putinvzrivaetdoma.org

media online informasi mengenai game online tergacor di tahun 2023

Buruk

judi

Niat Berbuat Baik, Malah Bikin Buruk

toxic positivity
Satu Persen – Kenali Toxic Positivity

Respon apa sih yang kamu kasih ke lawan bicaramu ketika mereka sedang memiliki masalah kemudian bercerita denganmu?

Mungkin jawaban yang sering kali kamu berikan adalah “semangat lah jangan gampang nyerah”, “yaelah bersyukur masih banyak diluar sana yang punya masalah lebih berat”, “uda pikir positif aja kamu pasti bisa”, dan jawaban positif lainnya.

Apa kamu seperti itu?

Apakah jawaban tersebut menurutmu bagus untuk kamu sampaikan saat lawan bicaramu sedang ada masalah atau malah justru kebalikannya?

Bagi kamu yang mempunyai masalah, apakah jawaban tersebut malah justru membuatmu kecewa dan merasa beban yang dihadapi semakin berat?

Ya bener banget, memberi jawaban positif gak selalu membuat situasi menjadi positif juga. Tanpa kamu sadari bisa jadi efeknya malah negatif untuk lawan bicaramu. “Bukannya memberi semangat atau sekedar saran positif ketika lawan bicara memiliki masalah malah justru baik ya?”

Well, tidak sepenuhnya salah, tetapi yang perlu kamu perhatikan sebelum memberikan saran tersebut adalah apakah kamu sudah mengetahui permasalahannya secara detail dengan membiarkannya bercerita padamu tanpa kamu potong dengan memberi saran atau nasehat positifmu?

Kebanyakan dari kita memberikan saran-saran yang positif tanpa mengetahui akar permasalahannya atau selalu memberikan saran positif yang terkadang baik untuk kita pribadi tapi belum tentu baik untuk lawan bicaramu tanpa kamu sadari, coba pikirkan apakah dirimu seperti itu?

Jika kamu orang seperti itu maka kamu masuk dalam kategori “Toxic Positivity” dan selamat karena kamu berada pada artikel yang tepat dimana artikel ini akan membahas tentang mengenal “Toxic Positvity” dalam kehidupan.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic Positivity sederhananya adalah kebiasaan yang membuat kamu selalu melihat suatu kondisi dari sisi positif apapun keadaannya, dimana pikiran negatif dalam dirimu berusaha untuk dihilangkan atau dimatikan dengan saran yang membangun seperti di atas. Padahal, tak jarang kamu malah akan semakin kesal dan muak ketika mendengarkan saran tersebut.

Saran-saran postif yang diterima oleh otakmu akan memaksa kamu untuk selalu berpikir positif terhadap berbagai situasi. Tentunya kondisi ini tidak baik karena otak akan secara tidak sadar terhipnotis dengan saran tersebut sehingga akan berdampak kepada kinerja otakmu yang akan merespon suatu masalah mungkin akan menjadi baik-baik saja. Hal ini cepat atau lambat bisa mematikan respon kewaspadaanmu terhadap situasi atau kondisi buruk yang akan menimpamu.

Memberikan kata positif kepada seseorang yang sedang memiliki suatu masalah bukan seketika menjadikan orang tersebut dapat berpikiran positif seperti apa yang kita harapkan. Menurut pernyataan Wood et.al (2009) dalam jurnalnya Psychological Science menyatakan bahwa memberikan kata-kata positif ke lawan bicara yang sedang terkena masalah dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai dan dinilai sebagai sikap meremehkannya.

Efek yang ditimbulkan lainnya adalah respon emosi negatif dalam dirimu akan sebisa mungkin diredam dengan saran-saran positif seperti diatas yang perlahan akan menimbulkan gangguan kesehatan mental pada dirimu seperti stress berkepanjangan. Ini bisa muncul akibat rendahnya sensitivitas otak kita dalam mengatasi emosi negatif baik itu yang ditimbulkan dari rasa sedih ataupun kecewa yang membuat otak kita terus-menerus berpura-pura bahagia sepanjang waktu.

Baca Juga : Body Positivy Malah Jadi Toxic Positivy

Dampak dari Toxic Positivity

Melakukan toxic positivity bisa menimbulkan beberapa dampak mulai dari yang ringan sampai berat diantaranya sebagi berikut.

1. Membohongi diri sendiri

Kamu akan berusaha memupuk rasa bahagia dan bersikap positif yang semu, ketika ini dibiarkan kamu akan cepat atau lambat akan semakin memicu stress. Dilansir dari Psychology Today berusaha untuk menyangkal dan membohongi emosi negatif akan berdampak pada  membuat emosi menjadi jauh lebih besar.

