah biar kamu nggak ngerasa down, bosan, atau bahkan depresi.

Artikel ini juga bakal kasih kamu cara mengatasi depresi dan tips-tips yang dapat kamu coba untuk ngejaga mental kamu tetep positif meski harus di rumah aja.

Kenapa sih kita ngerasa depresi kalau di rumah terus selama pandemi?

Photo by Christian Erfurt on Unsplash

Selama pandemi ini, tanpa kita sadari, sebenernya banyak banget lho hal di sekeliling kita yang bisa ngebuat kita ngerasa tertekan. Siapa di antara kamu yang pernah ngerasain perasaan ini selama di rumah aja?

1. Depresi karena takut tertular

Ngeliat jumlah kasus COVID-19 yang masih meningkat, tentu aja kamu pernah ngerasa takut kalau ternyata kamu udah tertular atau bahkan menulari orang terdekat kamu.

Rasa takut ini bisa ngebuat kamu takut berlebihan, padahal kamu sebenernya nggak pernah keluar rumah dan udah nerapin protokol kesehatan.

2. Depresi karena ketidakpastian

Mungkin beberapa bulan lalu kamu udah ngebayangin atau bahkan ngerancanain liburan awal tahun bareng temen-temen.

Namun, rencanamu akhirnya nggak bisa terlaksana karena kondisi pandemi yang belum membaik. “Sampai kapan ya harus terus-terusan di rumah?”

Kondisi yang seakan-akan nggak menunjukkan titik terang sangat mungkin ngebuat kamu tertekan, bahkan ngebuatmu depresi. Apalagi, kalau kamu nggak tahu harus beradaptasi kaya gimana.

3. Depresi karena bosan dan frustrasi

Harus terus menerus di rumah, cuci tangan berulang-ulang, pakai masker, dan kebiasaan baru lainnya sangat mungkin ngebuat kamu ngerasa terkekang. Nggak hanya itu, kamu juga harus ngebatesin sosialisasi dengan orang-orang terdekat.

Padahal sosialisasi itu salah satu kebutuhan penting lho buat manusia. Alhasil, kamu jadi ngerasa bosen dan frustrasi.

Bahkan, kalo kamu udah ngerasa terbiasa sendiri, kamu sangat mungkin malah munculin perasaan negatif. Kamu jadi ngerasa nggak diinginkan, sehingga kamu nggak nyaman untuk reach out orang lain dan cerita soal perasaan kamu.

Kebayang kan kalo beban-beban yang kamu rasakan harus ditanggung sendiri? Tentu, rasanya makin berat ya 🙁

Kalo aku udah ngerasa depresi, gimana cara mengatasinya?

Kalau kamu udah mulai ngerasa depresi atau dipenuhi emosi negatif, ada beberapa cara yang dapat kamu terapin untuk ngebuatmu lebih bersemangat dan positif untuk ngejalanin rutinitasmu di rumah.

Baca juga: Gangguan Depresi Mayor dan Cara Menanganinya

Kamu bisa coba cara mengatasi depresi di bawah ini:

1. Cara mengatasi depresi dengan ngebuat rutinitas yang sehat

Seringkali, karena kamu selalu di rumah terus, kamu nggak lagi ngelakuin rutinitas-rutinitas positif yang dulu biasa kamu lakuin. Misalnya, kamu nggak lagi olahraga, tidur cukup, dan makan sehat.

Padahal, ngejaga rutinitasmu tetap sehat tuh penting banget lho untuk ngebuat badanmu dan hormon-hormon yang kamu miliki tetap ngejaga kamu untuk bisa berpikir positif.

Kebayang dong, kalo kamu lagi maag karena makan nggak teratur dan ditambah lagi kurang tidur, kamu tentu aja nggak mudah ngerasa senang dan segar.

Rutinitas yang sehat ini juga termasuk ngejadwalin waktu khusus untuk me time. Karena keseringan di rumah, kamu jadi susah untuk misahin waktu kerja dan waktu me time. Rasanya, karena kita ada di kamar terus, kita ngerasa kita punya waktu pribadi yang cukup.

Padahal, nggak selalu kaya gitu, lho. Mungkin aja kamu sebenernya ngerasa overwhelmed karena overwork. Jadi, pastiin selalu punya porsi waktu untuk dirimu sendiri ya.

cara mengatasi depresi

Kamu harus inget bahwa setiap hari itu adalah awal yang baru. Kamu bisa nentuin hal-hal yang mau kamu lakuin di hari itu yang ngebuat kamu nggak sabar untuk melewatinya. Kamu jadi tetep merasa setiap hari itu istimewa, meskipun harus di rumah aja.

2. Cara mengatasi depresi dengan ngelakuin hobi yang ngebuatmu senang

Kamu harus banget lho ngeluangin waktu untuk ngelakuin hobi kamu. Kamu bisa melukis, ngedekor kamar atau buku diary kamu, belajar masak dan baking, atau bahkan nanam pohon.

Selain bisa dilakuin di rumah, hal-hal ini ngebuat kamu ngerasa produktif, bersemangat, dan senang setiap harinya.

Penting juga buatmu untuk ngurangin waktu duduk dan ngabisin waktu lebih banyak untuk berdiri, berjalan, dan bergerak, terutama di kondisi outdoor.

Tubuh yang rutin bergerak itu nggak hanya mampu ningkatin kesehatan fisik, tapi juga mental lho. Jadi, jangan cuma rebahan aja selama di rumah.

Baca juga: Pentingnya Hobi Untuk Menggali Potensi Diri

3. Cara mengatasi depresi dengan menjaga komunikasi dengan orang terdekat

Di era serba canggih kaya sekarang, banyak banget lho platform yang bisa kamu manfaatkan untuk interaksi bareng teman, pasangan, dan orang terdekat.

Mau nonton bareng, main game online bareng, atau sekadar saling tatap muka lewat video call, semuanya nggak mustahil buat kamu lakuin.

Rasa frustrasi akibat kurang sosialisasi bisa kamu hindari dengan bikin jadwal yang teratur untuk kontak dengan teman atau pasangan. Jangan sampai, kamu ngerasa terbiasa sendiri dan berakhir menutup diri.

Inget, berbagi cerita, termasuk keluh kesah dan beban, penting banget untuk dilakuin untuk menjaga hubungan selama pandemi.