2. Hubungan negatif dengan orang lain

Ketika kamu terus-menerus menjadi pendengar yang buruk dengan selalu memberikan saran-saran positif tanpa mengetahui akar permasalahan lawan bicaramu maka kamu akan cepat kehilangan kepercayaannya. Hubunganmu akan menjadi negatif dan kamu akan cepat ditinggalkan karena kamu dianggap toxic baginya.

3. Mengisolasi diri

Dengan bersikap denial pada rasa negatif yang dirimu alami secara tidak sadar kamu akan kehilangan koneksi dan kontrol terhadap dirimu sendiri. Tidak mengenali diri sendiri merupakan salah satu penyebab ketidakbahagiaan dalam hidup, membohongi diri sendiri juga akan mempersulit kamu dalam bersosialisasi kedepannya.

Baca Juga: Body Positivity Malah Jadi Toxic Positivity

4. Menimbulkan rasa tidak percaya diri

Berusaha membohongi diri sendiri membuat kamu akan merasa tidak percaya diri. Hal ini terjadi akibat perasaan malu yang timbul akibat toxic positivity yang kamu lakukan pada dirimu sendiri. Pelaku toxic positivity akan menyangkal emosi negatif yang ada pada dirinya di depan orang lain. Mereka akan sering berkata seperti “bagaimana jika orang tau bahwa aku seperti ini… apa yang akan mereka pikirkan”. Ketika emosi negatif ini meluap, kamu umumnya pasti akan merasa malu dan berusaha sembunyi dari keadaan.

5. Stress berkepanjangan

Pelaku toxic positivity dalam jangka panjang akan mengalami stress, hal ini terjadi akibat perasaan menyangkal emosi negatif yang ada pada dirinya menyebabkan buruknya pengelolaan stress yang ia miliki. Padahal dengan menerima emosi negatif tersebut membuat kamu lebih bisa mengendalikan diri sehingga mengoptimalkan sistem pengelolaan stress yang tubuh kamu miliki.

Cara Mengelola Stres (Stress Management) 

Cara Menghilangkan Sifat Toxic Positivity

Pelaku toxic positivity bisa terjadi dalam situasi apa saja, agar tidak berkepanjangan kamu menjadi individu yang mengalami sifat toxic positivity berikut cara mengatasinya.

1. Mengenali diri sendiri

Coba lebih bisa mengenal dan menerima diri sendiri karena dengan begitu kamu akan bisa perlahan menerima emosi negatif yang masuk kedalam dirimu atau bisa meredam agar tidak menularkan emosi negatif pada orang lain dengan saran-saran psoitif yang kamu berikan tanpa mengetahui akar masalah lawan bicaramu.

2. Identifikasi cara berpikir kognitif

Kamu perlu mengingat segala pikiran negatif itu tidak selamanya berarti buruk. Kamu harus bisa mencoba untuk membedakan dan mengidentifikasi pikiran negatif dalam dirimu. Salah satu contohnya adalah kamu selalu berpikiran negatif terhadap orang asing, hal ini bagus karena bisa meningkatkan kewaspadaanmu dalam berkegiatan tetapi kamu perlu ingat tidak semua orang asing itu jahat dan akan menyakitimu.

3. Ekspresikan bentuk emosi

Ketika memiliki masalah kamu pasti pernah tidak didengar atau tidak mendapatkan saran yang solutif baik itu dari teman, pasangan, hingga keluargamu sendiri. Maka cobalah saat itu untuk mengekspresikan emosi yang ada pada dirimu kedalam sesuatu yang positif seperti berolahraga, menggambar, hingga menulis karena dengan menulis aku pribadi bisa menuangkan segala rasa bentuk emosiku kedalam artikel yang bisa mengantarkanku menjadi juara tiga di kompetisi blog yang diadakan Satu Persen, mungkin buat kamu yang tertarik, bisa baca artikel “Pertanyaan Hati yang Sulit Dijawab Logika”

Kalau kamu semua masih ngerasa kesulitan untuk berubah, itu hal yang wajar banget kok. Satu Persen disini siap memberikan berbagai macam solusinya lewat layanan online konseling yang langsung ditangani oleh ahlinya.

Di konseling ini kamu bakal dapet tes psikologi untuk tau gambaran kondisi kamu saat ini. Lalu kamu juga akan dapet asesmen mendalam untuk mengenali alasan kesulitan untuk berubah. Diakhir kamu bakal dapet worksheet dan terapi yang bakal disesuaiin sama hasil tes dan asesmen supaya bisa ngebantu kamu.

Untuk daftar layanan konseling ini kamu bisa klik gambar berikut ini:

Satu-Persen-Artikel--30--6

Kalau kamu ingin mengetahui kondisi kesehatan mentalmu akhir-akhir ini, kamu juga bisa mencoba Tes Sehat Mental ini ya. Segitu dulu, akhir kata aku punya pesan buat kamu semua, hidup tak selamanya berjalan baik-baik saja maka tak mengapa sesekali merasakan hal yang tidak baik-baik saja mungkin saja itu rintangan dan cara agar kamu semakin kuat menjalani hidup.

Langsung tonton video Satu Persen di bawah ini terkait toxic positivity. Jangan lupa buat terus pantengin informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Aku harap artikel ini bisa bermanfaat dan lewat membaca artikel ini bisa membuat kamu berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Thanks!

Referensi

Joanne V. Wood, W.Q. Elaine Perunovic, John W. Lee. 2009. Positive  self-statments: power for some, peril of others. Psychological Science. https://doi.org/10.1111%2Fj.1467-9280.2009.02370.x.

Lukin, K. 2019. Psychology Today. Retrieved April 10, 2020, from Psychology Today Web site: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-man-cave/201908/toxic-positivity-dont-always-look-the-bright-side.

Read More
judi

Kamu Tahu? Penyesalan Tidak Selamanya Buruk (Wajib Baca)

Dampak Positif Akibat Penyesalan
Apa Kamu Pernah Merasa Menyesal?

Pernah gak sih kamu semua, Perseners, yang membaca saat ini merasa menyesal saat mengambil sebuah keputusan?

Mulai dari keputusan yang mungkin terkesan sederhana, hingga yang begitu penting di kehidupanmu saat ini.

Seperti memilih jurusan yang salah, kesempatan yang salah, hingga bertahan dengan orang yang salah dan ternyata tidak ada gunanya, pernah?

Tidak berhenti sampai di situ saja, kamu juga pasti pernah akhirnya mengalami sebuah kekecewaan akibat kegagalan yang terjadi karena kesalahan saat mengambil sebuah keputusan di awal tadi.

Hal itu merupakan sebagian kecil dari perjalanan di hidupmu yang sudah membuatmu kecewa, malu, dan marah pada diri sendiri yang terakumulasi menjadi sebuah penyesalan berkepanjangan.

Selanjutnya pikiranmu akan diisi dengan berjuta-juta alasan seandainya, “Seandainya aku gak milih itu”, “Seandainya saja aku ambil tawaran itu”, dan beragam alasan seandainya yang malah membuatmu bingung pada dirimu sendiri.

Ingin marah terus menerus dengan diri sendiri rasanya malah semakin sedih, ingin memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri rasanya susah sekali akibat perasaan menyesal itu berdiam diri tak mau pergi.

Maka tak heran jika yang namanya pendaftaran itu berada di depan dan penyesalan itu datangnya belakangan, tapi apakah penyesalan itu wajar terjadi?

Sangat wajar, dan apakah setiap penyesalan berarti buruk? Nah di artikel kali ini aku akan membahasnya, maka simak terus hingga akhir ya.

Apa itu Penyesalan?

Sebelum membahas lebih jauh terkait penyesalan, berikut aku mau menjelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud penyesalan.

Menurut Psycnet, dari seorang psikolog sosial, menyatakan bahwa penyesalan adalah keadaan kognitif dan emosional yang menyakitkan karena menyesalkan sesuatu atas kelemahan, kehilangan, atau kesalahan.

Hal ini didukung dengan pernyataan dari Zeelenberg & Pieters (2007) di mana penyesalan merupakan emosi yang memberi arah pada suatu perilaku, di mana dapat digambarkan ketika sebuah ekspektasi yang kita miliki tidak sesuai pada kenyataan yang terjadi.

Rasa penyesalan juga dapat memancing rasa sedih muncul karena stimulus dari ingatan atau pengalaman tidak menyenangkan yang sedang kamu alami, misalnya saat kamu stres akibat salah dalam memilih sebuah jurusan ketika kuliah.

Padahal stresnya tentang salah jurusan tetapi tanpa sadar otak kamu dengan lancangnya malah mengingat sebuah kejadian di masa lalu, di mana sebenarnya bisa saja saat itu kamu memilih jurusan yang lain dan tanpa sadar keluar pernyataan dari dalam diri

“Kenapa ya waktu itu aku gak milih jurusan yang itu aja”.

Penyesalan menurut penelitian yang pernah aku baca juga memiliki dua karakteristik, yaitu penyesalan jangka panjang dan jangka pendek.

Penyesalan jangka pendek dapat muncul dari kesalahan yang kamu lakukan seperti saat kamu berbuat salah yang membuatmu dihukum oleh guru atau dosen, akhirnya kamu menjadi menyesal melakukannya lagi, penyesalan ini sering kita alami.

Kenapa disebut jangka pendek karena umumnya ini tidak bertahan lama sedangkan penyesalan jangka panjang kerap muncul dari tindakan yang tidak kamu lakukan seperti rasa sesal akibat kamu tidak pernah mencobanya, lalu timbul segudang pernyataan “Seandainya…” dalam pikiranmu.