4. Cara mengatasi depresi dengan menghubungi ahli

Jika kau sudah ngelakuin tips-tips di atas dan nggak kunjung merasa membaik, kamu mungkin butuh sosok profesional untuk diajak berdiskusi dan bercerita soal kondisimu.

Jangan lupa, memberanikan diri untuk mencari dan menerima bantuan profesional adalah bentukmu mencintai diri sendiri. Jadi, pastiin kamu dapat terus ngejaga kesehatanmu, baik mental maupun fisik.

Tapi, kalau ternyata cara-cara di atas udah kamu lakuin dan belum ngefek apapun ke kamu, jangan khawatir! Kamu bisa coba untuk konsultasiin keadaan kamu, siapa tahu ternyata ada hal-hal yang terlewat.

Dengan konsultasi sama profesional, yaitu Psikolog, kamu akan diberi sudut pandang baru terkait keadaan kamu dan tentunya dapet bimbingan serta terapi sama orang yang emang kredibel dan berpengalaman. Jadi, sesi “curhat” kamu akan lebih terarah.

Nah, kalau kamu bingung mau cari tempat konsultasi di mana yang terpercaya dan yakin bisa ngebantu kamu, kamu bisa cek layanan konseling Satu Persen. Konseling di situ kamu bakalan dapet banyak banget benefitnya, terutama untuk ngebantu menyelesaikan problem kamu dan membimbing kamu jadi lebih baik.  

Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Aku jamin kamu pasti akan terbantu. Pokoknya, kalau kata aku mah, worth to try!

Kalo kamu masih bingung gimana sih cara ngukur kamu udah dalam tahap stress berat atau belum, aku nyaranin kamu nyobain Tes Tingkat Keparahan Stress online dari Satu Persen. Lewat ini, kamu bisa lebih aware dengan kondisi dirimu sendiri.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk ngebantumu jadi lebih baik, setidaknya Satu Persen setiap harinya, menuju #HidupSeutuhnya. See you!

CTA-Blog-Post-06

Referensi

Johnson, M. (2020, April 23). How to Prevent a Depression Spiral While Quarantined. Retrieved January 14, 2021, from https://www.healthline.com/health/depression/how-to-prevent-a-depression-spiral-while-quarantined#The-takeaway

Noonan, S. J., MD. (2020, June 02). Dealing With Depression During COVID-19. Retrieved January 14, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/view-the-mist/202006/dealing-depression-during-covid-191.

Read More
judi

Stres vs Depresi: Ini Perbedaannya Menurut Psikolog

Perbedaan stres dan depresi menurut psikolog
Satu Persen – Apa Sih Bedanya Stres dan Depresi?

Halo, Perseners! Gimana kabarnya?

Sebelum lo membaca artikel ini, gue mau ngasih trigger duluan kalau beberapa hal yang gue bawain di sini bakalan mengandung bahasan yang sensitif. Jadi, buat lo yang mudah ke-triggered mungkin bisa persiapkan diri lo lebih dulu atau bisa juga coba baca artikel-artikel yang lain aja, ya.

Setiap masalah di dalam kehidupan ini baik itu masalah kecil atau besar pasti bisa membuat orang yang mengalaminya merasa sedih, tertekan, dan berujung menjadi stres. Sebagai contoh, terjebak di jalanan yang sangat macet dan penuh dengan suara klakson dari berbagai kendaraan pun dapat memicu stres.

Meski demikian, bakalan lebih baik kalau kita gak boleh menyepelekan hal yang menurut berbagai orang itu sepele loh, Perseners. Karena perasaan tertekan karena stres berkepanjangan kalau gak segera ditangani oleh ahlinya bisa mengakibatkan masalah yang lebih serius lagi terkait dengan kesehatan mental, yaitu depresi.

Depresi ini sendiri bisa berakibat fatal banget bagi penderitanya, loh. Tanpa adanya awareness dan penanganan yang tepat, depresi bisa mengganggu jalannya kehidupan sehari-hari dari penderitanya. Gak cuma itu aja, hal yang paling ditakutkan adalah penderitanya bisa aja melakukan hal-hal diluar kendali seperti self-harm, emosi yang selalu membara, dan yang lebih parahnya adalah melakukan bunuh diri. Kalau begini, harus diperhatikan banget kan, Perseners?

Namun sayangnya nih, masih banyak orang awam di luaran sana yang menganggap depresi sebagai bentuk dari stres biasa sehingga hal ini jadi terlambat buat ditangani. Akibatnya, sewaktu ditangani ternyata tingkat depresinya udah ada di tahap yang sangat parah.

Lalu, apa sih bedanya stres dan depresi? Nah, di artikel kali ini gue akan membahas seputaran apa itu stres dan depresi menurut psikolog serta perbedaan dari keduanya.

Tapi sebelumnya, ada pepatah bilang, “Tak kenal maka tak sayang, semakin kenal tambah sayang.” Jadi, kenalin nama gue Dimsyog (acronym dari Dimas Yoga) dan di sini gue sebagai Part-time Blog Writer dari Satu Persen.

Oke deh, sekarang yuk langsung simak aja artikelnya sampai akhir dan jangan lupa buat share ke teman-teman maupun kerabat lo. Selamat membaca, Perseners!

Baca juga: Kenalan sama Gejala Gangguan Depresi

So, apa itu stres?

Di dalam dunia psikologi, ada banyak macam-macam istilah psikologis populer yang sering dikaitkan sebagai stres. Gambaran secara umumnya, kata “stres” mengacu pada suatu kondisi dimana seseorang mengalami tuntutan emosional yang berlebihan dan/atau periode yang membuat mereka sulit untuk berfungsi secara efektif di semua bidang kehidupan mereka.

Nah, kondisi ini bisa menyebabkan munculnya banyak gejala seperti depresi, kelelahan kronis, gampang marah, kecemasan, impotensi, dan kualitas kerja yang buruk (Richards, 2010). Dan karenanya, Ardani (2007) juga mendefinisikan stres sebagai gangguan fisik dan psikologis.

Sementara menurut Sarafino (1994), stres didefinisikan sebagai kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dan lingkungannya. Interaksi ini menyebabkan adanya persepsi kesenjangan antara kebutuhan yang muncul pada situasi yang berasal dari sistem biologis, kesejahteraan sosial dan psikologis seseorang.