Hal ini jauh lebih membekas ketika kamu tidak mencoba sama sekali, dibanding kamu mencobanya lalu gagal di kemudian hari.

Dampak Positif Akibat Penyesalan

Penyesalan sering dikaitkan dengan kegagalan, kekecewaan, dan perasaan negatif lainnya.

Tanpa kita semua sadari bahwa rasa sesal yang kita rasakan di masa lalu bisa menjadi kekuatan kita di masa depan, karena tidak selamanya penyesalan berarti negatif.

Berikut dampak positif akibat dari rasa sesal yang bisa kamu terapkan di kehidupan:

1. Mengetahui Kemampuan Diri Sendiri

Rasa sesal yang kamu alami baik itu kamu lakukan  atas dasar kesalahanmu sendiri ataupun tidak berani mencoba sesuatu, membuat kamu menjadi sadar akan kemampuan dirimu sendiri.

Penyesalan bisa saja timbul akibat kegagalan yang sudah kamu lakukan. Hal ini akan membuatmu semakin kenal dengan dirimu sendiri, kian meningkatkan self knowledge, self love, dan self care  pada dirimu. Kamu bisa mencoba tes super power check untuk mengenal kelebihan dan kekuatan diri kamu lebih dalam.

Dengan mengenal kemampuan yang kamu miliki, harapannya kamu jadi semakin memaksimalkan potensi yang ada pada dirimu kedepannya.

2. Meminimalisir Kegagalan

Penyesalan yang kamu alami akibat kekecewaan ataupun kegagalan di masa lalu, bisa kamu jadikan evaluasi sebagai bentuk pembelajaran untuk masa depan.

Hal ini bisa membantu kamu ketika mencoba suatu hal yang sama, di mana kamu dapat meminimalisir risiko kegagalan yang ada.

Contohnya, seperti ketika kamu sedang dihadapkan pada ujian tengah semester pada salah satu mata kuliah, nilai kamu sangat rendah akibat kurangnya persiapan yang kamu miliki, maka di ujian akhir semester nanti kamu bisa melakukan evaluasi untuk menyiapkannya dengan matang, agar nilai yang kamu dapatkan bisa semakin berkembang.

3. Mempunyai Sudut Pandang Baru

Penyesalan juga dapat membantu kamu untuk bisa melihat suatu permasalahan baik itu kegagalan ataupun kesalahan di masa lalu, dengan berbagai macam sudut pandang.

Hal ini dapat mempermudah langkahmu ke depannya untuk dapat mengambil sebuah keputusan karena di awal tadi kamu memiliki beragam sudut pandang sehingga kamu bisa jadi jauh lebih matang dalam mengambil sebuah keputusan.

Cara Mengatasi Rasa Menyesal Berlebih

1. Menerima dan Akui Kesalahan

Cara yang paling ampuh dalam mengatasi rasa menyesal berlebihan adalah dengan menerima rasa sesal itu dan akui kesalahan yang membuat penyesalan itu muncul.

Hal ini akan membuatmusadar yang akhirnya kamu dapat lebih mengenal diri sendiri, mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirimu, sehingga harapannya kamu dapat mengevaluasi diri agar tidak mengulanginya lagi.

2. Mengubah Self-Talk Negatif

Ketika penyesalan muncul dalam diri, seringkali pikiran secara tidak sadar mengasosiasikan kata-kata negatif untuk kita konsumsi atau sering disebut self-talk negatif.

Seperti “Masa gini aja gak bisa sih”, “Apa sih yang kamu bisa?”, “Gagal mulu tiap lakuin sesuatu”, dan self-talk negatif lainnya.

Hal ini jika terus menerus dilakukan akan membuat self-love-mu menjadi rendah. Kamu semakin tidak percaya diri, menggerus harga diri, dan akhirnya kamu akan sulit berkembang setiap harinya.

Ubah self-talk negatif menjadi positif seperti “Yauda gapapa lain kali di coba lagi”, “Semangat kamu sudah cukup keras mencoba”, dan lainnya, tapi bukan toxic positivity.

Memang tidak mudah tapi harus kamu coba, agar membuatmu bangkit dari keterpurukan.

3. Melihat Perspektif atau Sudut Pandang Baru

Ketika mengalami penyesalan, perspektif dan sudut pandangmu dalam melihat masalah tersebut tak jarang negatif.

Maka coba ubahlah perspektif penyesalan ini sebagai suatu pelajaran. Pahami dan pelajari keputusan apa yang akhirnya membuatmu menyesal, sehingga ke depannya nanti kamu bisa mengambil keputusan yang tepat.

4. Evaluasi Diri

Setelah melakukan tiga cara di atas, selanjutnya adalah melakukan evaluasi pada diri sendiri dengan melakukan berbagai macam perbaikan tanpa menunda-nundanya.