Jadi nih, bisa dibilang stres adalah tekanan internal, eksternal dan kondisi menyusahkan lainnya dalam hidup.

So, definisi yang bisa gue simpulkan soal stres adalah suatu kondisi atau keadaan dimana lo merasa kalau tuntutan yang ada pada diri lo itu berlebihan sehingga membuat lo sulit berfungsi secara maksimal.

stres dan depresi
Sumber: memes.com

Sebaliknya, kalau depresi itu apa?

Dilansir Psychiatric Dictionary, ed.4 (Hinsie dan Campbel, 1970), mereka menjelaskan kalau di dalam dunia psikiatri konsep depresi diartikan sebagai sebuah sindrom klinik yang ditandai dengan menurunnya perasaan, kesukaran berfikir, dan kelambatan aktivitas psikomotor.

Depresi juga bisa berarti penurunan perasaan atau kesedihan, sehingga hanya merupakan gejala. Depresi juga bisa terjadi pada rata-rata orang sebagai respon emosional yang normal terhadap rasa kehilangan, gangguan dalam hubungan interpersonal yang dekat, posisi atau gengsi, keuangan, dan sebagainya.

Menurut Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth, depresi adalah masalah kesehatan mental serius yang bisa menyebabkan perasaan sedih selama berminggu-minggu atau bahkan bertahun-tahun. Depresi sering kali disebabkan oleh emosi yang udah lama terpendam dan akhirnya berkobar pada saat bersamaan.

Karenanya, para penderita depresi juga digambarkan sering kali merasa sedih dan kalah, mudah lelah, kehilangan semangat atau motivasi, atau bahkan memiliki keinginan untuk bunuh diri.

depresi
Sumber: listkota.com

Baca juga: Stres Berat: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lalu, apa perbedaan gejala stres dan depresi? Gimana cara menanganinya?

depresi dan stres
Sumber: me.me

Stres dan depresi tentunya memiliki gejala yang berbeda. Dan dengan melihat beberapa perbedaan gejala dari keduanya, gue harap Perseners bisa lebih aware dan memberikan pertolongan kepada orang-orang maupun keluarga terdekat yang menunjukkan gejala-gejala serupa.

Oke deh, kalau gitu ayo kita langsung ngebahas gejalanya lebih dulu. Di bawah ini, gue udah tulisin beberapa gejala yang dialami seseorang ketika sedang merasa stres:

  • Perasaan tidak terkendali dan kewalahan,
  • Menghindari orang lain, bahkan teman dekat dan keluarga,
  • Mudah gelisah, frustasi dan dalam suasana hati yang buruk,
  • Sulit untuk fokus,
  • Sakit kepala,
  • Gangguan pencernaan, termasuk mual, diare, atau sembelit,
  • Sulit tidur atau insomnia.

Selanjutnya, di bawah ini ada beberapa gejala yang dialami oleh seseorang ketika sedang merasa depresi:

  • Merasa tidak berdaya dan putus asa,
  • Hilangnya rasa percaya diri dan harga diri,
  • Selalu takut,
  • Sulit untuk fokus,
  • Menghindari orang lain, termasuk teman dekat,
  • Makan lebih sedikit atau lebih dari biasanya,
  • Sulit tidur, misalnya tidak bisa tidur atau bahkan tidur lebih lama dari biasanya,
  • Menyakiti diri sendiri,
  • Tidak ada lagi menikmati hal-hal yang biasanya menarik dan menyenangkan, seperti keengganan untuk menekuni hobi,
  • Sering-seringlah berpikir tentang kematian,
  • Memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Kalau udah tau gejala-gejalanya, sekarang kita bakal ngebahas tentang cara mengatasinya. Mengatasi stres sebenarnya melibatkan perubahan gaya hidup, jadi berikut adalah hal-hal yang bisa lo lakukan:

  • Berolahraga secara teratur,
  • Pelaksanaan diet seimbang,
  • Membatasi konsumsi kafein dan alkohol,
  • Berlatih teknik relaksasi seperti yoga dan meditasi,
  • Lakukan hal-hal dan aktivitas yang menyenangkan,
  • Melakukan hal-hal positif seperti berkumpul dengan teman, bermain game, menonton film, bermain musik, berkebun, dan sebagainya,
  • Gunakan jurnal atau blog sebagai sarana untuk mengekspresikan kesedihan dan emosi lo,
  • Melakukan konsultasi dan pemeriksaan tambahan dengan psikiater untuk memungkinkan perawatan yang memadai.

Stres umumnya tidak memerlukan bantuan psikiater dan bisa dikelola melalui aktivitas santai seperti liburan, meditasi, atau yoga. Sementara itu, depresi harus ditangani oleh psikiater karena diperlukan obat-obatan tertentu untuk mengobatinya. Umumnya, dokter akan meresepkan obat-obatan seperti antidepresan.

Karena jenis-jenis antidepresan ada banyak banget, sebaiknya lo konsultasikan ke psikiater buat menemukan jenis antidepresan yang tepat sesuai kondisi lo. Penting buat diketahui kalau obat untuk depresi harus diminum sesuai dengan dosis dan durasi yang direkomendasikan oleh psikiater lo. Selain minum obat, penderita depresi juga harus menjalani psikoterapi atau terapi perilaku kognitif dari psikolog atau psikiater.

Perlu diingat ya guys, dari beberapa hal diatas dapat disimpulkan kalau stres dan depresi bukanlah gangguan mental yang bisa hilang begitu saja. Jadi, jangan remehkan kondisi ini, ya.

Segera temui dokter atau ahli kesehatan mental lainnya kalau lo atau orang yang lo cintai mengalami stres dan depresi yang terus-menerus, apalagi jika disertai pikiran untuk bunuh diri. Dengan cara ini, lo bisa mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat berdasarkan stres dan depresi lo. Jangan biarkan stres dan depresi mempengaruhi hidup lo selamanya, ya!

Oh iya, lo juga bisa berkonsultasi dengan psikolog loh, salah satunya dengan Psikolog Satu Persen. Di Satu Persen, lo akan mendapatkan 1 jam konseling dengan psikolog, tes psikotes, asesmen pra-konseling, lembar kerja, dan tentu saja terapi.