Semisal kamu memiliki salah pada seseorang sehingga hubunganmu menjadi terpecah yang akhirnya kamu merasa menyesal melakukannya, maka segeralah meminta maaf dan perbaiki hubunganmu dengannya.

Karena biasanya, jika rasa penyesalan yang dirasa cukup dalam, maka bukan hanya orang lain yang kamu sakiti tetapi dirimu sendiri, maka jangan menunda-nunda untuk bisa memaafkan diri sendiri.

5. Mencoba Lagi

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, maka ketika kamu gagal, menyesal lah karena itu wajar, tetapi secukupnya saja.

Kemudian bangkit untuk terus mencobanya lagi dan lagi, karena Cristiano Ronaldo, pemain bola terbaik kelas dunia saja pernah mengalami yang namanya gagal dalam karirnya tapi karena kerja kerasnya, dia bangkit dari kegagalan, ia mampu menjadi seperti saat ini.

Memang kamu bukan Cristiano Ronaldo tapi kamu tak perlu menjadi dia, kamu cukup menjadi versi terbaik dari dirimu sebelumnya.

Penyesalan memang wajar kamu alami, tapi jangan sampai penyesalan yang kamu rasakan berlarut-larut berdiam di dalam diri.

Sulit memang jika masalah yang kamu alami begitu beratnya, tetapi sulit bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan, kamu harus mampu bangkit dan melanjutkan hidup. Jika kamu merasakan penyesalan yang berlarut-larut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, aku menyarankan kamu bertemu psikolog dengan mengikuti konseling di Satu Persen. Kamu akan dibantu menemukan solusi yang tepat supaya tidak berlarut-larut dalam penyesalan.

Segitu dulu dari aku, akhir kata aku mau menutup artikel ini dengan pernyataan yang coba aku rangkai untuk kamu yang mungkin saat ini sedang merasa gagal atau menyesal akibat ditinggal oleh orang tersayang.

“Hidup akan terus berjalan maka bangkitlah dari keterpurukan akibat rasa penyesalan, ingat segala sesuatu hal yang berlebihan itu dapat merugikan. Jadikan itu semua pembelajaran untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan”.

Kalau kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut seputar cara mengatasi rasa penyesalan berlebihan, tonton video Satu Persen berikut ini video menghadapi penyesalan.

Jangan lupa untuk terus mengikuti informasi dari kita dengan follow instagram Satu Persen di @satupersenofficial. Aku harap lewat membaca artikel ini bisa membuat kamu berkembang menjadi lebih baik, seenggaknya Satu Persen setiap harinya. Thanks!

kelas-online-memaafkan-berdamai-diri-sendiri

Referensi

Gilovich, T., & Medvec, V. H. 1994. The temporal pattern to the experience of regret. Journal of  Personality and Social Psychology. 67(3): 357-365. https://doi.org/10.1037/0022-3514.67.3.357

Zeelenberg, M, & Pieters, R. 2007. A theory of regret regulation 1.0. Journal of Consumer Psychology. 17(1): 3-18. Diunduh dari https://www/tilburguniversity.edu/upload/ea

Read More
judi

Kenalan sama Eustress, Stres Positif yang Bisa Mengatasi Stres Buruk

kenalan dengan eustress
Satu Persen – Kenalan sama Eustress

Halo Perseners! Perkenalkan namaku Nadya, salah satu Blog Writer di Satu Persen.

Aku mau tanya nih, siapa di antara kalian yang saat ini sedang merasa stres? Atau apakah di antara kalian ada yang baru saja dicurhatin sama orang terdekat tentang betapa stresnya mereka?

Beberapa dari kita mungkin berangapan bahwa stres merupakan hal yang buruk. Ternyata nih Perseners, hal itu tidak 100% benar karena ada stres yang malah bisa memberikan dampak positif pada diri sendiri lho, namanya eustress.

Nah, kalau kamu baru pertama kali dengar tentang eustress, artikel ini cocok banget untuk kamu tahu lebih lanjut tipe stres positif ini. Dalam artikel ini, kita akan bahas mengenai sebenarnya apa itu eustress, efek positif dari eustress hingga cara mendapatkan jenis stres yang positif ini. Simak terus ya, Perseners!

Pengertian Eustress

pengertian eustress
Cr. Freepik

Stres itu sebenarnya seperti spektrum yang memiliki dua kutub. Ada stres pada kutub negatif (distress) dan stres pada kutub positif (eustress). Eustress atau yang dikenal dengan stres positif adalah respons tubuh terhadap antusiasme dari tantangan yang sedang kita hadapi. Seperti stres lainnya, eustress juga bekerja dengan cara meningkatkan kinerja sistem saraf pusat dan membuat kita lebih waspada.

Tipe stres ini sangat dibutuhkan agar kita terus berusaha berkembang. Ketika mengalami stres positif, kita akan cenderung menjadi lebih produktif, proaktif, dan termotivasi untuk mencapai target atau menyelesaikan sesuatu. Meskipun kita menghadapi tekanan, adanya sumber dari hal-hal kesukaan membuat kita merespon dengan perasaan excited dan bersemangat.