Psikolog Satu Persen juga memiliki lisensi resmi, jadi lo gak perlu khawatir lagi buat mencoba layanannya. Selain itu, Satu Persen juga punya banyak testimoni yang bisa lo baca di website-nya. Kalau lo mau kepoin lebih lanjut tentang layanan konseling Satu Persen, lo bisa klik di sini, ya!

Jika lo masih ragu untuk mengikuti layanan konseling, lo juga bisa mencoba tes gratis dari kita lebih dulu. Dengan tes ini, lo bakal tau layanan konsultasi mana yang terbaik untuk masalah lo. Caranya gampang banget, lo cukup klik aja di sini.

Akhir kata, sekian dulu tulisan dari gue dan semoga informasinya bermanfaat, ya! Buat lo yang lagi mengalami atau sedang berada di fase stres atau depresi, semoga lo bisa berhenti ngerasain hal-hal kayak gini lagi. Gue tau ini pasti berat banget buat lo, tapi semoga aja lo bisa cepat pulih, ya 🙂

Jangan lupa juga buat follow Instagram @satupersenofficial dan Channel Youtube Satu Persen buat dapat informasi menarik tentang kesehatan mental dan pengembangan diri. Buat contohnya, lo bisa simak video tentang stres berat di bawah ini buat dapetin penjelasan lebih mendalamnya.

Referensi

Perbedaan Stres dan Depresi, Bagaimana Cara Menganginya? (n.d.). Retrieved October 2, 2021, from https://www.sehatq.com/artikel/sering-dianggap-sama-ini-perbedaan-stres-dan-depresi

Hadinoto, S. (1976). PSIKOSA DEPRESI REAKTIF(Psychotic Depressive Reaction). Berkala Ilmu Kedokteran, 8(1976).

Kenali Perbedaan Stres dan Depresi yang Kerap Dianggap Sama Halaman all – Kompas.com. (n.d.). Retrieved October 2, 2021, from https://health.kompas.com/read/2020/02/08/090000568/kenali-perbedaan-stres-dan-depresi-yang-kerap-dianggap-sama?page=all

Read More
judi

Kenali 7 Macam Gangguan Depresi (Gejala, dan Cara Mengatasinya)

Macam-macam Depresi
Satu Persen – Macam-macam Depresi

Halo semua, balik lagi sama aku Senja!

Pasti kalian udah gak asing dengan istilah gangguan depresi. Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan kesedihan yang terjadi secara terus-menerus. Penderita depresi juga akan kekurangan minat atau kesenangan dalam kegiatan yang sebelumnya bermanfaat atau menyenangkan bagi mereka.

Tahu gak Perseners, ternyata sebanyak 264 juta orang di seluruh dunia telah menderita gangguan depresi. Tak hanya itu, menurut World Health Organization (WHO) depresi menjadi penyebab utama kecacatan di seluruh dunia.

Depresi juga berkontribusi besar terhadap beban penyakit global. Efek depresi dapat bertahan lama, kompleksnya dapat mengganggu seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gangguan depresi itu juga banyak banget macamnya. Jadi, di sini aku bakal menjelaskan macam-macam gangguan depresi beserta penjelasannya ya, Perseners! Simak penjelasan aku di bawah ini!

Gangguan Depresi Mayor (MDD)

Depression meme - Major Depressive Disorder
Cr. imgflip.com

Salah satu jenis gangguan mental yang paling dikenal adalah gangguan depresi mayor (MDD). Depresi mayor merupakan jenis gangguan mental yang ditandai dengan perubahan mood yang terus menerus menekan diri sendiri.

Depresi mayor menyebabkan penurunan kualitas hidup dan kurangnya minat dalam kehidupan sehari-hari. Gejala depresi mayor biasanya berlangsung berminggu-minggu sampai hitungan bulan. Beberapa gejala yang dialami penderita depresi mayor adalah:

1. Perubahan berat badan

2. Perubahan waktu tidur

3. Kelelahan

4. Merasa tidak berharga

5. Sulit berkonsentrasi

6. Memiliki pikiran untuk bunuh diri

Gangguan Depresi Persisten (PDD)

smile meme
Cr. good.is

Gangguan Depresi Persisten atau yang dikenal dengan sebutan distimia merupakan gangguan depresi kronis yang berlangsung lama. Biasanya terjadi selama bertahun-tahun. Meskipun gejalanya tidak separah gangguan depresi mayor, gejalanya menetap dan bertahan lama.

Selain itu, penderita depresi persisten juga seringkali memiliki kesulitan dalam bersosialisasi dan menjalani aktivitas sehari-hari. Gejala PDD meliputi:

1. Merasa bersalah

2. Mudah marah

3. Tidak percaya diri

4. Sulit tidur

5. Perubahan nafsu makan

6. Sulit berkonsentrasi

7. Hilang minat

Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar sering disebut sebagai penyakit manik depresi. Gangguan bipolar merupakan gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang meningkat secara tidak normal atau dikenal sebagai periode manik. Bentuk manik yang tidak terlalu ekstrim disebut hipomanik.

Namun, pada satu waktu orang juga dapat mengalami penurunan suasana hati atau biasa disebut periode depresi. Contoh periode manik seperti mudah gembira dan bersemangat. Sedangkan pada periode depresi seseorang akan merasa putus asa dan mudah tersinggung.

Selain perubahan suasana hati, orang yang mengalami bipolar akan mengalami perubahan energi dan tingkat aktivitas untuk melakukan tugas sehari-hari. Terdapat beberapa gejala fisik dan emosional yang ditunjukkan oleh orang yang terkena bipolar, yaitu:

1. Mudah lelah dan lesu

2. Insomnia

3. Merasa putus asa dan hilanh harga diri

4. Cemas

5. Ragu-ragu

6. Agresif

Baca juga: Stres vs Depresi: Ini Perbedaannya Menurut Psikolog

Depresi Postpartum (PPD)

Depresi yang terjadi pada saat masa kehamilan atau kelahiran anak. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormonal dalam tubuh yang seringkali dapat mempengaruhi suasana hati seorang wanita.

Depresi postpartum berbeda dengan baby blues. Baby blues merupakan perubahan emosi yang hanya berlangsung beberapa minggu dan seiring waktu akan menghilang. Sedangkan gejala penderita depresi postpartum lebih berat dan lebih lama dari baby blues.

Gejala yang sering dialami penderita depresi postpartum adalah:

1. Merasa tidak berdaya dan putus asa

2. Menarik diri dari lingkungan sosial

3. Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai

4. Merasa tidak berharga

5. Mengalami kecemasan

6. Memiliki pikiran ingin menyakiti diri sendiri atau bayinya

7. Memiliki pikiran untuk bunuh diri

Gangguan Disforik Pramenstruasi (PMDD)

Gangguan Disrofil Pramenstruasi atau PMDD adalah gangguan depresi yang terjadi pada saat menjelang menstruasi. PMDD hampir sama dengan sindrom pramenstruasi. Namun, gejala yang ditunjukkan PMDD ini lebih berat. Gejala yang paling umum terjadi adalah:

1. Kecenderungan ingin makan sesuatu

2. Kelelahan ekstrim

3. Sering mengkritik diri sendiri

4. Sulit berkonsentrasi

5. Kecemasan berlebihan

6. Perubahan emosi

Gangguan Afektif Musiman (SAD)

Gangguan Afektif Musiman atau SAD biasa terjadi di negara bagian utara atau selatan yang letaknya jauh dari garis ekuator, Perseners! SAD merupakan gangguan depresi yang terjadi dengan pola musiman.

SAD dipicu oleh irama sirkadian dalam tubuh. Irama sirkadian adalah istilah yang digunakan buat mengatur kebiasaan fisiologis atau kegiatan yang dilakukan sehari-hari.

Gejala yang dialami penderita SAD adalah sering depresi, mengantuk, dan meningkatnya berat badan selama musim dingin padahal saat musim semi baik-baik saja.

Depresi Atipikal

Depresi Atipikal sebetulnya hampir sama seperti MDD. Namun terdapat perbedaan mencolok yang ditunjukkan penderita depresi atipikal, yaitu mengalami peningkatan suasana hati saat mengalami peristiwa positif.

Penyebab depresi atipikal masih belum diketahui secara pasti. Selain mengalami gejala depresi pada umumnya, terdapat gejala khusus yang dirasakan penderita depresi atipikal, yaitu:

1. Nafsu makan meningkat

2. Berat badan naik

3. Terlalu banyak tidur, entah pada siang atau malam hari

4. Peningkatan suasana hati saat berada dalam peristiwa positif

5. Sensitif dengan kritikan atau penolakan dari orang lain

Baca juga: Cara Mengatasi Depresi secara Mandiri

Depression meme
Cr. good.is

Cara Mengatasi Gangguan Depresi

Gejala depresi dapat diminimalisir dengan rajin olahraga, tidur cukup, serta  makan dengan mengatur pola makan yang sehat. Namun, secara umum cara mengatasi semua jenis gangguan depresi adalah dengan mengkonsultasikan langsung kepada ahlinya melalui layanan konseling dengan psikolog.

psycholog meme - counseling meme
Cr. mentallyagile.com

Nah, kalian bisa kok berkonsultasi melalui konseling yang sudah disediakan Satu Persen dengan klik banner di bawah ini ya!

CTA-Blog-Post-06-1-22

Satu Persen secara profesional akan membantu kalian untuk mengatasi masalah ini. Konseling Satu Persen akan dilakukan secara one-on-one. Jadi kalian akan diberikan asesmen mendalam dan terapi khusus untuk mengatasi masalah sesuai dengan jenis gangguan depresi kalian.

Oh iya, konseling Satu Persen ditangani oleh psikolog lulusan S2 profesi klinis dewasa, ya! Jadi psikolog Satu Persen dapat memberikan diagnosis tepat yang sesuai sama gejala kalian.

So, sekian dulu ya dari aku, semoga artikel ini membantu kalian buat menjalani hari lebih bermanfaat. Sampai jumpa lagi!

Editor’s Note: Buat Perseners yang merasakan gejala dari salah satu jenis depresi yang ada di artikel ini, dimohon buat gak langsung melakukan self-diagnose, ya! Kalau memang mengganggu kehidupan sehari-hari, Perseners bisa langsung cobain aja layanan konseling dari Satu Persen dan berkonsultasi langsung dengan psikolog yang ahli di bidangnya. Kalau masih ragy, bisa mencoba ikut tes konsultasi dulu ya! Stay safe!

Referensi:

https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder

https://www.verywellmind.com/common-types-of-depression-1067313

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atypical-depression/symptoms-causes/syc-20369747

https://www.who.int/health-topics/depression#tab=tab_1

Read More
judi

Memahami Depresi Masa Liburan dan Cara Menghadapinya

fenomena holiday blues
Satu Persen – Holiday Blues

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata “liburan”?

Mungkin kamu akan langsung membayangkan hari-hari di mana kamu bisa bebas melakukan apapun yang kamu mau. Mulai dari berkumpul bersama keluarga, me-time di cafe, hingga hangout dengan teman. Namun, tahukah kamu bahwa bagi sebagian orang, momen liburan bisa menjadi momok yang menakutkan?

Serius deh, ada sebuah fenomena di mana waktu liburan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan dan keceriaan, justru menjadi alasan di balik timbulnya perasaan stres, cemas, sedih, serta depresi. Nah, fenomena ini biasa disebut sebagai holiday blues atau depresi masa liburan.

holiday blues
Source: Know Your Meme

Kali ini, aku Anggi Part-time Blog Writer di Satu Persen akan menemani kamu untuk mempelajari lebih lanjut tentang perasaan depresi yang berhubungan dengan musim liburan ini. Nantinya, aku juga akan membahas beberapa cara menghadapi holiday blues. So, tunggu apa lagi? Mari kita simak ulasannya!

Apa itu Holiday Blues?

apa itu holiday blues
Source: Pinterest

Holiday blues adalah perasaan sedih yang berlangsung sepanjang musim liburan. Liburan yang biasanya dipandang sebagai waktu yang penuh kegembiraan, bisa menjadi masa yang sulit bagi sebagian orang karena munculnya perasaan cemas, kesepian, hingga depresi yang menyakitkan.