Jika Perseners penasaran dengan tingkat stresmu saat ini, kamu bisa coba ikuti Tes Tingkat Stres ini. Berikutnya, kita bakal bahas efek positif dari eustress. Langsung cek bagian selanjutnya!

Efek Positif dari Eustress

efek positif eustress
Cr. Freepik

Menurut seorang psikolog bernama Dr. Kara Fasone, stres positif bernama eustress merupakan tantangan untuk diri sendiri agar dapat berkembang dalam tiga aspek ini :

1.Emosional

Eustress dapat memberikan perasaan positif pada diri sendiri, seperti merasa bangga, puas, terinspirasi dan termotivasi. Contohnya, ketika kamu mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam sebuah proyek baru dan dituntut untuk mempelajari hal baru yang menarik bagimu.

Kamu akan merasa bangga karena dapat terpilih, termotivasi untuk dapat melakukannya dan akan merasa puas ketika berhasil mengerjakannya. Bahkan, hal ini dapat memberikan dampak positif pada kinerjamu dan memungkinkan kamu untuk meningkatkan karirmu lho.

emosional
Cr. Funnylax

2. Psikologis

Manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa ingin tahu dan kemampuan untuk belajar. Ketika akhirnya kamu memahami dan melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan, maka ini bisa membangun pikiran bahwa diri sendiri layak dalam mempelajari hal baru. Sehingga kamu akan lebih percaya diri, ‘tahan banting’ dan cepat beradaptasi dengan lingkungan.

3. Fisik

Eustress, si stres positif, dapat membantu membentuk tubuh melalui keinginan untuk berolahraga dan sering bergerak sehingga dapat meningkatkan fokus dan menurunkan tingkat distress-mu, lho. Kamu juga dapat menjadi lebih sehat karena terhindar dari berbagai jenis penyakit yang timbul karena distress seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.

Baca Juga: Olahraga: Cara Ampuh Menghilangkan Stres.

Cara Meningkatkan Eustress

cara meningkatkan eustress
Cr. Meme

1.Mengubah perspektif ketika menghadapi masalah

Perubahan perspektif memungkinkan dirimu melakukan manajemen stres. Contohnya, ketika terdapat hambatan dalam menyelesaikan suatu tugas, cobalah untuk berpikir bahwa itu merupakan tantangan yang dapat memberikan pelajaran baru. Pemikiran bahwa itu merupakan suatu tantangan yang dapat kamu lalui akan meningkatkan antusiasme dan menimbulkan eustress.

2. Keluar dari zona nyaman

Eustress dapat timbul dari hasil usaha kita untuk yang mencoba mengembangkan diri dengan keluar dari zona nyaman. Cobalah untuk mempelajari hal-hal baru atau hal lama yang sudah tidak pernah kamu lakukan lagi. Tidak perlu langsung dalam hal yang besar, paling tidak mencoba 1% setiap harinya sudah menjadi sebuah langkah dalam prosesmu. Kalau Perseners mau tahu lebih lanjut cara keluar dari zona nyaman,

Baca Juga: Keluar Dari Zona Nyaman, Perlu Gak Sih? (Cara Keluar Dari Zona Nyaman)

3. Coba buat target

Eustress akan sangat berguna dalam proses mencapai target. Dengan adanya target dalam hidupmu, kamu akan lebih merasa tertantang dan termotivasi untuk terus berkembang. Kemudian, ketika kamu berhasil mencapai targetnya, kamu akan merasa bangga pada diri sendiri dan menjadi lebih optimis.

buat target
Cr: Meme Arsenal

4. Kenali batasan kemampuan diri

Dengan mengenali kemampuan dirimu sendiri, kamu dapat menentukan target dan keluar dari zona nyaman tanpa perlu memaksakan diri. Jika kamu terlalu memaksakan diri, nanti kamu malah akan merasa tertekan dan beralih ke distress.

Kalau Perseners mau tahu lebih lanjut mengenai bagaimana tahapan stres secara umum dan bagaimana mengelolanya, tonton video berikut ya.

Jika kamu masih merasa belum mengenal kemampuan diri sendiri dan cara meningkatkan eustress dalam permasalahan hidup, boleh banget coba mentoring di Satu Persen. Para mentor profesional bakal senang hati menemani dan membantumu melalui proses pengenalan diri. Klik banner di bawah ini ya!

CTA-Blog-Mentoring-5-5

Jadi Perseners, aku harap setelah ini kalian tidak langsung memberi label buruk pada stress dan masalah yang kamu hadapi. Karena bisa jadi hal itu malah akan membawamu ke hal yang lebih baik nantinya.

Semoga artikel tentang stres positif bernama eustress ini bermanfaat untuk kalian, Perseners. Sampai jumpa di artikel lainnya.

Referensi :

Lindberg, Sara. (2019, January 3). Eustress: The Good Stress. healthline. Retrieved from : https://www.healthline.com/health/eustress

Mental Health Foundation. (2021, September 17). Stress. Retrieved from : https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/s/stress

Scott, Elizabeth. (2020, September 27). Why Eustress Can Be Your Friend. verywellmind. Retrieved from : https://www.verywellmind.com/what-you-need-to-know-about-eustress-3145109

Wack, Margaret. (2021, 17 November). Eustress vs Distress: Good or Bad?. betterhelp. Retrieved from: https://www.betterhelp.com/advice/stress/eustress-vs-distress-vs-stress-how-to-know-the-difference/

Read More
judi

5 Dampak Buruk Menahan Amarah, Kenapa Nggak Boleh Menahan Amarah?

dampak buruk menahan amarah
Satu Persen – Dampak Menahan Amarah

Apakah kalian pernah mengalami hari yang buruk, tapi tetap memperlihatkan raut bahagia ke orang sekitar? Bagi sebagian orang, hal ini dilakukan agar mereka terlihat kuat di mata orang lain. Padahal, segala emosi negatif akan berdampak buruk kalau ditahan dalam diri seseorang.

Emosi negatif bisa mencakup banyak hal, mulai dari rasa frustasi, marah, hingga kekecewaan. Namun, ketika emosi negatif itu lepas dari dalam diri kita, seringkali kita disalahkan atas perilaku tersebut.

Misalnya ketika sedang bersedih, biasanya orang di sekitar menyuruh untuk diam dan menghapuskan air mata kita. Begitu juga rasa marah yang sering dilihat buruknya saja. Seakan-akan, kita harus selalu berbuat baik di depan seseorang setiap saat.

Hal inilah yang membuat seseorang takut untuk bercerita tentang perasaannya. Sehingga, akhirnya lebih memilih untuk menahan rasa marahnya agar ngga menyinggung orang lain.

dampak buruk menahan amarah
Sumber: liputan6.com

Meski bukan berarti rasa marah harus selalu dilakukan, ada cara untuk mengekspresikannya dengan baik dan benar. Oleh karenanya, aku Fathur sebagai Part-time Blog Writer Satu Persen akan menjelaskan dampak buruk menahan amarah dan cara mengatasinya. Simak sampai akhir, ya!

Baca juga: Mengenal Duck Syndrome: Terlihat Tenang Meski Sebenarnya Tertekan

5 Dampak Buruk Menahan Amarah

1.Menjadi mudah sensitif

menjadi mudah sensitif
Sumber: memegenerator.com

Pernah ngga ngerasa kalau sedang memendam amarah bawaannya bad mood terus? Hal ini sudah pasti akan berdampak buruk bagi sekitar, terlebih buat diri sendiri. Terkadang, seseorang yang ngga bersalah pun akan terkena dampak dari bad mood akibat sering menahan rasa marah.

Seseorang yang menahan rasa marah akan merasakan kesedihan, kekesalan, dan frustasi. Kebayang kan kalau emosi ini ngga disalurkan? Nah, berbagai perasaan tersebut juga dapat membuat kondisi psikis menjadi lebih sensitif, khususnya ketika menghadapi komentar dari seseorang hingga hal remeh-temeh lainnya.

Saat melakukan komunikasi, kamu bisa mudah terprovokasi karena menemukan satu atau dua hal yang menyinggung. Selain itu, perasaan tersebut dapat membuat emosi negatif menumpuk. Dampaknya pun akan memicu konflik semisal kamu ngga kuat untuk menahannya.

2. Pasif-agresif

Dampak menahan amarah berikutnya adalah menumbuhkan sifat pasif-agresif. Perilaku ini merupakan cara seseorang untuk mengekspresikan emosi negatif kepada seseorang. Misalnya ketika memendam rasa marah, orang yang pasif agresif bisa berubah menjadi lebih diam hingga membuat lawan bicara menyadari kesalahannya.

Sementara itu, seseorang yang mengalami perilaku pasif-agresif juga bisa terungkap lewat tindakan atau kata-katanya yang sering menyinggung seseorang. Mereka cenderung ingin dipahami oleh orang lain, namun jarang untuk memikirkan perasaan orang lain.

Baca juga: Cara Mencegah Penyesalan dalam Hidup

3. Sulit berkonsentrasi

sulit berkonsentrasi
Sumber: twitter.com

Jika rasa marah ngga dikelola dengan baik, maka dampaknya bisa melebar terhadap kondisi fisik dan mental kalian. Terlebih bagi seseorang yang sering memendam emosi, biasanya sulit fokus dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya, sulit fokus dalam berkonsentrasi dalam mengerjakan pekerjaan. Akibat kurangnya konsentrasi membuat pekerjaan selesai dua kali lebih lama. Menahan emosi membuat seseorang sulit merasakan hal positif dalam kehidupannya. Oleh karenanya, pikiran pun sulit untuk dipakai untuk menghasilkan ide positif ketika ingin berkonsentrasi.