Perasaan ini terutama muncul di masa-masa pergantian seperti Natal, Lebaran, atau Tahun Baru yang justru membuat kita merasa punya beban. Kamu mungkin merasa kesepian saat berada jauh dari orang tersayang, merasa terbebani dengan berbagai ajakan jalan dari teman, atau merasa cemas karena memikirkan masa depan. Hal-hal ini sering kali menjadi momen yang menguras emosi dan penuh akan tuntutan sehingga dapat membuat kamu stres dan kelelahan.

Nyatanya, holiday blues bisa dialami oleh siapa saja, bahkan orang-orang yang menyukai liburan. Walau demikian, berdasarkan survei yang dilakukan oleh National Alliance on Mental Illness (NAMI), setidaknya 64% orang dengan gangguan mental melaporkan bahwa liburan memperburuk kondisi mereka. Ini menunjukkan bahwa meski dapat dialami oleh siapa saja, holiday blues lebih rentan dialami oleh orang yang mengidap kondisi mental tertentu.

Gejala Holiday Blues

Gejala holiday blues yang paling umum adalah munculnya perasaan sedih yang terus-menerus dirasakan sepanjang musim liburan. Namun, intensitas dan durasi perasaan sedih saat mengalami holiday blues berbeda-beda pada tiap pengidap. Beberapa orang mungkin merasa sedih secara terus-menerus, tapi ada pula yang dapat mengalami perasaan optimis meski dalam jangka waktu singkat.

Nah, berikut ini beberapa gejala holiday blues:

  • Perubahan nafsu makan atau berat badan
  • Perubahan pola tidur
  • Mudah tersinggung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Merasa cemas atau khawatir
  • Merasa lebih lelah dari biasanya
  • Kehilangan minat dalam melakukan hal-hal yang dulunya disukai
  • Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas normal

Cara Menghadapi Holiday Blues

Apabila kamu merasakan gejala-gejala holiday blues di atas, ada beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk menghadapinya:

cara menghadapi holiday blues
Source: The Guardian

1.Luangkan waktu khusus untuk diri sendiri,…

Salah satu cara menghadapi holiday blues adalah dengan meluangkan waktu khusus untuk dirimu sendiri. Kamu bisa bersantai setidaknya 15 sampai 20 menit sehari untuk membaca buku, mendengarkan musik, berendam, yoga, atau aktivitas lainnya yang dapat menurunkan tingkat stres kamu.

2. …Tetapi jangan mengisolasi diri

Perasaan sedih sering kali membuat kamu ingin bersembunyi di rumah. Namun, terus-menerus mengisolasi diri tentu bukan solusi yang tepat untuk menghadapi holiday blues. Dibanding melewatkan liburan kamu seorang diri, akan lebih baik jika sesekali kamu berkumpul dengan teman, keluarga, atau mungkin kekasih. Intinya, kamu juga perlu menghabiskan waktu dengan orang yang membuat kamu nyaman.

Baca Juga: Perbedaan Kesepian dan Kesendirian: Mana yang Bahaya untuk Kesehatan?

3. Belajar untuk mengatakan “Tidak”

Yup, belajar untuk mengatakan “tidak” adalah salah satu tips menghadapi holiday blues yang bisa kamu lakukan. Kamu mungkin merasa nggak enak apabila menolak undangan pesta atau berkumpul dari orang-orang terdekatmu.

Namun sebenarnya kamu nggak harus memenuhi jadwal liburanmu dengan berbagai janji temu yang bahkan nggak kamu inginkan. Sebab, komitmen yang berlebihan bisa membuat kamu capek dan stres. Maka dari itu, kamu harus belajar untuk teguh pada pendirian dan berani untuk memprioritaskan dirimu sendiri sebelum orang lain.

4. Tidur dengan waktu yang cukup dan teratur

Source: Healthline

Jadwal liburan yang padat dapat menyebabkan kurang tidur. Demikian, kurangnya waktu tidur dapat meningkatkan stres. Maka dari itu, tidur dengan waktu yang cukup dan pola yang teratur dapat menjadi cara menghadapi holiday blues. Coba untuk pergi tidur pada waktu tertentu setiap malam. Tidur yang berkualitas dapat meningkatkan suasana hati dan juga membuat kamu jadi lebih semangat dan siap untuk menjalani hari.

5. Berolahraga dengan rutin

Saat holiday blues menyerang, rasanya pasti malas hanya untuk sekedar bangun dari tempat tidur dan melakukan aktivitas. Tapi, sebuah penelitian menemukan bahwa aktivitas fisik nyatanya memainkan peran penting dalam mengurangi gejala-gejala depresi.

Jadi, jangan biarkan dirimu terjebak dalam kemalasan yang justru membuat suasana hatimu kian kelabu. Dengan aktivitas santai seperti jalan kaki selama 10 menit sambil mendengarkan musik favoritmu lewat earphone, ini cukup untuk meningkatkan detak jantung dan memproduksi endorfin yang dapat memperbaiki mood.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Bad Mood Agar Suasana Hati Tetap Baik

6. Hindari makan terlalu banyak

Apalah arti berkumpul tanpa menyantap makanan-makanan enak? Di saat berkumpul dengan orang-orang terdekat, kamu pasti nggak bisa menahan keinginan kamu untuk ngemil padahal perut kamu nggak merasa lapar. Namun, makan berlebihan bukan kebiasaan yang baik, lho.

hindari makan banyak
Source: Factory Memes

Sebuah studi menemukan bahwa stres dan pola makan yang buruk dapat meningkatkan risiko anxiety dan depresi. Jadi, mengkonsumsi makanan secukupnya dengan menu seimbang bisa diterapkan untuk menghadapi holiday blues.

7. Tetapkan harapan yang realistis

Liburan kerap menjadi momen langka yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang sehingga nggak sekali dua kali kita membayangkan apa yang bisa kita lakukan saat waktunya tiba. Saking semangatnya, kamu mungkin sudah membuat list aktivitas apa saja yang akan kamu lakukan selama liburan seperti pergi ke luar kota atau bertemu teman lama.

Namun, seperti kata pepatah: “Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan”. Bisa aja rencana kamu gagal atau nggak memenuhi ekspektasi. Maka dari itu, penting untuk menetapkan harapan yang realistis dan dapat diraih supaya kamu nggak kecewa serta merasa depresi saat rencanamu gagal di masa liburan.