4. Berpotensi terkena depresi

Rasa marah sering kita jumpai ketika sedang kesal dengan suatu hal. Emosi ini akan menjadi berbahaya jika ditahan dan menumpuk dalam diri. Terutama ketika rasa marah ini membuat seseorang menjadi sering memikirkan hal-hal negatif dalam dirinya.

Ketika seseorang menahan rasa marah, maka hormon adrenalin dan kortisol akan bertambah secara konstan. Hormon ini Hal ini berperan untuk meningkatkan perubahan detak jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Lalu, perubahan metabolisme yang berpotensi merusak sistem tubuh, seperti gangguan depresi dan kecemasan.

Seseorang yang mengalami depresi sangat rentan terhadap tertekan, dan akhirnya seakan kehilangan daya dan upaya untuk melakukan aktivitas. Jika kamu sendiri masih menahan rasa marah tersebut, maka hal itu hanya bisa memperpanjang rasa depresi.

Baca juga: Kenalan sama Eustress, Stres Positif yang Bisa Mengatasi Stres Buruk

5. Memengaruhi kepercayaan seseorang

memengaruhi kepercayaan seseorang
Sumber: pinterest.com

Apakah kalian pernah nemuin temen yang hanya menjawab “aku gak apa-apa kok” ketika ditanyakan terkait kondisinya?  Padahal, terlihat jelas adanya perbedaan dari raut wajah dan perlakuan yang tak seperti biasanya. Tentu hal seperti ini akan membuat kita bingung sebagai teman. Apakah mereka butuh pertolongan atau kita diamkan saja?

Ditambah, jika teman sendiri ngga mengatakan yang sejujurnya kepada kamu, maka tentu ini akan memengaruhi tingkat kepercayaan kamu terhadapnya. Pada tahap ini, lebih baik kamu anjurkan sang teman untuk mengatakan yang sejujurnya. Dengan begitu, kamu bisa lebih menerima dan memberikan waktu untuk dia memikirkan perilakunya.

Cari Tahu Cara Mengatur Amarah dengan Konseling Online

cara mengatur amarah
Sumber: memegenerator.com

Perlu diketahui bahwa emosi negatif seperti munculnya rasa marah ngga akan selalu menimbulkan masalah. Kamu hanya perlu memahami cara mengatasinya. Apabila emosi itu menjadi destruktif bagi diri sendiri, ada kemungkinan hal ini bakal menyerang kesehatan mental dan fisik.

Banyak cara yang bisa kamu pakai untuk mengatur amarah negatif tersebut. Salah satunya dengan cara mengekspresikan kemarahan kamu. Namun, ada cara lain yang aku sangat rekomendasikan, yaitu konseling di Satu Persen.

Konseling adalah layanan konsultasi one-on-one dengan psikolog Satu persen, di mana kamu juga bisa belajar  mengelola atau mengatasi emosi negatif yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Nah, tunggu apa lagi, Perseners? Yuk, mulai lebih paham dengan diri sendiri melalui konseling dari Satu Persen. Kalian bisa KLIK banner di bawah untuk informasi lebih lanjut.

CTA-Blog-Post-06-1-16

Selain itu, kamu juga bisa coba tonton video YouTube Satu Persen yang ini untuk semakin paham tentang cara menghilangkan kebiasaan buruk dalam keseharian kita

Sebelum pamit, aku sarankan kamu untuk mencoba tes tingkat keparahan stres  dari Satu Persen. Dengan begitu, kamu bisa paham kondisi kamu saat ini, Perseners!.

Okay deh, aku Fathur dari Satu Persen mengucapkan selamat menjalani #Hidupseutuhnya.

Referensi:

Al Baqi, S. (2015). Ekspresi Emosi Marah. Buletin Psikologi, 23(1), 22. https://doi.org/10.22146/bpsi.10574

Cuncic, A. (2021). No Title. Verywellmind.Com. https://www.verywellmind.com/connection-between-depression-and-anger-5085725

Quraini Nurvidha. (2021). Kenalan sama Gejala Gangguan Depresi. Satupersen.Net. https://satupersen.net/blog/gejala-gangguan-depresi

Hammond, C. (2014). Is it bad to bottle up your anger? Bbc.Com. https://www.bbc.com/future/article/20140729-is-it-bad-to-bottle-up-anger

Litner, J. (2020). It’s Tempting to Mask Your Emotions, but It Won’t Do You (or Anyone Else) Any Favors. Healthline.Com. https://www.healthline.com/health/mental-health/hiding-feelings

Read More