8. Berbicara dengan tenaga ahli

berbicara dengan tenaga ahli
Source: The Healthy Answer Help

Meskipun holiday blues biasanya bersifat jangka pendek, berbicara dengan tenaga profesional dapat membantu. Psikolog dapat membantu kamu mengidentifikasi pola pikiran negatif yang berkontribusi pada perasaan sedih yang kamu rasakan saat liburan dan mengubahnya menjadi pola pikir yang lebih positif dan bermanfaat.

Holiday Blues Vs. Seasonal Affective Disorder (SAD)

holiday blues vs seasonal affective disorder
Source: meme arsenal

Selain holiday blues, merasa sedih selama musim liburan bisa juga menjadi tanda dari seasonal affective disorder atau SAD. SAD adalah gangguan depresi mayor yang terjadi dalam pola musiman di bulan-bulan tertentu dalam setahun.

Memang terlihat serupa, tapi holiday blues dan SAD berbeda dalam hal durasi munculnya perasaan depresi dan tingkat keparahan gejalanya.

Dilansir Verywell Mind, holiday blues biasanya mulai sekitar bulan November atau Desember dan meningkat segera setelah tahun baru berakhir. Namun, SAD biasanya berlangsung lebih lama, yakni setidaknya 40% sepanjang tahun. Sementara itu, tingkat keparahan gejala holiday blues juga cukup ringan. Di sisi lain, SAD seringkali lebih parah dan dapat sangat melemahkan.

Apabila musim liburan telah berlalu tapi kamu tetap merasa sedih atau cemas, mungkin kamu  bukan sekedar mengalami holiday blues. Tetapi, bisa aja ini menjadi tanda akan kondisi yang lebih serius seperti gangguan mood atau depresi mayor. Buat tahu kesehatan mental kamu lebih lanjut, boleh banget ikut Tes Sehat Mental ini, ya.

Maka dari itu, menemui tenaga profesional adalah hal yang mungkin perlu segera kamu lakukan. Dengan mencari bantuan dari profesional kamu juga bisa menghindari self-diagnosis dan risiko salah diagnosis yang bisa membahayakan diri kamu.

Nah, salah satu caranya adalah dengan berkonsultasi dengan psikolog Satu Persen. Dengan psikolog-psikolog profesional di Satu Persen, kamu bisa bicara mengenai kondisimu dan apapun yang kamu rasakan. Mereka juga akan membantu kamu untuk menjawab semua kebingunganmu.

Untuk informasi lengkapnya kamu bisa klik gambar di bawah ini:

CTA-Blog-Post-06-1-16

Selain itu, kamu juga bisa coba tonton video YouTube Satu Persen di bawah ini supaya semakin paham tentang gangguan depresi, mulai dari penyebab hingga cara mengatasinya.

Sekian dari aku Anggi, Part-time Blog Writer di Satu Persen. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

Source:

Read More
judi

Cara Menghadapi Teman yang Depresi Agar Merasa Lebih Tenang

cara menghadapi teman yang depresi
Satu Persen – Menghadapi Teman Depresi

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum di dunia. Begitu pula di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, lebih dari 19 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk mengalami depresi. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang terdekat kita pun bisa mengalaminya.

Saat mengetahui teman atau orang terdekat mengalami depresi, kita bisa memberikan dukungan sosial untuk membantu mereka melewati masa-masa sulit. Namun, kita cenderung kebingungan bagaimana cara merespon dengan tepat.

Apa yang harus dilakukan ketika menghadapi teman yang depresi? Kali ini, aku, Sista, Blog Writer Satu Persen, akan memberikan tipsnya. Yuk, simak sampai akhir~

5 Hal yang Tak Boleh Diucapkan Kepada Teman yang Depresi

hal yang tak boleh diucapkan pada teman yang depresi
Cr: 9gag

Buat kamu yang belum pernah mengalami depresi sebelumnya, mungkin akan terasa sulit untuk memahami apa yang dirasakan oleh penderita. Berikut adalah beberapa frasa atau kalimat yang sebaiknya dihindari:

1. “Berbahagialah!”

Mengalami depresi itu berbeda dengan mengalami hari yang buruk. Kita mungkin bisa bangkit dari hari yang buruk dengan mudah. Sebaliknya, seseorang yang mengalami depresi memerlukan perawatan dalam jangka waktu yang cukup lama. Bahkan, hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk benar-benar pulih.

Jika kamu meminta teman yang depresi untuk berbahagia, hal ini mungkin akan membuatnya semakin menderita. Sebaiknya berikan validasi atas perasaan mereka dengan kata-kata seperti, “Aku tahu mungkin perlu waktu untuk merasa lebih baik, masih ada harapan”.

2. “Kok bisa depresi?”

Temanmu mungkin terlihat baik-baik saja dalam hidupnya seperti memiliki pekerjaan yang hebat, rumah yang bagus, atau keluarga yang hangat. Namun, ketahuilah bahwa depresi tidak membeda-bedakan orang, tetapi semua bisa rentan terhadap depresi klinis. Orang yang terlihat hebat di permukaan kehidupan bukan berarti tidak terluka.

3. “Kamu tidak terlihat tertekan.”

tidak terlihat tertekan
Cr: knowyourmeme.com

Depresi dapat memengaruhi orang secara berbeda-beda. Sebagian besar mungkin akan merasakan perubahan pada kondisi kesehatan fisik akibat mereka terlalu lelah. Sebagian juga ada yang mungkin tampak benar-benar sehat seperti biasanya.

Mereka mungkin masih bisa pergi bekerja, bahkan tersenyum dan tertawa. Tidak ada yang tahu apa yang mereka rasakan di dalam pikirannya. Di sisi lain, mereka mungkin mengalami penderitaan internal namun tidak sanggup untuk menunjukkannya di depan umum.

Baca juga: Kenali 7 Macam Gangguan Depresi (Gejala, dan Cara Mengatasinya)

4. “Nanti ini juga akan berlalu.”

Benar jika hal ini akan berlalu, namun orang yang mengalami depresi merasa sulit untuk menerima kalimat tersebut. Ketika seseorang berada dalam kondisi depresi, ibaratnya mereka tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan. Depresi terasa tanpa henti dan rasanya tidak pernah berakhir. Daripada mengatakan kalimat tersebut, mungkin kamu bisa mengatakan, “Saat ini mungkin hari-harimu terasa sulit, yang pasti aku akan ada di sisimu untuk membantu”.

5. “Berhentilah merasa depresi.”

Kalimat ini dapat menyakiti hati seseorang yang sedang mengalami depresi. Jika bisa segera keluar dari fase ini, tentu mereka akan melakukannya. Namun, penyembuhan depresi memerlukan konseling, pengobatan, dan terapi yang tepat agar merasa lebih lega.

Itulah beberapa frasa atau kalimat yang sebaiknya dihindari untuk merespon temanmu yang mengalami depresi. Terkadang tanpa kita sadari kata-kata yang kita ucapkan akan berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang. Maka dari itu, penting untuk kita pelajari bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Kamu bisa tonton satu video berikut ini untuk mendapatkan tipsnya:

Cara Membantu Teman yang Depresi

Lakukan hal-hal berikut jika temanmu mengalami depresi:

1. Tunjukkan kepedulian

tunjukkan kepedulian
Cr: memegenerator

Di tengah masa-masa sulit seperti ini, temanmu membutuhkan seseorang yang bakal peduli terhadap kondisinya. Misalnya, kamu bisa memberikan pelukan atau sentuhan tangan lembut untuk menunjukan bahwa kamu benar-benar peduli. Kalau merasa canggung dengan situasi ini, kamu juga bisa cukup mengatakan “Aku peduli sama kamu” atau kalimat lain sejenisnya.

Kata-kata puitis mungkin tidak begitu dibutuhkan dalam kondisi seperti ini. Pada intinya,  kamu perlu menunjukkan sikap kepedulian. Ini juga sekaligus memberi tahu orang tersebut bahwa ia penting bagimu.

2. Ingatkan bahwa kamu selalu ada untuknya

ingatkan kamu selalu ada untuknya
Cr: quickmeme.com

Menurut penelitian, orang yang mengalami depresi akan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar. Ini terjadi karena orang tersebut merasa tidak ada yang mengerti apa yang ia rasakan. Langkah penting yang bisa kamu lakukan adalah meluangkan waktu untuk mereka. Kamu bisa menghabiskan waktu bersama dan jangan lupa untuk menawarkan bantuan.

Jika ia belum siap untuk bercerita, tidak apa-apa. Cobalah untuk sering berinteraksi seperti menanyakan kabar, bagaimana kondisinya, dan hal lainnya tanpa terlalu memaksanya untuk bercerita. Kamu bisa temui secara langsung atau melalui telepon.  

Coba tes online berikut: Tes Sehat Mental

3. Tanyakan apa yang bisa dibantu

Depresi akan memberikan beban yang cukup berat bagi orang yang mengalaminya. Selain berpengaruh terhadap mental, depresi juga memengaruhi kondisi fisik seseorang. Jadi, mungkin ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuknya.

Ketika menawarkan bantuan, temanmu mungkin awalnya akan menolak tawaran tersebut karena takut membebani. Jelaskan padanya bahwa kamu tidak keberatan dan ingin membantu meringankan pekerjaannya.

Misalnya, daripada menanyakan “Apa yang bisa aku lakukan untukmu?”, lebih baik menawarkan bantuan secara spesifik seperti, “Boleh nggak aku datang ke rumahmu hari ini untuk bantu menyiapkan makan malam nanti?”.

4. Menjadi pendengar yang baik

menjadi pendengar yang baik
Cr: viralviralvideos.com

Saat temanmu sudah siap untuk bercerita, coba dengarkan dengan simpatik. Pastikan bahwa kamu mendengarkan tanpa memotong pembicaraan. Dengan memberikan keleluasaan untuk mengungkapkan permasalahan yang dihadapi, kamu dapat membantunya untuk mengurangi perasaan tertekan.

Baca juga: Cara Menjadi Pendengar yang Baik (Kemampuan Mendengarkan Aktif)

5. Yakinkan bahwa ia bukan orang yang lemah

Orang yang mengalami depresi cenderung merasa lemah karena seolah ada  suatu hal yang salah dengan dirinya. Faktanya, depresi merupakan penyakit yang berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak. Hal ini bukan berarti mereka lemah, justru mereka membutuhkan banyak kekuatan tenaga untuk melawan.

Jadi, sebenarnya mungkin mereka jauh lebih kuat daripada yang dikira selama ini. Yakinkan bahwa ia kuat, tangguh, dan mampu melewati masa-masa ini.

6. Tekankan bahwa masih ada harapan

tekankan masih ada harapan
Cr: me.me

Seperti penyakit medis lainnya, depresi masih dapat diobati hingga pulih. Yakinkan temanmu bahwa masih ada harapan untuk bangkit dengan melakukan perawatan serta penanganan yang tepat.

Mungkin kamu bisa ajak temanmu untuk mulai mengikuti konseling dengan tenaga profesional di bidangnya. Misalnya, mengikuti program konseling dari Satu Persen. Selain diberikan asesmen mendalam dan terapi (jika diperlukan), sesi konseling ini juga dilakukan one-on-one dengan psikolog lulusan S2 profesi psikolog klinis dewasa. Klik banner berikut untuk informasi selengkapnya.

CTA-Blog-Post-06-1-16

Itulah beberapa hal yang perlu dihindari dan apa yang bisa dilakukan ketika temanmu mengalami depresi. Pastikan bahwa kamu membantunya sebisa mungkin hingga ia benar-benar pulih dari kondisi saat ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat, Perseners. Sampai jumpa!

Referensi:
Intrepid Mental Wellness. 10 Things You Should Never Say to a Depressed Person. Retrieved on February 23, 2022 from 10 Things You Should Never Say to a Depressed Person: Intrepid Mental Wellness, PLLC: Psychiatric Nurse Practitioners (intrepidmentalhealth.com)

Jamie Elmer (2019). 7 Tips to Help You Know What to Say to Someone with Depression. Retrieved on February 23, 2022 from 7 Tips to Help You Know What to Say to Someone with Depression (healthline.com)

Nancy Schimelpfening (2021). What to Say to Someone Who Is Depressed. Retrieved on February 23, 2022 from What to Say to Someone Who Is Depressed (verywellmind.com)

Rokom (2021). Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. Retrieved on February 28, 2022 from Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia – Sehat Negeriku (kemkes.go.id)

Read More